UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

FAH UIN SGD Gelar Seminar Nasional

Budaya Lokal Modal Perkokoh Identitas

[www.uinsgd.ac.id] Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandung menggelar Seminar Nasional Kebudayaan Lokal dalam bingkai Kebudayaan Nasional Indonesia bertajuk “: Budaya Lokal Elemen Penting Pendukung Khazanah Budaya Nasional Indonesia” dengan menghadirkan narasumber: Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, M.Fil (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), Prof. Dr. H. Ganjar Kurnia, DEA (Pengamat dan Pemerhati Kebudayaan Sunda), yang dipandu oleh Moeflich Hasbullah, MA (Dosen Jurusan Sejarah Peradaban Islam) di Aula FAH lantai IV, Kampus I Jl. A.H Nasution No 105 Cibiru Bandung, Senin (5/11/2018).

Dekan FAH Dr. H. Setia Gumilar, S.Ag, M.Si menjelaskan Seminar Nasional Kebudayaan Lokal merupakan rangkaian dari kegiatan Pekan Ilmiah III. “Pekan ilmiah III diisi dengan kegiatan seminar nasional dan internasional, terkait dengan Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, dan Jurusan Sastra Inggris. Yang dilengkapi dengan Aksi Kreativitas Akademik dan Budaya (AKRAB), yang menampilkan aneka lomba Akademik dan Olahraga, serta Pentas Seni Mahasiswa,” ujarnya

Mengingat keragaman budaya adalah keniscayaan yang ada di bumi Indonesia. “Kearifan dan budaya lokal menjadi bagian penting dari kebudayaan. Untuk itu, elemen budaya ini harus digali, dikaji, dikembangkan dan diperbaharui karena esensi dari budaya dan kearifan penting lokal itu untuk penguatan fondasi dan jati diri bangsa dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman,” tegasnya.

Sebagai aset kekayaan kebudayaan bangsa. “Budaya lokal dapat dijadikan modal untuk dasar untuk menegaskan dan memperkokoh identitas atau jati diri suatu bangsa dan negara,” paparnya.

Penyebaran Islam di tanah air menurut Marshall Hodgson dalam the Venture of Islam terbagi dalam tiga bagian: Pertama, Islamics. Islam sebagai sistem keimanan atau kepercayaan; Kedua, Islamdom. Masyarakat dimana Muslim dan kepercayaannya tersebar luas dan dominan secara sosial; Ketiga, Islamicate. Istilah Islamicate tidak langsungmerujuk kepada agama, Islam, namun secara historis merujuk kepada “fakta sosial” dan “kompleksitas budaya”, baik di lingkungan internal Muslim itu sendiri bahkan ketika berkaitan hubungan dengan non-Muslim.

Dekan FAH berharap, “Dengan adanya seminar kebudayaan ini dapat meningkatkan kualitas berpikir sumber daya manusia di lingkungan UIN SGD Bandung, khusunya Fakultas Adab dan Humaniora. Karena inti dari kebudayaan menurut Prof. Ahmad Tafsir itu proses berpikir. Untuk itu, pengembangan budaya Islam menjadi sangat penting dalam menjadikan Fakultas Adab dan Humaniora sebagai pusat studi Islam lokal,” terangnya.

Menurut Prof. Amin, kunci ilmu budaya itu pada memahami budaya. “Ilmu pengetahuan budaya adalah ilmu (science) untuk memperoleh pengetahuan (knowledge) guna memahami (verstehen) kebudayaan (culture) agar dapat mengungkapkan maknanya melalui expresi perilaku pendukungnya. Jadi kucinya adalah memahami budaya,” jelasnya.

“Iman, ilmu dan akhlak harus menjadi pilar kebudayaan Islam dan perkembanganya. Dalam kontek budaya pikir manusia muslim kontemporer juga terdapat tiga model; Pertama, Hadharah Al-Ilm. Kedua, Hadharah An-Nass. Ketiga, Hadharah al-Falsafah wa al-Tasawuf,” paparnya.

Indikator budaya berpikir keislaman itu harus ramah terhadap kebinekaan dan keilmuan. “Pertama, Nilai. Kedua, Visi. Ketiga, Keilmuan. Keempat, Pembaharuan. Dalam menjunjung tinggi nilai-nilai harus bersumber pada: keyakinan, keutamaan, altruisme, keindahan, kebenaran, solidaritas, kasih sayang, keadilan dan kedamaian. Mesti mengacu pada bentuk-bentuk spiritualitas: religious (agama), mistik, humanistik, romantik dan kosmik,” paparnya.

Bagi Prof. Ganjar, bila meruju pada UU No. 5 tahun 2017 tentang pemajuan kebudayaan, “Sesungguhnya bahasalah yang menjadi penciri utama dari suku bangsa. Dalam bahasa Sunda terdapat istilah basa téh cicirén bangsa. Ilang basana, ilang bangsana. Dalam bahasa juga terdapat nilai-nilai mengenai kasundaan, seperti cageur, bener, pinter, singer, silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi; atau sareundeuk saigel sabobot sapihanéan, sabata sarimbagan,” ujarnya.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa semakin banyak orang Sunda yang tidak lagi menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu. “Dengan ditinggalkannya bahasa Sunda, maka nilai-nilai kasundaan juga ditinggalkan,” terangnya.

Hasil penelitian Pusat Dinamika Pembangunan Unpad tahun 2000, menunjukkan, “dari 300 jenis kesenian yang ada di Jawa Barat, 230 diantaranya sudah mati. Sekitar 30 jenis kesenian dalam kondisi sekarat awal, 25 kesenian dalam kondisi sekarat akhir dan hanya sekitar 15 jenis kesenian saja yang masih hidup,” pungkasnya. (B.47)

Sumber, Galamedia 6 November 2018