UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Giliran Islam Asia Tenggara: Peradaban Islam Masa Depan

Mengingat Islam di kawasan ini sering dipandang sebelah mata oleh para peneliti asing, karena posisinya yang terletak di pinggiran dari jantung Islam. Akan tetapi, Asia Tenggara dengan penduduk mayoritas Muslim, kini tengah menjadi primadona bagi kajian Islam karena wataknya yang berbeda dengan wilayah lainnya.

 Topik konferensi kali ini yaitu “Islam Yang Berkemajuan: Capaian, Tantangan dan Strategi,” sebuah topik yang sangat relevan dengan perkembangan Islam dalam percaturan global. Dalam pandangan saya, topik ini dapat diterjemahkan dengan bagaimana membangun peradaban Islam di Asia Tenggara di tengah-tengah perkembangan peradaban dunia saat ini.

Pertama, pada awal abad ke-20, sejarawan Jerman, Oswald Spengler, telah meramalkan bahwa Barat dengan budaya Faustiannya (Faustian culture) akan segera mengalami keruntuhan (decline). Yang demikian itu karena, seperti watak Faust, masyarakat Barat telah menggadaikan jiwa demi kekuasaan dan teknologi. Faust telah menggadaikan jiwa dan spiritnya kepada Iblis untuk meraih kekuasaan material, dan mengabaikan nilai-nilai spiritual yang menjadi kebutuhan hakiki manusia. Masyarakat Barat, kata Spengler, juga telah melakukan tindakan serupa, sehingga mereka kehilangan spiritualitas mereka sendiri. Mereka mencari-cari spiritualitas baru dari belahan lain, yang bisa jadi akan meminggirkan karakter mereka sendiri. Inilah yang banyak disebut oleh para ahli sebagai “krisis spiritual” (spiritual crisis) masyarakat Barat modern.

Kedua, setiap peradaban memiliki masa kelahiran, kematangan dan keruntuhan, setelah menjalani rentang waktu tertentu. Lebih jauh, keruntuhan suatu peradaban digantikan oleh peradaban lain di tempat yang berbeda. Sejarah menunjukkan bagaimana peradaban Yunani berpindah ke Persia, lalu ke Romawi, dan dari Romawi pindah ke Islam, dari Islam pindah ke Eropa dan Amerika. Karena itu, keruntuhan Barat yang diramalkan Spengler di atas, membuka peluang bagi wilayah lain untuk menjadi pusat peradaban dunia.

Ramalan Spengler di atas nampaknya kini mendekati kebenaran, mengingat sejumlah studi menunjukkan bahwa tanda-tanda akan kebangkrutan Barat sudah semakin benderang. Salah satunya dikemukakan oleh Prof. Kishore Mahbubani dalam karyanya yang berjudul The New Asian Hemisphere: The Irresistible Shift of Global Power to East (Belahan Asia Baru: Peralihan Kekuatan Global ke Timur Yang Tak Dapat Ditolak) (New York: Public Affairs, 2008). Dalam pandangan Mahbubani, Barat sesungguhnya bukan belahan dunia yang besar jika dilihat dari sisi demografis. Bila penduduk Eropa dan Amerika dijumlahkan, seluruhnya hanya akan mencapai 30% dari seluruh penduduk dunia, sehingga mereka tidak bisa mengklaim sebagai “penguasa” umat manusia. Lebih jauh, meskipun Barat superior dalam berbagai bidang, seperti institusi, sistem sosial-politik, industri, pendidikan, dan inovasi teknologi, superioritas itu kini mendapat tantangan dari Timur yang tengah berkembang pesat. Bahkan tujuh pilar peradaban Barat modern, yaitu ekonomi pasar bebas, sains dan teknologi, meritokrasi, pragmatism, budaya damai, aturan hukum dan pendidikan, semua itu telah mampu diadaptasi oleh Timur dengan nilai-nilai normal dan etika mereka sendiri.

