UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Gelar Workshop Gender dan Anak di Era Revolusi Industri 4.0

ANAK yang saleh tidak dilahirkan secara alami, tetapi muncul dari hasil sebuah bimbingan dan pembinaan yang terarah dan terprogram. Oleh karena itu peran dan tanggung jawab orangtua dalam pola asuh anak sangat penting untuk membangun keluarga ideal.

Orangtua memiliki peran yang sangat penting dan tak tergantikan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama menghadapi era revolusi industri 4.0 (keempat) saat teknologi permainan dengan sangat mudah diakses dan dimainkan oleh anak melalui gawai.

Demikian topik yang menyeruak dari workshop gender dan anak bertajuk “Keluarga Masa Depan Perspektif Islam” yang diselenggarakan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN SGD Bandung di  Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor, Sumedang, Kamis (20/06/2019).

Kegiatan menghadirkan dua pembicara, yakni Mohamad Udin, S.Sos. (Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, KPPPA) dan Ala’i Nadjib, M.A. (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), dipandu oleh moderator, Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag. (Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN SGD Bandung).

Menurut Udin, pola asuh merupakan cara yang digunakan dalam usaha membantu anak untuk tumbuh dan berkembang dengan merawat, membimbing dan mendidik, agar anak mencapai kemandiriannya.

“Pada dasarnya pola asuh adalah suatu sikap dan praktik yang dilakukan oleh orang meliputi cara memberi makan pada anak, memberikan stimulasi, memberi kasih sayang agar anak dapat tumbuh kembang dengan baik,” jelasnya.

Udin menyarankan, salah satu upaya yang harus dilakukan orangtua ketika melihat anaknya sudah kecanduan permainan di gawau, maka segera mengadukannya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdekat, karena saat ini KPAI sejak Januari 2018 telah membuka layanan pengaduan bagi anak yang diduga kecanduan gawai.

Fleksibel

Sementara Ala’i Nadjib mengatakan, revolusi industri keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik, dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Ruang publik dan domestik boleh jadi tidak lagi menjadi hal penting pada revolusi industri yang mengandalkan kecerdasan buatan ini.

“Inilah era yang disebut dengan era digital teknologi, manusia satu sama lain saling terkoneksi, mudah berkomunikasi, fleksibel, cashless, dunia serbadaring,” katanya.

Menurutnya, pada era digital ini tidak ada lagi sekat publik dan domestik karena manusia menjadi bebas mengatur dirinya dari keterikatan formal struktural. Pada era ini,  lanjutnya, akan ada disrupsi (perubahan) fenomena kehidupan masyarakat. Perubahan dari konvensional menuju yang digital., termasuk transaksi dan pasar.

“Era digital ini sebenarnya membuat perempuan lebih fleksibel mengatur waktunya. Jika dahulu ranah aktulisasi perempuan  selalu dihubungkan dengan kesempatan keluar rumah, jarak menjadi batasan, maka era ini memungkinkan perempuan bekerja dari rumah,” ujarnya. (Nana Sukmana, Dadang Setiawan)

Sumber, Galamedia News 20 Juni 2019