UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Diktis Targetkan Miliki 10 Jurnal Internasional

[uinsgd.ac.id] Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Dirjen Diktis) yang baru menggantikan Prof. Dr. H. Moh. Ali menargetkan dalam kepemimpinannya harus memiliki jurnal Internasional di lingkungan PTAIN sebanyak 10 jurnal Internasional. Hal ini dikatakannya saat memberikan kuliah umum terhadap ratusan mahasiswa pascasarjana, baik program magister ataupun doctor di Aula Al-Jamiah pada Selasa (28/02/2012).Menurut mantan Dekan Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah tersebut, kesepuluh jurnal internasional tersebut harus bermitra bestari dengan ilmuwan dari luar negeri seperti Australia atau Canada. “Alasan kenapa harus menggunakan mitra bestari dari luar negeri karena Negara-negara tersebutlah yang menjadi arus utama informasi ilmu,”jelasnya.Menurut Dada, “Hingga hari ini baru ada 3 jurnal internasional yang dikelola perguruan tinggi agama islam negeri, yakni UIN Jakarta dan UIN Jogja. Untuk jumlah tulisan minimal 12 atau 20 tulisan pertahunnya sehingga bisa dibaca oleh masyarakat dunia.“Penelitian-penelitian harus dilakukan, oleh karena itu harus ada diversifikasi kepada Islamic Tought yang lebih down to earth, lebih membumi,”ujarnya.“Dengan alasan tersebut, kita menjadi sangat butuh tenaga pengajar yang lebih holistic tetapi fokus, dan kita butuh yangkomprehensif tetapi fokus agar bisa masuk ke wilayah yang down to earth, kita ramaikan wilayah yang belum ramai tersebut,”paparnya.Menurut Dada, hal tersebut harus dilakukan karena PTAIN akan meninggalkan tradisi teaching university menuju research university atau entrepreneurship university. “Oleh karena itu perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori, karena pada dasarnya posisi perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori yang akan digunakan untuk aplikasi penelitian,”jelasnya.Menurutnya, dengan banyak melakukan penelitian dan masuk ke jurnal-jurnal internasional, maka teori-teori yang ada akan menambah jumlah indeks, jika teori tersebut banyak dikutif oleh lembaga/ orang lain maka perguruan tinggi tempat peneliti menempa ilmu tersebut akan terkenal.“Agar teori-teori baru dapat digunakan orang secara aplikatif, maka harus merujuk ke kegiatan-kegiatan empiric agar bermanfaat dan menambah nilai keberhasilan sebuah perguruan tinggi,” jelas Dada yakin.Sementara menanggapi soal Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 bertanggal 27 Januari 2012 yang mewajibkan setiap mahasiswa S1, S2, dan S3 membuat dan mempublikasikan karya ilmiahnya melalui jurnal ilmiah. Untuk S1 di jurnal ilmiah kampus setempat, S2 di jurnal nasional yang teakreditasi, dan S3 di jurnal internasional.***[Ibn Ghifarie, Dudi]

[uinsgd.ac.id] Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Dirjen Diktis) yang baru menggantikan Prof. Dr. H. Moh. Ali menargetkan dalam kepemimpinannya harus memiliki jurnal Internasional di lingkungan PTAIN sebanyak 10 jurnal Internasional. Hal ini dikatakannya saat memberikan kuliah umum terhadap ratusan mahasiswa pascasarjana, baik program magister ataupun doctor di Aula Al-Jamiah pada Selasa (28/02/2012).Menurut mantan Dekan Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah tersebut, kesepuluh jurnal internasional tersebut harus bermitra bestari dengan ilmuwan dari luar negeri seperti Australia atau Canada. “Alasan kenapa harus menggunakan mitra bestari dari luar negeri karena Negara-negara tersebutlah yang menjadi arus utama informasi ilmu,”jelasnya.Menurut Dada, “Hingga hari ini baru ada 3 jurnal internasional yang dikelola perguruan tinggi agama islam negeri, yakni UIN Jakarta dan UIN Jogja. Untuk jumlah tulisan minimal 12 atau 20 tulisan pertahunnya sehingga bisa dibaca oleh masyarakat dunia.“Penelitian-penelitian harus dilakukan, oleh karena itu harus ada diversifikasi kepada Islamic Tought yang lebih down to earth, lebih membumi,”ujarnya.“Dengan alasan tersebut, kita menjadi sangat butuh tenaga pengajar yang lebih holistic tetapi fokus, dan kita butuh yangkomprehensif tetapi fokus agar bisa masuk ke wilayah yang down to earth, kita ramaikan wilayah yang belum ramai tersebut,”paparnya.Menurut Dada, hal tersebut harus dilakukan karena PTAIN akan meninggalkan tradisi teaching university menuju research university atau entrepreneurship university. “Oleh karena itu perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori, karena pada dasarnya posisi perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori yang akan digunakan untuk aplikasi penelitian,”jelasnya.Menurutnya, dengan banyak melakukan penelitian dan masuk ke jurnal-jurnal internasional, maka teori-teori yang ada akan menambah jumlah indeks, jika teori tersebut banyak dikutif oleh lembaga/ orang lain maka perguruan tinggi tempat peneliti menempa ilmu tersebut akan terkenal.“Agar teori-teori baru dapat digunakan orang secara aplikatif, maka harus merujuk ke kegiatan-kegiatan empiric agar bermanfaat dan menambah nilai keberhasilan sebuah perguruan tinggi,” jelas Dada yakin.Sementara menanggapi soal Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 bertanggal 27 Januari 2012 yang mewajibkan setiap mahasiswa S1, S2, dan S3 membuat dan mempublikasikan karya ilmiahnya melalui jurnal ilmiah. Untuk S1 di jurnal ilmiah kampus setempat, S2 di jurnal nasional yang teakreditasi, dan S3 di jurnal internasional.***[Ibn Ghifarie, Dudi]