Mahbubani menguraikan lebih jauh bahwa kekuatan Barat modern tidak lagi mampu mempertahankan nilai-nilainya sendiri dan cenderung mengedepankan kepentingan jangka pendek. Salah satunya adalah nilai demokrasi dan hak asasi manusia, yang mereka kampanyekan, akan tetapi, tidak jarang, mereka sendiri melakukan sikap anti-demokrasi dan HAM untuk mencapai sasaran jangka pendek mereka. Seperti dikemukakan George Kennan, seorang arsitek utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat, “Setiap pesan yang kita bawa kepada orang lain hanya akan efektif jika pesan itu sesuai dengan nilai-nilai kita sendiri.” Karena itu, menjadi lucu jika mereka setiap tahun membuat laporan tentang HAM di setiap negara, sementara mereka sendiri sebagai pelanggarnya. Demikian pula dalam bidang pasar bebas. Mereka mengkampanyekan pasar bebas, tetapi ketika serangan dari Timur datang, justru mereka membangun benteng, seperti Masyarakat Ekonomi Eropa, G-8 dan sebagainya, yang perwakilannya didominasi oleh negara-negara Barat. Begitu juga dengan kebijakan pengembangan tenaga nuklir, yang hanya boleh dimanfaatkan oleh Barat dan sekutunya. Dengan kata lain, dunia tidak lagi menaruh trust terhadap kekuatan Barat modern dan kekuatan mereka menjadi tidak efektif karena tidak sejalan dengan nilai-nilai mereka sendiri.

Pandangan serupa tentang keruntuhan Barat juga dikemukakan oleh Michael Cox (2012). Dalam artikelnya berjudul “Power Shifts, Economic Change and the Decline of the West” (Peralihan Kekuatan, Perubahan Ekonomi dan Keruntuhan Barat), Cox menegaskan bahwa dunia Barat akan kehilangan dominasinya dengan segera adalah kebenaran baru abad ke-21. Ini akan digantikan oleh sistem internasional baru yang meliputi Brasil, Rusia, India, China dan lainnya (yang disingkat dengan BRICs). Secara ekonomi, dominasi Barat kini telah beralih ke China dan negara-negara Asia lainnya, sehingga tidak heran jika abad ke-21 digadang-gadang sebagai “Abad Baru Asia” (Asian Century). Sementara itu, dalam bidang kekuatan, Barat juga semakin kehilangan legitimasi. Barry Buzan, dalam “Leadership without Followers” (Kepemimpinan Tanpa Pengikut) (2008), menegaskan bahwa klaim Amerika sebagai masa depan yang menjanjikan kini justru menjadi kutukan. Model Amerika tidak lagi menjadi pujian yang disanjung, sebab sejumlah negara yang mengikutinya malah tumbang lebih duluan. Hegemoni Barat kini lebih illegitimate dalam masyarakat internasional, sehingga posisi Barat di dunia semakin rapuh. Yang lebih penting lagi, kekuatan kekerasan (hard power) tidak lagi menjadi pilihan masyarakat internasional, seperti sering dilakukan oleh negara-negara Barat. Sebaliknya, mereka lebih menghendaki kekuatan baru yang lebih lembut (soft power) dalam mengatasi persoalan-persoalan internasional.

Robert Kappel, dalam “The Decline of Europe and the US: Shifts in the World Economy and in Global Politics” (Keruntuhan Eropa dan Amerika: Peralihan dalam Ekonomi Dunia dan Politik Global) (2011), juga memberikan penilaian serupa. Menurutnya, Amerika sesungguhnya telah kehilangan statusnya sebagai penyandang hegemoni, khususnya dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan industri, di samping rendahnya investasi dan stagnasi teknologi. Produk-produk Amerika kini tidak lagi menjadi pilihan utama, tetapi telah digantikan oleh produk-produk Asia atau lainnya. Dalam bidang kepemimpinan, seperti Cox, Kappel berargumen bahwa kepemimpinan tidak selalu bergantung pada kekuatan militer, tetapi juga pada kekuatan lembut (soft power) melalui jaringan diplomatik. Namun, kecenderungan terhadap yang pertama tampaknya masing sangat dominan dalam kebijakan luar negeri negara-negara Barat. Dan terbukti, penggunaan kekerasan tidak dapat menciptakan perdamaian di Timur Tengah, menghapuskan terorisme, menahan disintegrasi negara-bangsa tertentu dan kejahatan terorganisasi lainnya.

