UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Gaya Hidup Hijau

Peristiwa banjir bandang, kekeringan, gagal panen akibat cuaca tak menentu semakin sering mengisi pemberitaan media massa. Pemberitaan kian sesak dengan merebaknya dampak penyerta dari peristiwa tersebut seperti terganggunya ketahanan pangan, kelaparan, krisis air, berjangkitnya wabah penyakit, lumpuhnya perekonomian, terganggunya aktivitas pendidikan, dsb. Kondisi seperti ini juga terjadi di negara lain. Bahkan cuaca ekstrem dingin terjadi di belahan bumi utara dan cuaca ekstrem panas terjadi di belahan bumi selatan.Sedikitnya 460 penduduk Eropa Timur dan Barat meninggal akibat suhu yang sangat dingin, mencapai -28,6 derajat Celcius (Suara Karya, 11/2/12). Sebaliknya di Australia Selatan dan Victoria, suhu panas mencapai 43 derajat Celcius.Yang menyebabkan pembangkit listrik tidak mampu menahan beban sehingga ratusan ribu rumah padam listrik. Juga menyebabkan rel kereta api tak bisa dilewati karena melengkung. Dikuatirkan, kondisi ini lebih buruk dari kejadian serupa di Chicago pada 1995. Kala itu, 700 jiwa meninggal hanya dalam kurun tiga hari. Mengapa kondisi-kondisi di atas dapat terjadi?Iklim BerubahLaporan panel antarpemerintah tentang perubahan iklim (Intergovernmental Panel on C limate Change-IPCC) menyatakan bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh peningkatan suhu bumi telah nyata terjadi dan mengancam kelangsungan hidup semua makhluk di planet ini. Dalam rentang waktu 250 tahun, yaitu sejak revolusi industri tahun 1750 hingga tahun 2000, suhu bumi, telah naik sekitar 0,7 derajat Celcius . Diperkirakan menjadi sekitar 2 derajat Celcius pada tahun 2015. Dan akan terus meningkat hingga 4 derajat Celcius di akhir abad ini. Bila saat itu tiba, apa yang akan terjadi?Menurut Green Map, kenaikan suhu 2 derajat Celcius, akan menyebabkan 20 – 30 persen spesies tanaman dan hewan punah serta produksi pertanian di daerah tropis seperti jagung dan padi menurun (UNEP, 2007). Kenaikan suhu ini juga akan menghangatkan suhu laut. Jika kenaikan suhu global mencapai 4 derajat Celcius, maka lima juta penduduk Indonesia yang menggantungkan diri pada perikanan akan kehilangan hasil tangkapan akibat menurunnya potensi hasil tangkapan perikanan.Juga menyebabkan penurunan produksi pertanian hingga lima persen akibat kekeringan. Naiknya permukaan laut akibat melelehnya salju di kutub menyebabkan intrusi air asin sehingga terjadi krisis air tawar. Bahkan beberapa pesisir dan pulau akan tenggelam. Di bidang kesehatan, akan memunculkan serta memperberat penyakit – penyakit yang berhubungan dengan panas, termasuk stress, stroke, dan gangguan kardiovaskular.Demikian juga penyakit dengan vector seperti demam berdarah dan malaria. Apakah kita berdiam diri saja menunggu saat itu tiba? Semestinya tidak. Sebagai penghuni bumi, kita wajib menjaga bumi. Caranya?SikapNaiknya suhu bumi disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi. Ada banyak ragam GRK, salah satunya adalah gas karbondioksida (CO2) yang berasal dari aktivitas manusia, terutama yang membutuhkan dan membakar bahan bakar fosil (seperti minyak, gas bumi, batu bara, dsb).Saat ini, konsentrasi GRK di atmosfer sekitar 430 ppm CO2e (ekivalen) meningkat 150 persen dibandingkan sebelum revolusi industri yang hanya 280 ppm. Dikhawatirkan terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas manusia, sikap konsumtif, dan kebutuhan energi, sementara daya serap CO2 justru menurun dengan meluasnya penebangan dan pembakaran pepohonan serta perubahan penggunaan lahan.Mencermati kondisi di atas, kita dapat melakukan mitigasi guna menghambat