UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

FAH UIN SGD Bandung Gelar Seminar Nasional Sastra & Sejarah

Untuk mencetak lulusan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung yang unggul, kompetitif dalam bidang kajian adab dan humaniora serta menguasai keahlian di bidang teknologi digital .

Pernyataan itu disampaikan oleh Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si. dalam acara Seminar Nasional Sastra dan Sejarah bertajuk “Ilmu Sastra dan Sejarah di Era Revolusi Industri 4.0” dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Hj. Nina Herlina, M.Si (Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran), Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M. Hum (Ketua Prodi Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran).

Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si. menuturkan “salah satu tantangan di era revolusi industri 4.0 yang harus dihadapi oleh civitas akademika itu ketika perusahaan atau user tidak hanya melihat pada izasah dan gelar seseorang dalam menerima pegawai atau karyawan, tapi diminta keahlian
bidang teknologi digital. Misalnya arsitektur Islam dan sinematografi Islam untuk Program Studi Sastra, Sejarah, dan Peradaban Islam yang masuk dalam kurikulum dan ada matakuliahnya, ” tegasnya, saat dihubungi di ruang kerjanya, Kampus I, Jl. A.H Nasution No 105 Cipadung Cibiru Kota Bandung, Selasa (21/05/19).

Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si. menjelaskan tahapan yang bisa dilakukan Fakultas Adab dan Humaniora. “Pertama, untuk bidang arsitektur dan sinematografi, Fakultas Abad dan Humaniora (FAH) menjalin kerjasama dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Alhamdulillah kita sudah memiliki asesor di BSNP. Mudah-mudahan dengan adanya asesor itu dapat mempercepat usaha Fakultas dalam rangka mewujudkan lulusan yang unggul, kompetitif dalam bidang kajian adab dan humaniora. Juga menguasai keahlian di bidang arsitektur Islam dan sinematografi Islam,” paaprnya.

Diakui, Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si. “kehadiran era revolusi industri 4.0 yang serba cepat, setiap orang dengan mudah untuk melakukan aktivitas, komunikasi karena kecanggihan teknologi. Ternyata memberikan dampak atas hilangannya nila-nilai kemanausiaan yang berimplikasi pada aktivitas kehidupan seharai-hari dalam melakukan komunikasi antara mahasiswa dengan dosen atau anak dengan orang tua, sehingg terjadilan dehumanisasi di segala bidang, termasuk di lingkungan akademik,” keluhnya.

Perspektif Historis

Menurut Prof Dr. Hj. Nina Herlia, M.Si, dalam perspektif historis, “revoluis indutri 4.0 dipandang sebagai puncak kemmapuan manusia moderen, khuusnya dalam mewujudkan prinsip inovasi dan kratifitas. Revolusi Industri 4.0 bukan fenomena yang lahir begitu saja dari “keperkasaan” teknologi informasi (internet),” paparnya

Revolusi Industri 4.0 merupakan kelanjutan dari revolusi industri sebelumnya, yaitu Revolusi Industri 1.0 – Revolusi Industri 2.0 – Revolusi Industri 3.0. “Pertemuan ilmiah ini penting untuk mendiskusikan bagaimana ilmu humaniora, khususnya Sejarah dan Sastra bisa ngigelan zaman sehingga tetap dapat eksis, bahkan berkontibusi terhadap revolusi industri 4.0,” tegasnya.

Ada tujuh upaya ilmu sejarah dalam menghadapi revolusi 4.0, kata Prof Dr. Hj. Nina Herlia, M.Si, pertama, meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi informatika, dengan memiliki kemampuan yang tidak terkait kemampuan akademis. Kedua, bukan untuk menggantikan kemampuan manusia dalam merekonstruksi sejarah. Ketiga, memanfaatkan teknologi informasi untuk menyebarluaskan kisah sejarah. Keempat, jangan terpaku pada kurikulum konvensional karena untuk bisa eksis di era revolusi industri 4.0, kurikulum harus mengikuti perkembangan zaman. Kelima, pengayaaan mata kuliah dalam kurikul menjadi sebuah keharusan. Kenam, pengayaaan agar kurikulum lebih bersifat aplikatif dengan berbasis teknologi informasi. Ketujuh, meningkatnya kemampuan inovasi & kreativitas mahasiswa/alumnus dengan memadukan kemampuan akademis dan penguasaan cyber technology,” sarannya.

Dengan adanya tujuh mata kuliah, mulai dari arkeologi terapan, konservasi tinggalan arkeologis (UU benda cagar budaya), pengantar arsitektur dan fotografi, pembuatan peta arkeologis, museologi, penulisan storyline sampai pariwisata budaya.