Kejatuhan ekonomi Barat, sebagai salah satu faktor utama peradaban, juga dikemukakan oleh Rober C. Shelburne dalam “The Decline of the West, Rise of the Rest: Preparing for the Challenges Ahead” (Kejatuhan Barat, Bangkitnya Yang Lain: Persiapan terhadap Tantangan ke Depan) (2010). Menurut Shelburne, salah satu faktornya adalah rendahnya produk domestik bruto (Gross Domestik Product) negara-negara Barat dalam beberapa tahun belakangan ini. Saat ini, GDP Eropa, misalnya, hanya sekitar 15%, yang berarti 85% lainnya berada di negara-negara non-Barat. Asia mencapai pada tingkat 2/3 dari seluruh GDP dunia, dan GDP China dan India bila digabungkan sudah melebihi GDP seluruh negara Eropa. Pertumbuhan ekonomi negara-negara non-Barat sebanding dengan tingkat pertumbuhan penduduknya, di mana jumlah penduduk negara-negara Barat saat ini hanya berkisar pada 15% dari seluruh jumlah penduduk dunia, 85% lainnya ada di kawasan lain. Kedua faktor ini telah menjadikan Barat mengalami penurunan dominasi dalam bidang ekonomi.

Uraian di atas mengantarkan kita pada satu pertanyaan, “Siapa yang akan menggantikan dominasi peradaban Barat di atas?” Seperti telah disinggung secara sepintas, jawaban atas pertanyaan tersebut mengarah kepada Asia (New Asian Century). Nial Ferguson (2010) berpendapat “setelah 500 tahun dominasi Barat, dunia ditakdirkan untuk kembali ke Timur.” Menurut Shelburne (2010), penurunan GDP sesungguhnya tidak hanya terjadi di Barat, tetapi juga di beberapa negara kawasan Amerika Latin dan Afrika. Kawasan yang GDP-nya terus meningkat adalah Asia, seperti China, India, dan negara-negara ASEAN. Saat ini, negara-negara Barat secara keseluruhan mengalami penurunan 14 poin, sementara Asia justru naik sebesar 17 poin. Dengan menguasai 2/3 dari seluruh GDP, Asia diprediksi akan dominan dalam bidang ekonomi dalam masa-masa mendatang.

Tidak diragukan lagi, China merupakan raksasa Asia saat ini. Dari sisi ekonomi, pada 2006, GDP China mengalami peningkatan 14 poin, sehingga mencapai 70 trilyun dolar Amerika, sementara Amerika hanya mencapai 30 trilyun dolar Amerika. Ini didukung oleh revolusi industri yang, dalam penilaian Prof. Ferguson, sangat besar dan cepat. Dalam bidang militer, kekuatan China juga semakin hari semakin ditakuti tidak hanya di kawasan, tetapi juga di tingkat global. Lebih jauh, kebijakan politik China lebih mengedepankan “kekuatan-lembut” (soft-power) melalui diplomasi dan jaringan sosial ketimbang “kekuatan-kasar” (hard-power) melalui kekuatan militer. Tidak heran, jika kebijakan tersebut disambut positif oleh negara-negara Asia, khususnya di kawasan Asia Tenggara dan Jepang (Jun Tsunekawa: 2009).

Menyusul China adalah India, yang kini tengah mempersiapkan diri mengambil alih dominasi Barat. Sebenarnya, keyakinan akan runtuhnya Barat telah dikemukakan oleh seorang pemikir terkemuka di anak benua ini, Sri Aurobindo. Ia percaya bahwa “India akan bangkit dari reruntuhan peradaban Barat” dan keyakinan itu kini mendekati kenyataan. Karena itu, R. Vaidyamatham, dalam artikelnya berjudul “Why India Needs to Prepare for the Decline of the West” (Mengapa India Perlu Mempersiapkan Diri atas Keruntuhan Barat) (2012), menganjurkan pemerintah India untuk menyusun strategi dalam menghadapi masa depan, dengan tidak lagi meniru Barat. Menurutnya, India bukan sekadar pasar, yang menjadi tempat penjualan produk-produk asing, tetapi juga sebuah peradaban.