bertambahnya konsentrasi CO2. Salah satu caranya dengan bergaya hidup hijau. Berikut beberapa aktivitas “hijau” untuk “mendinginkan” bumi : Pertama, menghemat penggunaan listrik dengan cara mematikan listrik jika tidak digunakan, tidak meninggalkan alat elektronik dalam keadaan standby, mencabut charger HP dari stop kontak, mengganti bohlam lampu ke jenis CFL yang lebih hemat listrik dan awet, membersihkan lampu karena debu dapat mengurangi tingkat penerangan hingga 5%, gunakan timer untuk peralatan elektronik, mengeringkan rambut/pakaian dengan matahari daripada dengan dryer. Jika terpaksa memakai AC, tutuplah pintu dan jendela selama AC menyala, aturlah suhu sejuk secukupnya (21-24 derajat Celcius).Kedua, biasakan berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan kendaraan Pemakaian kendaraan bermotor menyumbang hampir seperempat emisi GRK di Indonesia atau sekitar 72 juta ton CO2 per tahun.Ketiga, menanam pohon di halaman rumah, sekolah dan lingkungan serta mereduksi penggunaan produk kayu (misal. Kertas, kertas tissue, dsb). Diperkirakan 15 tahun ke depan, hutan hujan Indonesia sudah habis akibat pembalakan liar dan pengalihfungsian menjadi perkebunan kelapa sawit untuk bahan bakar nabati.Keempat, menghemat serta mendaur ulang penggunaan plastik karena proses produksinya memerlukan energi fosil yang besar sementara sampah plastik sulit terurai. Bila dibakar, menghasilkan gas berbahaya.Kelima, mengurangi makanan berbahan daging. Hasil penelitian Akifumi Ogino dan rekan-rekannya di National Institute of Livestock and Grassland di Tsukuba, Jepang, menunjukkan bahwa proses produksi satu kilogram steak daging sapi siap santap menghasilkan 36,4 kg CO2 yang setara dengan emisi yang dihasilkan mobil yang melaju 250 kilometer (sekitar 3 jam berkendara), dan membuang energi lampu dengan daya 100 watt selama 20 hari (Suara Pembaruan, 19/7/07) Masa depan bumi, tergantung tindakan kita hari ini. Jika kita tidak secepatnya bergaya hidup hijau, maka dipastikan bumi akan sepanas planet Mars. Tak ada satupun makhluk hidup yang mampu bertahan. Itukah yang kita mau?Penulis, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pernah mengajar MK Filsafat Teknologi dan LingkunganSumber, Galamedia 26 Maret 2012

Peristiwa banjir bandang, kekeringan, gagal panen akibat cuaca tak menentu semakin sering mengisi pemberitaan media massa. Pemberitaan kian sesak dengan merebaknya dampak penyerta dari peristiwa tersebut seperti terganggunya ketahanan pangan, kelaparan, krisis air, berjangkitnya wabah penyakit, lumpuhnya perekonomian, terganggunya aktivitas pendidikan, dsb. Kondisi seperti ini juga terjadi di negara lain. Bahkan cuaca ekstrem dingin terjadi di belahan bumi utara dan cuaca ekstrem panas terjadi di belahan bumi selatan.Sedikitnya 460 penduduk Eropa Timur dan Barat meninggal akibat suhu yang sangat dingin, mencapai -28,6 derajat Celcius (Suara Karya, 11/2/12). Sebaliknya di Australia Selatan dan Victoria, suhu panas mencapai 43 derajat Celcius.Yang menyebabkan pembangkit listrik tidak mampu menahan beban sehingga ratusan ribu rumah padam listrik. Juga menyebabkan rel kereta api tak bisa dilewati karena melengkung. Dikuatirkan, kondisi ini lebih buruk dari kejadian serupa di Chicago pada 1995. Kala itu, 700 jiwa meninggal hanya dalam kurun tiga hari. Mengapa kondisi-kondisi di atas dapat terjadi?Iklim BerubahLaporan panel antarpemerintah tentang perubahan iklim (Intergovernmental Panel on C limate Change-IPCC) menyatakan bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh peningkatan suhu bumi telah nyata terjadi dan mengancam kelangsungan hidup semua makhluk di planet