UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

FAH UIN SGD Bandung-ADIA Gelar Konferensi Internasional

FAKULTAS Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia menggelar International Conference on Humanities and Islamic Civilization (ICON-HIC) 2019 di Hotel Grand Aquila, Kamis (27/06/2019).

Acara bertema “Penguatan Khazanah Lokal dan Budaya Islam dalam Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0” ini menghadirkan pembicara internasional. Mereka yakni Ronald Lukens-Bull, Ph.D (Universitas North-Florida, USA), Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag (UIN Sunan Kalijaga, Indonesia), Prof. Dudung Abdurrahman, M.Hum (UIN Sunan Kalijaga, Indonesia), Talal Ahmad el-Awwad el-Hassan, Ph.D (Sudan), Dr. Tengsoe Tjahjono (UNESA, Surabaya), dan Dr. Ajid Thohir, M.Ag (UIN Sunan Gunung Djati, Indonesia).

Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si menjelaskan, ICON HIC 2019 merupakan bagian dari pertemuan ke-19 Forum Dekan Fakultas Adab PTKIN se-Indonesia  dan pertemuan tahunan ke-12 ADIA sejak tahun 2008 yang dimulai di FAH UIN Ar-Raniri Aceh. 

Tema kegiatan yang berkaitan dengan revolusi industri  4.0 ini dibagi ke dalam sub tema: linguistik, sastra Islam, sejarah Islam, budaya Islam, sosial dan politik Islam, seni dan arsitektur Islam.

Menurut Setia, secara historis, era ini merupakan kelanjutan  era sebelumnya yang telah membawa perubahan fundamental pada berbagai bidang. Dampak dari perubahan ini disebut-sebut bahwa masyarakat dunia mengalami disrupsi dalam segala bidang, termasuk dalam ipteks, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan dunia pendidikan. Sekat geo-politik semakin pudar seiring perkembangan zona perdagangan bebas (seperti ZEE, AFTA, dan CAPTA).

“Dampaknya diprediksi semakin memunculkan problem kemanusiaan, seperti tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan (humaniora) dan local wisdom, karena terkooptasi oleh relasi dan kultur mekanik layaknya mesin. Relasi manusia pun semakin mekanistik, individualistik, dan manusia layaknya robot yang hidup,” tuturnya.

Oleh karena itu, ujar Setia, untuk mengantisipasi dampak revolusi industri 4.0 ini, harus melibatkan banyak kalangan, seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Jepang. Mereka mengupayakan grand design masyarakat 5.0, yakni masyarakat  yang mampu menggunakan iptek tetapi tetap humanis. 

Dengan demikian, revolusi industri dan disrupsi dapat diposisikan sebagai tantangan (challange), sekaligus kesempatan (opportunity) bagi ipteks dalam dunia pendidikan. 

FAH UIN SGD Bandung sebagai bagian dari lembaga pendidikan Islam, kata Setia, dituntut berperan aktif dalam pengembangan ipteks dan masyarakat yang memiliki keseimbangan antara etos pengembangan ipteks dengan prophetic ethics, khususnya terkait dengan tridarma perguruan tinggi. Caranya dengan memasilitasi forum ilmiah, menciptakan iklim kondusif untuk penelitian dan publikasi karya-karya ilmiah yang strategis dalam pengembangan masyarakat muslim. 

Sementara itu, Ketua ADIA, H. Barsihannor mengatakan, forum ini memberikan banyak manfaat bagi setiap anggota dan hendaknya ada regenerasi untuk masa-masa mendatang. 

“Semua kesepakatan yang telah ditandatangani oleh pimpinan Fakultas Adab PTKIN se-Indonesia dapat diimplementasikan untuk peningkatan kualitas lembaga dan sivitas akademika masing-masing,” jelasnya.

Konferensi internasional ini melibatkan 24 delegasi yang terdiri atas para ahli, akademisi, peneliti, prosfesional pada berbagai bidang keilmuwan dengan berusaha mendiskusikan inovasi-inovasi terbaru, trend, perhatian, tantangan-tantangan yang ditemui dan solusi-solusi yang diadopsi dalam kajian.
“Ada 62 artikel ilmiah yang dipresentasikan dan 250 partisipan yang terdiri 150 orang dari ADIA PTKIN se-Indonesia dan 100 dari wilayah Bandung,” jelasnya.  (Nana Sukmana, Brilliant Awal)

Sumber, Galamedia News 27 Juni 2019