Jika peradaban masa depan adalah Asia, bagaimana dengan Islam. Banyak yang menaruh harapan bahwa peradaban Islam baru dapat muncul dari Asia Tenggara karena beberapa alasan. Pertama, watak Islam Asia Tenggara berbeda dengan Islam di India Selatan dan Timur Tengah. Penyebaran Islam di Asia Tenggara via pacifica (melalui jalan damai) oleh para pedagang dan wali. Dampaknya, Islam di kawasan ini sangat akomodatif terhadap tradisi dan kearifan lokal, yang pada gilirannya juga mudah beradaptasi dengan gagasan-gagasan yang datang ke dalamnya. Pendeknya, Islam Asia Tenggara adalah Islam yang demokratis. Kedua, seperti disinggung di muka, Asia Tenggara juga sangat menjanjikan dengan pertumbuhan ekonomi dan politik yang lebih stabil ketimbang di kawasan lain, seperti Timur Tengah. Ini penting karena dengan jumlah penduduk yang besar, GDP Asia Tenggara juga akan meningkat, seperti dalam kasus China. Demikian pula dengan stabilitas politik, Asia Tenggara dapat menjadi tempat damai. Seperti dikemukakan Bassam Tibbi (1995), “kedamaian agama mengandaikan kedamaian domestik.” Dengan kata lain, Islam yang damai sudah semestinya menampilkan Asia Tenggara yang damai.

Pertanyaannya, bagaimana dengan munculnya Islam radikal di kawasan ini? Iik Mansoorn (2009: 222-262) berpendapat bahwa kemunculan gerakan-gerakan seperti itu umumnya lahir dari kawasan lain, yang dikenal gerakan transnasional, seperti Wahabisme, Salafisme dan sebagainya. Lebih jauh, gerakan-gerakan semacam itu hanya memperoleh tempat di kalangan kelompok kecil masyarakat. Karena itu, Islam radikal sesungguhnya bukan pola tetap Islam Asia Tenggara, tetapi sebuah anomali yang bersifat sesaat.

Berdasarkan watak Islam seperti itu, Fazlur Rahman (1984: 128) berpendapat bahwa masyarakat Muslim Asia Tenggara pada dasarnya bertemperamen demokratis, dan Islam yang berwatak demokratis dan toleranlah yang akan berhasil di masa mendatang. Harapan serupa dikemukakan Bassam Tibbi (1995), yang melihat Islam di Asia Tenggara dapat menjadi model bagi peradaban Islam dalam transisi menuju abad ke-21. Meskipun begitu, ia mengingatkan bahwa harapan seperti itu sepenuhnya bergantung pada Muslim yang hidup di kawasan ini, apakah akan memanfaatkan peluang tersebut, atau menyia-nyiakannya.

Inilah tanggung jawab kita sebagai Muslim Asia Tenggara. Kita diingatkan oleh al-Quran bahwa bangsa yang unggul memiliki tujuh karakter sebagai berikut (M. Quraish Shihab).

Kemantapan persatuannya, seperti diisyaratkan dalam al-Anfal: 46

وأطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهب ريحكم…

Adanya nilai-nilai luhur yang disepakati, seperti disebutkan dalam al-An‘am: 108

كذلك زينا لكل أمة عملهم …

Kerja keras, disiplin dan penghargaan kepada waktu, seperti dalam al-Insyirah: 5-6

وإذا فرغت فانصب وإلى ربك فارغب

Kepedulian yang tinggi, seperti dalam Ali Imran: 110

كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر…

Moderasi dan keterbukaan, seperti dalam al-Baqarah: 143

وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس…

Kesediaan berkorban, seperti dalam al-Baqarah: 213

كان الناس أمة واحدة …

Ketegaran menghadapi tantangan, seperti dalam al-Nahl: 92

ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمني

Jika kita mengikuti saran-saran al-Quran ini dan belajar dari pengalaman beberapa negara yang telah dikemukakan di atas, kita dapat membangun peradaban baru yang unggul. Karena itu, melalui konferensi ini diharapkan akan lahir gagasan-gagasan segar yang dapat merumuskan strategi pembangunan peradaban Islam di Asia Tenggara di masa yang akan datang. []

 

Disampaikan pada Pembukaan International Conference on Islam in the Malay World “Islam Yang Berkemajuan: Capaian, Tantangan dan Strategi” Hasil kerjasama Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Akademi Pengajian Islam University Malaya (APIUM), Kuala Lumpur Bali World Hotel.