ini. Dalam rentang waktu 250 tahun, yaitu sejak revolusi industri tahun 1750 hingga tahun 2000, suhu bumi, telah naik sekitar 0,7 derajat Celcius . Diperkirakan menjadi sekitar 2 derajat Celcius pada tahun 2015. Dan akan terus meningkat hingga 4 derajat Celcius di akhir abad ini. Bila saat itu tiba, apa yang akan terjadi?Menurut Green Map, kenaikan suhu 2 derajat Celcius, akan menyebabkan 20 – 30 persen spesies tanaman dan hewan punah serta produksi pertanian di daerah tropis seperti jagung dan padi menurun (UNEP, 2007). Kenaikan suhu ini juga akan menghangatkan suhu laut. Jika kenaikan suhu global mencapai 4 derajat Celcius, maka lima juta penduduk Indonesia yang menggantungkan diri pada perikanan akan kehilangan hasil tangkapan akibat menurunnya potensi hasil tangkapan perikanan.Juga menyebabkan penurunan produksi pertanian hingga lima persen akibat kekeringan. Naiknya permukaan laut akibat melelehnya salju di kutub menyebabkan intrusi air asin sehingga terjadi krisis air tawar. Bahkan beberapa pesisir dan pulau akan tenggelam. Di bidang kesehatan, akan memunculkan serta memperberat penyakit – penyakit yang berhubungan dengan panas, termasuk stress, stroke, dan gangguan kardiovaskular.Demikian juga penyakit dengan vector seperti demam berdarah dan malaria. Apakah kita berdiam diri saja menunggu saat itu tiba? Semestinya tidak. Sebagai penghuni bumi, kita wajib menjaga bumi. Caranya?SikapNaiknya suhu bumi disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi. Ada banyak ragam GRK, salah satunya adalah gas karbondioksida (CO2) yang berasal dari aktivitas manusia, terutama yang membutuhkan dan membakar bahan bakar fosil (seperti minyak, gas bumi, batu bara, dsb).Saat ini, konsentrasi GRK di atmosfer sekitar 430 ppm CO2e (ekivalen) meningkat 150 persen dibandingkan sebelum revolusi industri yang hanya 280 ppm. Dikhawatirkan terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas manusia, sikap konsumtif, dan kebutuhan energi, sementara daya serap CO2 justru menurun dengan meluasnya penebangan dan pembakaran pepohonan serta perubahan penggunaan lahan.Mencermati kondisi di atas, kita dapat melakukan mitigasi guna menghambat bertambahnya konsentrasi CO2. Salah satu caranya dengan bergaya hidup hijau. Berikut beberapa aktivitas “hijau” untuk “mendinginkan” bumi : Pertama, menghemat penggunaan listrik dengan cara mematikan listrik jika tidak digunakan, tidak meninggalkan alat elektronik dalam keadaan standby, mencabut charger HP dari stop kontak, mengganti bohlam lampu ke jenis CFL yang lebih hemat listrik dan awet, membersihkan lampu karena debu dapat mengurangi tingkat penerangan hingga 5%, gunakan timer untuk peralatan elektronik, mengeringkan rambut/pakaian dengan matahari daripada dengan dryer. Jika terpaksa memakai AC, tutuplah pintu dan jendela selama AC menyala, aturlah suhu sejuk secukupnya (21-24 derajat Celcius).Kedua, biasakan berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan kendaraan Pemakaian kendaraan bermotor menyumbang hampir seperempat emisi GRK di Indonesia atau sekitar 72 juta ton CO2 per tahun.Ketiga, menanam pohon di halaman rumah, sekolah dan lingkungan serta mereduksi penggunaan produk kayu (misal. Kertas, kertas tissue, dsb). Diperkirakan 15 tahun ke depan, hutan hujan Indonesia sudah habis akibat pembalakan liar dan pengalihfungsian menjadi perkebunan kelapa sawit untuk bahan bakar nabati.Keempat, menghemat serta mendaur ulang penggunaan plastik karena proses produksinya memerlukan energi fosil yang besar sementara sampah plastik sulit terurai. Bila dibakar, menghasilkan gas berbahaya.Kelima, mengurangi makanan berbahan