UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Dosen Wajib Publikasikan Karya Ilmiah

Fakultas Dakwah dan Komunikasi mendorong dan memotivasi dosen-dosennya untuk bisa memublikasikan karya ilmiahnya minimal satu tahun sekali. Hal ini disampaikan oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik, Dr. Enjang AS.

Menurut Enjang, seluruh dosen, diwajibkan melakukan publikasi karya ilmiah setiap satu tahun sekali. Hal ini disampaikan dalam Workshop Peningkatan Mutu Publikasi Karya Ilmiah Dosen di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor pada Jumat (24/05/2019).

Selain mewajibkan publikasi karya ilmiah bagi dosen, Doktor bidang komunikasi tersebut memberikan penekanan bahwa publikasi ilmiah, khususnya dari hasil penelitian, menjadi syarat wajib agar proposal penelitian diterima oleh LPPM UIN.

“Hal yang tidak kalah pentingnya dari publikasi karya ilmiah adalah untuk kenaikan pangkat. Di Fakultas Dakwah dan Komunikasi sendiri ada jurnal Anida dan communicates yang layak untuk akreditasi, selain ada jurnal Ilmu Dakwah,”pungkas Dr. Enjang.

Hadir sebagai narasumber, Ketua dan Sekretaris Unit Jurnal dan Penerbitan, Dr. Uwes Fatoni, M.Ag. dan Dr. Khoiruddin Muchtar, M.Si.

Workshop diawali oleh Uwes dengan permainan interaktif jurnal dari Kahoot.it. Melalui kahoot.it, Dr. Uwes, selaku pembicara memberikan pertanyaan seputar jurnal, dari mulai nama jurnal terakreditasi fakultas Dakwah, syarat jurnal fakultas Dakwah, cara mencari jurnal terakreditasi hingga teknis pengutipan.  

Melalui permainan tersebut, interaksi terjadi antara peserta yang terdiri dari dosen dan pengelola jurnal di lingkungan fakultas. Sehingga muncul berbagai pertanyaan dari peserta. Seperti diutarakan oleh Indira dan Barjan yang bertanya tentang persoalan pengunduhan gratis melalui situs tertentu.

Dr. Uwes berbagi tips bagaimana mendapatkan referensi gratis tanpa harus melanggar etika, yaitu dengan mendaftar pada perpustakaan nasional. “Di Perpusnas, kita bisa mengakses jurnal dan mendowloadnya dan jurnal yang muncul jurnal yang telah diangap bagus oleh perpusnas,”ujarnya.

Sementara menjawab pertanyaan Barjan, Doktor bidang komunikasi tersebut berbagi pengetahuannya tentang cara melakukan ceking  terhadap plagiarism, yaitu dengan batasan minimal similarity atau kesamaan20 persen. “Selain batas minimal kesamaan 20 persen, sumber kutipan pun tidak boleh dari 2%”, jelasnya.

Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh lulusan Ponpes Darussalam Ciamis ini untuk berbagi pengalaman tentang pengecekan jurnal internasional yang terindeks Scopus. “Untuk mengecek jurnal Scopus, dapat dilihat melalui situs scimagojr.com, untuk mencari jurnal terindeks di Sinta, bisa mencari artikel di Garuda.ristekdikti.go.id. Cara yang paling mudah melihat jurnal tersebut ada di Scopus, cari jurnal yang diterbitkan delapan penerbit besar internasional, misalnya Wiley, ScienceDirect, dan lain-lain,”pungkas Uwes.

Sesi terkahir menghadirkan narasumber, Sekretaris Unit Jurnal dan Penerbitan Jurnal, Dr. Khiruddin Muchtar, M.Si. Menurutnya menerbitkan jurnal sangat mudah, asalkan mengikuti template jurnal yang telah disediakan.***[]