UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

FAH UIN SGD Bandung Miliki Pusat Studi Islam Sunda

Satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia, UIN SGD Bandung kali pertamanya memiliki Pusat Studi Islam Sunda (PSIS) sebagai distingsi kajian di lingkungan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandung.


PSIS diresmikan pendiriannya oleh Wakil Rektor I UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Asep Muhyiddin, M.Ag di Hotel Grand Aquila, Jl. Dr. Djunjunan No.116, Sukagalih, Kec. Sukajadi, Kota Bandung, bersamaan dengan International Conference on Humanities and Islamic Cilization (ICON-HIC), Rabu-Jumat (26-28 Juni 2019).


Ini kerja bersama antara FAH UIN SGD Bandung dengan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. 


Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Asep Muhyiddin, M.Ag yang didampingi Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si, Wakil Dekan I, Dr. Ading Kusdiana, M.Ag., Wakil Deka. II, Dr. Dedi Supriadi, M.Hum, Wakil Dekan III, Dr. Dadan Rusmana, M.Ag, editor buku Sunda dalam Kontak Kebudayaan dan Peradaban Islam Dunia, Dr. Asep Supianudin, M.Ag menjelaskan, keberadaan suatu pusat studi pada suatu fakultas merupakan keniscayaan. 

Hal ini didasarkan pada tugas pokok dan fungsi suatu fakultas dalam suatu lembaga pendidikan tinggi. Tiga hal yang menjadi tugas pokok suatu lembaga pendidikan ini; pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat menjadi alasan utama untuk terwujudnya pusat studi.


“Pertimbangan lainnya sebagai pendukung keberadaan pusta studi ini, lanjutnya, peningkatan daya saing antarfakultas yang sama dalam lingkup Kementaeian Agama, atau sesama fakultas yang mirip dalam lingkup perguruang tinggi sewilayah,” paparnya.


Keberadaan suatu pusat studi di suatu fakultas dimungkinkan akan menambah wahana kreatifitas untuk membangun kemandirian dan publikasi popularitas diri. “Semua ini akan berujung kepada nilai daya saing yang tinggi, sekaligus daya tawar yang tinggi dalam kancah pendidikan dan penilitian,” tandasnya. 


Distingsi PSIS

Dengan pembentukan suatu pusat studi di Fakutas Adab dan Humaniora ini akan memfokuskan diri pada kajian keislaman dan kesundaan adalah suatu wacana yang memiliki alasan kuat, terutama dalam ranah kelembagaan.

Dalam aspek isi Fakultas Adab dan Humaniora yang notabene fakultas yang mengembangkan rumpun Agama dan Humaniora, secara kelembagaan memiliki alasan kuat untuk mendirikan suatu pusat studi yang fokus studinya pada Islam dan Sunda.
Studi Islam sebagai studi rumpun keagamaan, dan studi Sunda sebagai studi rumpun kehumanioraan dan sekaligus studi kelokalan atau kewilayahan.


Nama suatu pusat studi dengan Pusat Studi Islam Sunda dalam penelusuran google hingga Pebruari 2018 belum ditemukan penggunaannya untuk sebuah pusat studi. Nama-nama lain yang mengambil sebagian kata dari frase itu sudah ada, seperti pusat studi Islam di Universitas Islam Indonesia (UII) sejak tahun 1997 di Yogyakarta yang disingkat PSI-UII;
Pusat Studi Islam, salah satu Unit Kegiatana Mahasiswa di Unisma Bekasi disingkat PUSI; Pusat Studi Sunda sudah digunakan diantaranya oleh sebuah Yayasan yang menamakan diri Yayasan Pusat Studi Sunda yang didirikan Prof. Ajip Rosidi di Bandung sejak tahun 2002.

Pemakaian nama Pusat Studi Islam Sunda sebagai sebuah nama pusat studi, belum digunakan pihak lain. Maka, jika digunakan sebagai nama bagi sebuah pusat studi di Fakultas Adab dan Humanioar (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung bisa merupakan sebuah pusat studi yang mempunyai kekhasan tersendiri. “Kekhasan inilah akan menjadi lahan subur untuk agenda dan program PSIS,” paparnya.


Untuk di lingkungan UIN SGD Bandung, ini baru terdapat dua pusat studi, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) dan Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP). Pusat studi Islam Sunda menjadi satu-satunya di Indonesia bahkan dunia.


Wakil Rektor I sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ia mengucapkan selamat datang kepada para peserta forum ADIA. “Kami berharap kegiatan ini membawa berkah dan memberi kontribusi positif bagi kita semua dalam rangka pengembangan dan meningkatkan ilmu pengetahuan melalui Pusat Studi Islam Sunda,” ujarnya.


Melalui forum ini, keberadaan FAH dapat melakukan pengembangan diri, “terutama dalam menghadapi era digitalisasi dan revolusi industri 4.0 yang tidak mungkin dapat dihindari,”  tambahnya.

Sementara itu Dekan FAH UIN SGD Bandung Dr. H. Setia Gumilar, M.Si menegaskan, hasil dari forum ini memberikan kontribusi pada humanisasi dengan penguatan akhlak karimah bagi penduduk nusantara. Perlu kerja keras untuk mengupgrading dosen dan mahasiswa demi mengimbangi akselerasi perkembangan teknologi.


“Kami mohon ijin kepada Ketua ADIA untuk meresmikan Pusat Studi Islam Sunda oleh Wakil Rektor I sebagai distingsi bagi Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandung,” paparnya.

Dr. H. Setia Gumilar, M.Si, berharap upaya mencetak lulusan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung yang unggul, kompetitif dalam bidang kajian adab dan humaniora serta menguasai keahlian di bidang teknologi digital.

“sebagai Fakultas yang konsen terhadap proses humanisasi, mudah-mudahan dengan adanya Pusat Studi Islam Sunda ini dapat terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Fakultas dan siap bersaing untuk berkompetisi dengan lulusan perguruan tinggi lain di tengah-tengah era revolusi industri 4.0 yang berbasis pada wahyu memandu ilmu dan bersinergi dengan nilai-nilai akhlak karimah,” pungkasnya.

rls/IS]

Sumber, Intro News 27 Juni 2019