daging. Hasil penelitian Akifumi Ogino dan rekan-rekannya di National Institute of Livestock and Grassland di Tsukuba, Jepang, menunjukkan bahwa proses produksi satu kilogram steak daging sapi siap santap menghasilkan 36,4 kg CO2 yang setara dengan emisi yang dihasilkan mobil yang melaju 250 kilometer (sekitar 3 jam berkendara), dan membuang energi lampu dengan daya 100 watt selama 20 hari (Suara Pembaruan, 19/7/07) Masa depan bumi, tergantung tindakan kita hari ini. Jika kita tidak secepatnya bergaya hidup hijau, maka dipastikan bumi akan sepanas planet Mars. Tak ada satupun makhluk hidup yang mampu bertahan. Itukah yang kita mau?Penulis, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pernah mengajar MK Filsafat Teknologi dan LingkunganSumber, Galamedia 26 Maret 2012

Peristiwa banjir bandang, kekeringan, gagal panen akibat cuaca tak menentu semakin sering mengisi pemberitaan media massa. Pemberitaan kian sesak dengan merebaknya dampak penyerta dari peristiwa tersebut seperti terganggunya ketahanan pangan, kelaparan, krisis air, berjangkitnya wabah penyakit, lumpuhnya perekonomian, terganggunya aktivitas pendidikan, dsb. Kondisi seperti ini juga terjadi di negara lain. Bahkan cuaca ekstrem dingin terjadi di belahan bumi utara dan cuaca ekstrem panas terjadi di belahan bumi selatan.Sedikitnya 460 penduduk Eropa Timur dan Barat meninggal akibat suhu yang sangat dingin, mencapai -28,6 derajat Celcius (Suara Karya, 11/2/12). Sebaliknya di Australia Selatan dan Victoria, suhu panas mencapai 43 derajat Celcius.Yang menyebabkan pembangkit listrik tidak mampu menahan beban sehingga ratusan ribu rumah padam listrik. Juga menyebabkan rel kereta api tak bisa dilewati karena melengkung. Dikuatirkan, kondisi ini lebih buruk dari kejadian serupa di Chicago pada 1995. Kala itu, 700 jiwa meninggal hanya dalam kurun tiga hari. Mengapa kondisi-kondisi di atas dapat terjadi?Iklim BerubahLaporan panel antarpemerintah tentang perubahan iklim (Intergovernmental Panel on C limate Change-IPCC) menyatakan bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh peningkatan suhu bumi telah nyata terjadi dan mengancam kelangsungan hidup semua makhluk di planet ini. Dalam rentang waktu 250 tahun, yaitu sejak revolusi industri tahun 1750 hingga tahun 2000, suhu bumi, telah naik sekitar 0,7 derajat Celcius . Diperkirakan menjadi sekitar 2 derajat Celcius pada tahun 2015. Dan akan terus meningkat hingga 4 derajat Celcius di akhir abad ini. Bila saat itu tiba, apa yang akan terjadi?Menurut Green Map, kenaikan suhu 2 derajat Celcius, akan menyebabkan 20 – 30 persen spesies tanaman dan hewan punah serta produksi pertanian di daerah tropis seperti jagung dan padi menurun (UNEP, 2007). Kenaikan suhu ini juga akan menghangatkan suhu laut. Jika kenaikan suhu global mencapai 4 derajat Celcius, maka lima juta penduduk Indonesia yang menggantungkan diri pada perikanan akan kehilangan hasil tangkapan akibat menurunnya potensi hasil tangkapan perikanan.Juga menyebabkan penurunan produksi pertanian hingga lima persen akibat kekeringan. Naiknya permukaan laut akibat melelehnya salju di kutub menyebabkan intrusi air asin sehingga terjadi krisis air tawar. Bahkan beberapa pesisir dan pulau akan tenggelam. Di bidang kesehatan, akan memunculkan serta memperberat penyakit – penyakit yang berhubungan dengan panas, termasuk stress, stroke, dan gangguan kardiovaskular.Demikian juga penyakit dengan vector seperti demam berdarah dan malaria. Apakah kita berdiam diri saja menunggu saat itu tiba? Semestinya tidak. Sebagai penghuni bumi, kita wajib menjaga bumi. Caranya?SikapNaiknya suhu bumi disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi. Ada banyak ragam GRK, salah satunya adalah gas karbondioksida (CO2) yang berasal dari aktivitas manusia, terutama yang membutuhkan dan membakar bahan bakar fosil (seperti minyak, gas bumi, batu bara, dsb).Saat ini, konsentrasi GRK di atmosfer sekitar 430 ppm CO2e (ekivalen) meningkat 150 persen dibandingkan sebelum revolusi industri yang hanya 280 ppm. Dikhawatirkan terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas manusia, sikap konsumtif, dan kebutuhan energi, sementara daya serap CO2 justru menurun dengan meluasnya penebangan dan pembakaran pepohonan serta perubahan penggunaan lahan.Mencermati kondisi di atas, kita dapat melakukan mitigasi guna menghambat bertambahnya konsentrasi CO2. Salah satu caranya dengan bergaya hidup hijau. Berikut beberapa aktivitas “hijau” untuk “mendinginkan” bumi : Pertama, menghemat penggunaan listrik dengan cara mematikan listrik jika tidak digunakan, tidak meninggalkan alat elektronik dalam keadaan standby, mencabut charger HP dari stop kontak, mengganti bohlam lampu ke jenis CFL yang lebih hemat listrik dan awet, membersihkan lampu karena debu dapat mengurangi tingkat penerangan hingga 5%, gunakan timer untuk peralatan elektronik, mengeringkan rambut/pakaian dengan matahari daripada dengan dryer. Jika terpaksa memakai AC, tutuplah pintu dan jendela selama AC menyala, aturlah suhu sejuk secukupnya (21-24 derajat Celcius).Kedua, biasakan berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan kendaraan Pemakaian kendaraan bermotor menyumbang hampir seperempat emisi GRK di Indonesia atau sekitar 72 juta ton CO2 per tahun.Ketiga, menanam pohon di halaman rumah, sekolah dan lingkungan serta mereduksi penggunaan produk kayu (misal. Kertas, kertas tissue, dsb). Diperkirakan 15 tahun ke depan, hutan hujan Indonesia sudah habis akibat pembalakan liar dan pengalihfungsian menjadi perkebunan kelapa sawit untuk bahan bakar nabati.Keempat, menghemat serta mendaur ulang penggunaan plastik karena proses produksinya memerlukan energi fosil yang besar sementara sampah plastik sulit terurai. Bila dibakar, menghasilkan gas berbahaya.Kelima, mengurangi makanan berbahan daging. Hasil penelitian Akifumi Ogino dan rekan-rekannya di National Institute of Livestock and Grassland di Tsukuba, Jepang, menunjukkan bahwa proses produksi satu kilogram steak daging sapi siap santap menghasilkan 36,4 kg CO2 yang setara dengan emisi yang dihasilkan mobil yang melaju 250 kilometer (sekitar 3 jam berkendara), dan membuang energi lampu dengan daya 100 watt selama 20 hari (Suara Pembaruan, 19/7/07) Masa depan bumi, tergantung tindakan kita hari ini. Jika kita tidak secepatnya bergaya hidup hijau, maka dipastikan bumi akan sepanas planet Mars. Tak ada satupun makhluk hidup yang mampu bertahan. Itukah yang kita mau?Penulis, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pernah mengajar MK Filsafat Teknologi dan LingkunganSumber, Galamedia 26 Maret 2012

Peristiwa banjir bandang, kekeringan, gagal panen akibat cuaca tak menentu semakin sering mengisi pemberitaan media massa. Pemberitaan kian sesak dengan merebaknya dampak penyerta dari peristiwa tersebut seperti terganggunya ketahanan pangan, kelaparan, krisis air, berjangkitnya wabah penyakit, lumpuhnya perekonomian, terganggunya aktivitas pendidikan, dsb. Kondisi seperti ini juga terjadi di negara lain. Bahkan cuaca ekstrem dingin terjadi di belahan bumi utara dan cuaca ekstrem panas terjadi di belahan bumi selatan.Sedikitnya 460 penduduk Eropa Timur dan Barat meninggal akibat suhu yang sangat dingin, mencapai -28,6 derajat Celcius (Suara Karya, 11/2/12). Sebaliknya di