UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

FISIP Gelar Seminar Pilgub Jabar

[www.uinsgd.ac.id] Jelang pencoblosan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2013. Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP) UIN SGD Bandung yang bekerjasama dengan Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Jabar menggelar Seminar Pemilihan Gubernur Jabar 2013 yang bertajuk “Optimalisasi Pemilihan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur yang Jujur, Adil, Berkualitas dan Bermartabat” dengan menghadirkan nara sumber; Prof. Dr. H. Deddy Ismatullah, SH., M.Hum. (Rektor UIN SGD Bandung), Dr. Sahya Anggara, Drs., M.Si (Dekan FISIP UIN SGD Bandung) dan Dadan Firdaus, M. Ag (Panwaslu Jabar) yang dipandu oleh Drs. H. Encup Supriyatna, M.Si. (Pembantu Dekan I FISIP) di ruang Senat Universitas, gedung Al-Jamiah, Jumat (22/2)

Dalam sambutannya Rektor memberikan apresiasi dan penting untuk diadakannya kegiatan seminar ini. “Sangat strategis dalam memberikan informasi dan gagasan pentingnya Pemilihan Gubernur Jabar ini mengingat Jabar sangat stategis dan menjadi barometer sistem pemilihan di Indonesia, bahkan jika di bandingkan dengan Pemilihan Presiden di Australia atau Malayasia yang mencapai 20 juta pemilih, maka Pemilihan di Jabat ini mencapai 30 juta. Untuk itu, menjadi penting sosialisasi dan pengawasan tentang Pemilihan Gubernur Jabar ini,” tegasnya.

Mengenai kriteria menjadi seorang pemimpin di Jabar, Rektor menuturkan “Ada 3 prasyarat dalam memimpin Jabar; Pertama, Sense of Religious. Dalam hal ini Islam karena sebagian besar jumlah pemeluk agama di Jawa Barat adalah Islam. Seorang muslim harus memilih pemimpin yang beriman. Kedua, Sense of Economi. Mengingat Jawa Barat masih banyak yang miskin, tingkat kesejahteraannya kurang dan seorang pemimpin wajib memberikan dan menyediakan lapangan kerja supaya kesejahteraan masyarakat meningkat. Ketiga, Sense of Krisis. Berkenaan dengan Jawa Barat yang rawan bencana, tanah longsor, banjir. Jika seorang pemimpin pada saat bencana banjir tidak hadir langsung ke lokasi untuk memberikan dukungan moral dan bantuan logistik, maka jiwa kepemimpinnaya diragukan. Jadi siapa pun pemimpimpinya kriteria ini harus menjadi prasyarat mutlak untuk memimpin Jabar ke depan supaya lebih maju lagi,” harapannya.

Bagi Sahya acara ini menjadi penting untuk “mengawal, mengawasi Pilgub Jabar supaya jujur, adil, berkualitas dan bermartabat. Pengawasan itu harus dimulai dari diri sendiri atau kesadaran diri dengan dengan cara berbuat baik dan ikut mencoblos.”  

Dalam konteks kampus Seminar ini sangat diperlukan untuk  ikut andil dalam mengkritisis segala kebijakan Piligub supaya bisa menciptakan, penguatan dan kesadaran mental tentang pentingnya pengawasan Pemilu. “Sebagai pelajar dan sarjana kita harus ikut mengktirisi segala kebijakan dan harus menjadi pelopor atau pionir intelektual supaya bisa memberikan pencerahan terhadap masyarakat sekitar tentang arti penting pemilihan karena bisa menentukan masa depan,” jelasnya.

Dadan menambahkan keikutsertaan akademiksi menjadi penting dalam mengontor, mengawasi Pilgub Jabar ini. “Untuk itu, kontribusi para akademisi menjadi penting dalam menciptakan, mengontrol, dan mengawasi Pilgub. Salah satu caranya dengan menggelar Seminar ini,” paparnya.

“Kita ketahui secara bersama bahwa kampus sebagai agen perbuhan. Maka sangatlah strategis jika pengawasan Pilgub ini melihatkan akademisi,” jelasnya.

Kegiatan yang dihadiri oleh Ketua Panwaslu Jabar, Ihat Subiha menjelaskan “Kegiatan ini merupakan salah satu bukti dan kelanjutan dari MoU antara Panwaslu Jabar dengan 4 Perguruan Tinggi di Jabar, yang di dalamnya termasuk UIN SGD Bandung. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan semacam ini para akademisi bisa ikut andil dalam mengawal dan mengawasi berjalanya Pilgub Jabar,” pungkasnya. [Ibn Ghifarie]