Untuk penulisan storyline, misalnya merupakan produk pengayaan dari mata kuliah historiografi yang selama ini disampaikan secara konvensional. Dalam storyline yang dikemukan tidak hanya kisah hasil rekonstruksi sejarawan yang bersifat deskriptif-analitis, melainkan dipadukan dengan kemampuan penguasaan teknologi informasi.

“Apabila mahasiswa sejarah memiliki keterampilan dan penguasaan terhadap teknologi informasi, maka ia akan lebih dapat mengekplorasi mengenai imajinasi masa lampaunya secara digital. Jadi, ia bisa lebih leluasa dalam melakukan inovasi dan kreativitasnya hanya dalam satu genggaman yakni tombol akses internet,” jelasnya.

Prof Dr. Hj. Nina Herlia, M.Si, mengingatkan kita tidak bisa mengelak dari apa yang dinamakan revolusi industri 4.0 karena itu sebuah konsekuensi dari zaman yang serba digital. Untuk dapat tetap eksis dalam menghadapi revolusi industri 4.0, “setidaknya harus memiliki kemampuan penguasaan teknologi informasi, inovasi, dan kreativitas,” paparnya

“Dengan begitu ilmu sejarah dapat memberikan konstribusi tehadap revolusi industri 4.0 melalui pengayaan atau perubahan kurikulum dengan memperhatikan tuntutan dari revolusi industri 4.0,” tegasnya.

Kuncinya Membaca

Mengenai keberadaan Sastra di tengah revolusi industri 4.0 kata Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M. Hum, bicara tentang sastra adalah bicara tentang manusia dengan semua dimensinya. Karya sastra bukanlah wahyu yang diturunkan dari langit, sekalipun pengarangnya barangkali digerakkan oleh inspirasi yang sangat kuat.

“Dengan begitu, selayaknya memperlakukan teks-teks sastra sebagai produk budaya. Konteks memang penting, tetapi bukanlah sesuatu yang statis. Dalam perjumpaan dengan karya sastra konteks itu selalu bergerak dan bersifat dinamis, selalu diciptakan dan diperbaharui kembali,” ujarnya.

Menurut Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M. Hum, memahami sastra sampai kapan pun akan tetap sama, “harus dibaca dan dengan begitu baru bisa dipahami dan dimengerti. Teknologi hanya alat untuk mempermudah memperoleh informasi, bukan cara untuk lebih baik memahami. Contoh karya sastra dari lintas bangsa yang memaparkan masalah yang kurang lebih tidak berbeda yaitu tentang perempuan. Masalah perempuan, misalnya, ada dan direaksi di mana pun dalam karya sastra,” jelasnya.

Bagi Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M. Hum, kalau ilmu pengetahuan sosial berusaha mengungkapkan perkembangan suatu masyarakat dengan cara menyatakan dan menjelaskannya, maka novel dan cerpen melakukan hal yang sama, baik dengan menyatakannya maupun menyembunyikannya dalam teks. “Oleh karena itu, kecerdasan buatan atau teknologi digital sekalipun tidak akan dapat menggantikan hakikat sastra yang menyampaikan semua persoalan kemanusiaan. Mempelajari sastra tetap dengan membacanya dan memahaminya,” paparnya.

Kehadiran teknologi digital telah memberikan kemudahan, terutama, dalam penyediaan bahan digital sebagai rujukan dan referensi. Teknologi digital juga menyediakan ruang digital yang memungkinkan siapa pun dapat menulis dan mempublikasikan tulisannya.

“Perilaku membaca dan menulis ini yang diubah dengan hadirnya teknologi digital. Ruang digital juga memberi kesempatan bagi para penulis baru untuk mempublikasikan tulisannya tanpa melalui proses yang rimut. Hal lain dalam pembelajaran sastra bahwa teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk media pembelajaran di kelas melalui aplikasi-aplikasi yang memudahkan. Pembelajaran dengan aplikasi digital ini menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan dan efisien,” jelasnya.

Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si. berharap “sebagai Fakultas yang konsen terhadap proses humanisasi, mudah-mudahan dengan adanya seminar nasional ini dapat terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan Fakultas dan siap bersaing untuk berkompetisi dengan lulusan perguruan tinggi lain di tengah-tengah era revolusi industri 4.0 yang berbasis pada wahyu memandu ilmu dan bersinergi dengan nilai-nilai akhlak karimah,” tegasnya.

Hasil dari seminat nasional ini “dapat dijadikan rekomendasi dan bahan kajian untuk kegiatan workshop evaluasi kurikulum kerangka nasional Indonesia (KKNI) di Fakultas Adab dan Humaniora yang akan digelar besok,” pungkasnya.

Sumber, Wibawanews 21 Mei 2019