Australia Selatan dan Victoria, suhu panas mencapai 43 derajat Celcius.Yang menyebabkan pembangkit listrik tidak mampu menahan beban sehingga ratusan ribu rumah padam listrik. Juga menyebabkan rel kereta api tak bisa dilewati karena melengkung. Dikuatirkan, kondisi ini lebih buruk dari kejadian serupa di Chicago pada 1995. Kala itu, 700 jiwa meninggal hanya dalam kurun tiga hari. Mengapa kondisi-kondisi di atas dapat terjadi?Iklim BerubahLaporan panel antarpemerintah tentang perubahan iklim (Intergovernmental Panel on C limate Change-IPCC) menyatakan bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh peningkatan suhu bumi telah nyata terjadi dan mengancam kelangsungan hidup semua makhluk di planet ini. Dalam rentang waktu 250 tahun, yaitu sejak revolusi industri tahun 1750 hingga tahun 2000, suhu bumi, telah naik sekitar 0,7 derajat Celcius . Diperkirakan menjadi sekitar 2 derajat Celcius pada tahun 2015. Dan akan terus meningkat hingga 4 derajat Celcius di akhir abad ini. Bila saat itu tiba, apa yang akan terjadi?Menurut Green Map, kenaikan suhu 2 derajat Celcius, akan menyebabkan 20 – 30 persen spesies tanaman dan hewan punah serta produksi pertanian di daerah tropis seperti jagung dan padi menurun (UNEP, 2007). Kenaikan suhu ini juga akan menghangatkan suhu laut. Jika kenaikan suhu global mencapai 4 derajat Celcius, maka lima juta penduduk Indonesia yang menggantungkan diri pada perikanan akan kehilangan hasil tangkapan akibat menurunnya potensi hasil tangkapan perikanan.Juga menyebabkan penurunan produksi pertanian hingga lima persen akibat kekeringan. Naiknya permukaan laut akibat melelehnya salju di kutub menyebabkan intrusi air asin sehingga terjadi krisis air tawar. Bahkan beberapa pesisir dan pulau akan tenggelam. Di bidang kesehatan, akan memunculkan serta memperberat penyakit – penyakit yang berhubungan dengan panas, termasuk stress, stroke, dan gangguan kardiovaskular.Demikian juga penyakit dengan vector seperti demam berdarah dan malaria. Apakah kita berdiam diri saja menunggu saat itu tiba? Semestinya tidak. Sebagai penghuni bumi, kita wajib menjaga bumi. Caranya?SikapNaiknya suhu bumi disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi. Ada banyak ragam GRK, salah satunya adalah gas karbondioksida (CO2) yang berasal dari aktivitas manusia, terutama yang membutuhkan dan membakar bahan bakar fosil (seperti minyak, gas bumi, batu bara, dsb).Saat ini, konsentrasi GRK di atmosfer sekitar 430 ppm CO2e (ekivalen) meningkat 150 persen dibandingkan sebelum revolusi industri yang hanya 280 ppm. Dikhawatirkan terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas manusia, sikap konsumtif, dan kebutuhan energi, sementara daya serap CO2 justru menurun dengan meluasnya penebangan dan pembakaran pepohonan serta perubahan penggunaan lahan.Mencermati kondisi di atas, kita dapat melakukan mitigasi guna menghambat bertambahnya konsentrasi CO2. Salah satu caranya dengan bergaya hidup hijau. Berikut beberapa aktivitas “hijau” untuk “mendinginkan” bumi : Pertama, menghemat penggunaan listrik dengan cara mematikan listrik jika tidak digunakan, tidak meninggalkan alat elektronik dalam keadaan standby, mencabut charger HP dari stop kontak, mengganti bohlam lampu ke jenis CFL yang lebih hemat listrik dan awet, membersihkan lampu karena debu dapat mengurangi tingkat penerangan hingga 5%, gunakan timer untuk peralatan elektronik, mengeringkan rambut/pakaian dengan matahari daripada dengan dryer. Jika terpaksa memakai AC, tutuplah pintu dan jendela selama AC menyala, aturlah suhu sejuk secukupnya (21-24 derajat Celcius).Kedua, biasakan berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan kendaraan Pemakaian kendaraan bermotor menyumbang hampir seperempat emisi GRK di Indonesia atau sekitar 72 juta ton CO2 per tahun.Ketiga, menanam pohon di halaman rumah, sekolah dan lingkungan serta mereduksi penggunaan produk kayu (misal. Kertas, kertas tissue, dsb). Diperkirakan 15 tahun ke depan, hutan hujan Indonesia sudah habis akibat pembalakan liar dan pengalihfungsian menjadi perkebunan kelapa sawit untuk bahan bakar nabati.Keempat, menghemat serta mendaur ulang penggunaan plastik karena proses produksinya memerlukan energi fosil yang besar sementara sampah plastik sulit terurai. Bila dibakar, menghasilkan gas berbahaya.Kelima, mengurangi makanan berbahan daging. Hasil penelitian Akifumi Ogino dan rekan-rekannya di National Institute of Livestock and Grassland di Tsukuba, Jepang, menunjukkan bahwa proses produksi satu kilogram steak daging sapi siap santap menghasilkan 36,4 kg CO2 yang setara dengan emisi yang dihasilkan mobil yang melaju 250 kilometer (sekitar 3 jam berkendara), dan membuang energi lampu dengan daya 100 watt selama 20 hari (Suara Pembaruan, 19/7/07) Masa depan bumi, tergantung tindakan kita hari ini. Jika kita tidak secepatnya bergaya hidup hijau, maka dipastikan bumi akan sepanas planet Mars. Tak ada satupun makhluk hidup yang mampu bertahan. Itukah yang kita mau?Penulis, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pernah mengajar MK Filsafat Teknologi dan LingkunganSumber, Galamedia 26 Maret 2012

Peristiwa banjir bandang, kekeringan, gagal panen akibat cuaca tak menentu semakin sering mengisi pemberitaan media massa. Pemberitaan kian sesak dengan merebaknya dampak penyerta dari peristiwa tersebut seperti terganggunya ketahanan pangan, kelaparan, krisis air, berjangkitnya wabah penyakit, lumpuhnya perekonomian, terganggunya aktivitas pendidikan, dsb. Kondisi seperti ini juga terjadi di negara lain. Bahkan cuaca ekstrem dingin terjadi di belahan bumi utara dan cuaca ekstrem panas terjadi di belahan bumi selatan.Sedikitnya 460 penduduk Eropa Timur dan Barat meninggal akibat suhu yang sangat dingin, mencapai -28,6 derajat Celcius (Suara Karya, 11/2/12). Sebaliknya di Australia Selatan dan Victoria, suhu panas mencapai 43 derajat Celcius.Yang menyebabkan pembangkit listrik tidak mampu menahan beban sehingga ratusan ribu rumah padam listrik. Juga menyebabkan rel kereta api tak bisa dilewati karena melengkung. Dikuatirkan, kondisi ini lebih buruk dari kejadian serupa di Chicago pada 1995. Kala itu, 700 jiwa meninggal hanya dalam kurun tiga hari. Mengapa kondisi-kondisi di atas dapat terjadi?Iklim BerubahLaporan panel antarpemerintah tentang perubahan iklim (Intergovernmental Panel on C limate Change-IPCC) menyatakan bahwa perubahan iklim yang dipicu oleh peningkatan suhu bumi telah nyata terjadi dan mengancam kelangsungan hidup semua makhluk di planet ini. Dalam rentang waktu 250 tahun, yaitu sejak revolusi industri tahun 1750 hingga tahun 2000, suhu bumi, telah naik sekitar 0,7 derajat Celcius . Diperkirakan menjadi sekitar 2 derajat Celcius pada tahun 2015. Dan akan terus meningkat hingga 4 derajat Celcius di akhir abad ini. Bila saat itu tiba, apa yang akan terjadi?Menurut Green Map, kenaikan suhu 2 derajat Celcius, akan menyebabkan 20 – 30 persen spesies tanaman dan hewan punah serta produksi pertanian di daerah tropis seperti jagung dan padi menurun (UNEP, 2007). Kenaikan suhu ini juga akan menghangatkan suhu laut. Jika kenaikan suhu global mencapai 4 derajat Celcius, maka lima juta penduduk Indonesia yang menggantungkan diri pada perikanan akan kehilangan hasil tangkapan akibat menurunnya potensi