[uinsgd.ac.id] Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Dirjen Diktis) yang baru menggantikan Prof. Dr. H. Moh. Ali menargetkan dalam kepemimpinannya harus memiliki jurnal Internasional di lingkungan PTAIN sebanyak 10 jurnal Internasional. Hal ini dikatakannya saat memberikan kuliah umum terhadap ratusan mahasiswa pascasarjana, baik program magister ataupun doctor di Aula Al-Jamiah pada Selasa (28/02/2012).Menurut mantan Dekan Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah tersebut, kesepuluh jurnal internasional tersebut harus bermitra bestari dengan ilmuwan dari luar negeri seperti Australia atau Canada. “Alasan kenapa harus menggunakan mitra bestari dari luar negeri karena Negara-negara tersebutlah yang menjadi arus utama informasi ilmu,”jelasnya.Menurut Dada, “Hingga hari ini baru ada 3 jurnal internasional yang dikelola perguruan tinggi agama islam negeri, yakni UIN Jakarta dan UIN Jogja. Untuk jumlah tulisan minimal 12 atau 20 tulisan pertahunnya sehingga bisa dibaca oleh masyarakat dunia.“Penelitian-penelitian harus dilakukan, oleh karena itu harus ada diversifikasi kepada Islamic Tought yang lebih down to earth, lebih membumi,”ujarnya.“Dengan alasan tersebut, kita menjadi sangat butuh tenaga pengajar yang lebih holistic tetapi fokus, dan kita butuh yangkomprehensif tetapi fokus agar bisa masuk ke wilayah yang down to earth, kita ramaikan wilayah yang belum ramai tersebut,”paparnya.Menurut Dada, hal tersebut harus dilakukan karena PTAIN akan meninggalkan tradisi teaching university menuju research university atau entrepreneurship university. “Oleh karena itu perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori, karena pada dasarnya posisi perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori yang akan digunakan untuk aplikasi penelitian,”jelasnya.Menurutnya, dengan banyak melakukan penelitian dan masuk ke jurnal-jurnal internasional, maka teori-teori yang ada akan menambah jumlah indeks, jika teori tersebut banyak dikutif oleh lembaga/ orang lain maka perguruan tinggi tempat peneliti menempa ilmu tersebut akan terkenal.“Agar teori-teori baru dapat digunakan orang secara aplikatif, maka harus merujuk ke kegiatan-kegiatan empiric agar bermanfaat dan menambah nilai keberhasilan sebuah perguruan tinggi,” jelas Dada yakin.Sementara menanggapi soal Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 bertanggal 27 Januari 2012 yang mewajibkan setiap mahasiswa S1, S2, dan S3 membuat dan mempublikasikan karya ilmiahnya melalui jurnal ilmiah. Untuk S1 di jurnal ilmiah kampus setempat, S2 di jurnal nasional yang teakreditasi, dan S3 di jurnal internasional.***[Ibn Ghifarie, Dudi]