hasil tangkapan perikanan.Juga menyebabkan penurunan produksi pertanian hingga lima persen akibat kekeringan. Naiknya permukaan laut akibat melelehnya salju di kutub menyebabkan intrusi air asin sehingga terjadi krisis air tawar. Bahkan beberapa pesisir dan pulau akan tenggelam. Di bidang kesehatan, akan memunculkan serta memperberat penyakit – penyakit yang berhubungan dengan panas, termasuk stress, stroke, dan gangguan kardiovaskular.Demikian juga penyakit dengan vector seperti demam berdarah dan malaria. Apakah kita berdiam diri saja menunggu saat itu tiba? Semestinya tidak. Sebagai penghuni bumi, kita wajib menjaga bumi. Caranya?SikapNaiknya suhu bumi disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer bumi. Ada banyak ragam GRK, salah satunya adalah gas karbondioksida (CO2) yang berasal dari aktivitas manusia, terutama yang membutuhkan dan membakar bahan bakar fosil (seperti minyak, gas bumi, batu bara, dsb).Saat ini, konsentrasi GRK di atmosfer sekitar 430 ppm CO2e (ekivalen) meningkat 150 persen dibandingkan sebelum revolusi industri yang hanya 280 ppm. Dikhawatirkan terus meningkat seiring bertambahnya aktivitas manusia, sikap konsumtif, dan kebutuhan energi, sementara daya serap CO2 justru menurun dengan meluasnya penebangan dan pembakaran pepohonan serta perubahan penggunaan lahan.Mencermati kondisi di atas, kita dapat melakukan mitigasi guna menghambat bertambahnya konsentrasi CO2. Salah satu caranya dengan bergaya hidup hijau. Berikut beberapa aktivitas “hijau” untuk “mendinginkan” bumi : Pertama, menghemat penggunaan listrik dengan cara mematikan listrik jika tidak digunakan, tidak meninggalkan alat elektronik dalam keadaan standby, mencabut charger HP dari stop kontak, mengganti bohlam lampu ke jenis CFL yang lebih hemat listrik dan awet, membersihkan lampu karena debu dapat mengurangi tingkat penerangan hingga 5%, gunakan timer untuk peralatan elektronik, mengeringkan rambut/pakaian dengan matahari daripada dengan dryer. Jika terpaksa memakai AC, tutuplah pintu dan jendela selama AC menyala, aturlah suhu sejuk secukupnya (21-24 derajat Celcius).Kedua, biasakan berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan kendaraan Pemakaian kendaraan bermotor menyumbang hampir seperempat emisi GRK di Indonesia atau sekitar 72 juta ton CO2 per tahun.Ketiga, menanam pohon di halaman rumah, sekolah dan lingkungan serta mereduksi penggunaan produk kayu (misal. Kertas, kertas tissue, dsb). Diperkirakan 15 tahun ke depan, hutan hujan Indonesia sudah habis akibat pembalakan liar dan pengalihfungsian menjadi perkebunan kelapa sawit untuk bahan bakar nabati.Keempat, menghemat serta mendaur ulang penggunaan plastik karena proses produksinya memerlukan energi fosil yang besar sementara sampah plastik sulit terurai. Bila dibakar, menghasilkan gas berbahaya.Kelima, mengurangi makanan berbahan daging. Hasil penelitian Akifumi Ogino dan rekan-rekannya di National Institute of Livestock and Grassland di Tsukuba, Jepang, menunjukkan bahwa proses produksi satu kilogram steak daging sapi siap santap menghasilkan 36,4 kg CO2 yang setara dengan emisi yang dihasilkan mobil yang melaju 250 kilometer (sekitar 3 jam berkendara), dan membuang energi lampu dengan daya 100 watt selama 20 hari (Suara Pembaruan, 19/7/07) Masa depan bumi, tergantung tindakan kita hari ini. Jika kita tidak secepatnya bergaya hidup hijau, maka dipastikan bumi akan sepanas planet Mars. Tak ada satupun makhluk hidup yang mampu bertahan. Itukah yang kita mau?Penulis, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pernah mengajar MK Filsafat Teknologi dan LingkunganSumber, Galamedia 26 Maret 2012