[uinsgd.ac.id] Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Dirjen Diktis) yang baru menggantikan Prof. Dr. H. Moh. Ali menargetkan dalam kepemimpinannya harus memiliki jurnal Internasional di lingkungan PTAIN sebanyak 10 jurnal Internasional. Hal ini dikatakannya saat memberikan kuliah umum terhadap ratusan mahasiswa pascasarjana, baik program magister ataupun doctor di Aula Al-Jamiah pada Selasa (28/02/2012).Menurut mantan Dekan Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah tersebut, kesepuluh jurnal internasional tersebut harus bermitra bestari dengan ilmuwan dari luar negeri seperti Australia atau Canada. “Alasan kenapa harus menggunakan mitra bestari dari luar negeri karena Negara-negara tersebutlah yang menjadi arus utama informasi ilmu,”jelasnya.Menurut Dada, “Hingga hari ini baru ada 3 jurnal internasional yang dikelola perguruan tinggi agama islam negeri, yakni UIN Jakarta dan UIN Jogja. Untuk jumlah tulisan minimal 12 atau 20 tulisan pertahunnya sehingga bisa dibaca oleh masyarakat dunia.“Penelitian-penelitian harus dilakukan, oleh karena itu harus ada diversifikasi kepada Islamic Tought yang lebih down to earth, lebih membumi,”ujarnya.“Dengan alasan tersebut, kita menjadi sangat butuh tenaga pengajar yang lebih holistic tetapi fokus, dan kita butuh yangkomprehensif tetapi fokus agar bisa masuk ke wilayah yang down to earth, kita ramaikan wilayah yang belum ramai tersebut,”paparnya.Menurut Dada, hal tersebut harus dilakukan karena PTAIN akan meninggalkan tradisi teaching university menuju research university atau entrepreneurship university. “Oleh karena itu perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori, karena pada dasarnya posisi perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori yang akan digunakan untuk aplikasi penelitian,”jelasnya.Menurutnya, dengan banyak melakukan penelitian dan masuk ke jurnal-jurnal internasional, maka teori-teori yang ada akan menambah jumlah indeks, jika teori tersebut banyak dikutif oleh lembaga/ orang lain maka perguruan tinggi tempat peneliti menempa ilmu tersebut akan terkenal.“Agar teori-teori baru dapat digunakan orang secara aplikatif, maka harus merujuk ke kegiatan-kegiatan empiric agar bermanfaat dan menambah nilai keberhasilan sebuah perguruan tinggi,” jelas Dada yakin.Sementara menanggapi soal Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 bertanggal 27 Januari 2012 yang mewajibkan setiap mahasiswa S1, S2, dan S3 membuat dan mempublikasikan karya ilmiahnya melalui jurnal ilmiah. Untuk S1 di jurnal ilmiah kampus setempat, S2 di jurnal nasional yang teakreditasi, dan S3 di jurnal internasional.***[Ibn Ghifarie, Dudi]

[uinsgd.ac.id] Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA., Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Islam (Dirjen Diktis) yang baru menggantikan Prof. Dr. H. Moh. Ali menargetkan dalam kepemimpinannya harus memiliki jurnal Internasional di lingkungan PTAIN sebanyak 10 jurnal Internasional. Hal ini dikatakannya saat memberikan kuliah umum terhadap ratusan mahasiswa pascasarjana, baik program magister ataupun doctor di Aula Al-Jamiah pada Selasa (28/02/2012).Menurut mantan Dekan Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah tersebut, kesepuluh jurnal internasional tersebut harus bermitra bestari dengan ilmuwan dari luar negeri seperti Australia atau Canada. “Alasan kenapa harus menggunakan mitra bestari dari luar negeri karena Negara-negara tersebutlah yang menjadi arus utama informasi ilmu,”jelasnya.Menurut Dada, “Hingga hari ini baru ada 3 jurnal internasional yang dikelola perguruan tinggi agama islam negeri, yakni UIN Jakarta dan UIN Jogja. Untuk jumlah tulisan minimal 12 atau 20 tulisan pertahunnya sehingga bisa dibaca oleh masyarakat dunia.“Penelitian-penelitian harus dilakukan, oleh karena itu harus ada diversifikasi kepada Islamic Tought yang lebih down to earth, lebih membumi,”ujarnya.“Dengan alasan tersebut, kita menjadi sangat butuh tenaga pengajar yang lebih holistic tetapi fokus, dan kita butuh yangkomprehensif tetapi fokus agar bisa masuk ke wilayah yang down to earth, kita ramaikan wilayah yang belum ramai tersebut,”paparnya.Menurut Dada, hal tersebut harus dilakukan karena PTAIN akan meninggalkan tradisi teaching university menuju research university atau entrepreneurship university. “Oleh karena itu perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori, karena pada dasarnya posisi perguruan tinggi harus mampu melahirkan teori yang akan digunakan untuk aplikasi penelitian,”jelasnya.Menurutnya, dengan banyak melakukan penelitian dan masuk ke jurnal-jurnal internasional, maka teori-teori yang ada akan menambah jumlah indeks, jika teori tersebut banyak dikutif oleh lembaga/ orang lain maka perguruan tinggi tempat peneliti menempa ilmu tersebut akan terkenal.“Agar teori-teori baru dapat digunakan orang secara aplikatif, maka harus merujuk ke kegiatan-kegiatan empiric agar bermanfaat dan menambah nilai keberhasilan sebuah perguruan tinggi,” jelas Dada yakin.Sementara menanggapi soal Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti No. 152/E/T/2012 bertanggal 27 Januari 2012 yang mewajibkan setiap mahasiswa S1, S2, dan S3 membuat dan mempublikasikan karya ilmiahnya melalui jurnal ilmiah. Untuk S1 di jurnal ilmiah kampus setempat, S2 di jurnal nasional yang teakreditasi, dan S3 di jurnal internasional.***[Ibn Ghifarie, Dudi]