UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Di Mata Tuhan Tetap Sama

Kasus yang menimpa DIB, mahasiswa kimia ITB atas penulisan status akun Facebooknya yang bernada rasis membuat berang masyarakat Papua dengan menggelar aksi damai di depan Kampus ITB Jln. Ganeca, Kota Bandung, Selasa (18/5) atas nama Solidaritas Mahasiswa Papua Peduli Antirasis di Indonesia. Mereka mengutuk perilaku rasis yang masih terjadi terhadap mereka di Indonesia.Kejadian itu berawal dari kekesalan pascapertandingan sepak bola antara Persib versus Persipura pada 2 Mei 2010 lalu yang dimenangi oleh Persipura.Kendati DIB telah meminta maaf atas kesalahannya, Kampus ITB bersikap tegas dengan menskornya. (Pikiran Rakyat, 19/5).AntirasismeKejadian ganjil di jejaring sosial ini bukan kali pertama. Yang jelas gerakan antirasisme harus kita dengungkan, karena Tuhan tidak membeda-bedakan jenis kelamin (laki-laki atau perempuan); warna kulit (hitam, putih, merah); rambut (keriting, lurus, kribo); suku (Sunda, Jawa, Papua, Bugis, Minang) kecuali derajat takwanya. Ini termaktub dalam Q.S. Al-Hujuraat : 13, “Hai manusia kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbagai suku dan kabilah agar kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa.”Dalam saru riwayat, Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang dilebihkan dari seorang Arab ataupun luar Arab, antara orang berkulit merah (hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan takwa.”Dalam konteks keindonesiaan upaya menjungjung tinggi harkat martabat bangsa dengan memberikan kedudukan yang sama kepada semua warga negara ini dipelopori oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.Apa yang dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid dalam membebaskan warga Tionghoa atas belenggu, bukan semata-mata sebagai sosok yang memecundangi rezim Orde Baru. Namun, Gus Dur berupaya memperjuangkan antirasisme dan menghormati kebudayaan negara lain.Maka sangat relevan di balik gagasan Abdurrahman Wahid ketika menghapus segala peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif di tubuh Indonesia. Lahirnya gagasan tersebut bertujuan agar nilai-nilai yang terkandung dalam spirit antirasisme memantul ke dalam jiwa dan kehidupan seluruh elemen bangsa. Nilai ketulusan, semangat perjuangan antirasisme, serta menghormati terhadap sesama antarwarga bangsa. Ini sangat penting untuk masa depan bangsa di masa mendatang. (Pikiran Rakyat, 11/2)Saling memaafkanTak hanya gerakan antirasisme yang harus digalakkan, sikap saling memaafkan juga harus kita tumbuhkan. Apalagi masyarakat Jawa Barat sangat memegang pandangan hidup yang berasal dari akal (pintar, pandai, cerdas, cerdik, arif, berpengalaman luas, dan menjunjung tinggi kebenaran); budi (jujur, suci, pendirian, takwa, tidak takabur, siger tengah, bageur, bijaksana, berjiwa kerakyatan, malu, taat pada orang tua, punya harga diri, setia, bisa dipercaya); semangat (idealisme, sabar, percaya kepada takdir, tabah, belajar, berikhtiar, rajin, hidup bermakna, berani, satria, ulet, tahan godaan, khusuk dalam berdoa); tingkah laku (sederhana, matang perhitungan, menolong, sopan, waspada, teliti, tahu diri, ramah, tidak licik, menepati janji, hemat, tidak banyak bicara, punya keterampilan).Meski kedengarannya gampang saling memaafkan, tetapi pada kenyataannya susah. Padahal Musa disuruh Tuhan untuk berkata ke Firaun yang merasa dirinya sebagai Raja sekaligus Tuhan dengan lemah lembut.Dapatkah dipastikan kita tidak mengulangi perbuatan tak terpuji dengan menulis status rasis di jejaring sosial. Patutlah kita kita tiru slogan yang sering muncul dalam setiap pertandingan sepak bola di seantero jagad, yaitu say no to racism. Mari kita mulai dari dalam diri kita sendiri. Wallahualam.***M. ANTON ATHOILLAH, Asdir Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sumber, Pikiran Rakyat, 29 Mei 2010

Kasus yang menimpa DIB, mahasiswa kimia ITB atas penulisan status akun Facebooknya yang bernada rasis membuat berang masyarakat Papua dengan menggelar aksi damai di depan Kampus ITB Jln. Ganeca, Kota Bandung, Selasa (18/5) atas nama Solidaritas Mahasiswa Papua Peduli Antirasis di Indonesia. Mereka mengutuk perilaku rasis yang masih terjadi terhadap mereka di Indonesia.Kejadian itu berawal dari kekesalan pascapertandingan sepak bola antara Persib versus Persipura pada 2 Mei 2010 lalu yang dimenangi oleh Persipura.Kendati DIB telah meminta maaf atas kesalahannya, Kampus ITB bersikap tegas dengan menskornya. (Pikiran Rakyat, 19/5).AntirasismeKejadian ganjil di jejaring sosial ini bukan kali pertama. Yang jelas gerakan antirasisme harus kita dengungkan, karena Tuhan tidak membeda-bedakan jenis kelamin (laki-laki atau perempuan); warna kulit (hitam, putih, merah); rambut (keriting, lurus, kribo); suku (Sunda, Jawa, Papua, Bugis, Minang) kecuali derajat takwanya. Ini termaktub dalam Q.S. Al-Hujuraat : 13, “Hai manusia kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbagai suku dan kabilah agar kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa.”Dalam saru riwayat, Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang dilebihkan dari seorang Arab ataupun luar Arab, antara orang berkulit merah (hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan takwa.”Dalam konteks keindonesiaan upaya menjungjung tinggi harkat martabat bangsa dengan memberikan kedudukan yang sama kepada semua warga negara ini dipelopori oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.Apa yang dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid dalam membebaskan warga Tionghoa atas belenggu, bukan semata-mata sebagai sosok yang memecundangi rezim Orde Baru. Namun, Gus Dur berupaya memperjuangkan antirasisme dan menghormati kebudayaan negara lain.Maka sangat relevan di balik gagasan Abdurrahman Wahid ketika menghapus segala peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif di tubuh Indonesia. Lahirnya gagasan tersebut bertujuan agar nilai-nilai yang terkandung dalam spirit antirasisme memantul ke dalam jiwa dan kehidupan seluruh elemen bangsa. Nilai ketulusan, semangat perjuangan antirasisme, serta menghormati terhadap sesama antarwarga bangsa. Ini sangat penting untuk masa depan bangsa di masa mendatang. (Pikiran Rakyat, 11/2)Saling memaafkanTak hanya gerakan antirasisme yang harus digalakkan, sikap saling memaafkan juga harus kita tumbuhkan. Apalagi masyarakat Jawa Barat sangat memegang pandangan hidup yang berasal dari akal (pintar, pandai, cerdas, cerdik, arif, berpengalaman luas, dan menjunjung tinggi kebenaran); budi (jujur, suci, pendirian, takwa, tidak takabur, siger tengah, bageur, bijaksana, berjiwa kerakyatan, malu, taat pada orang tua, punya harga diri, setia, bisa dipercaya); semangat (idealisme, sabar, percaya kepada takdir, tabah, belajar, berikhtiar, rajin, hidup bermakna, berani, satria, ulet, tahan godaan, khusuk dalam berdoa); tingkah laku (sederhana, matang perhitungan, menolong, sopan, waspada, teliti, tahu diri, ramah, tidak licik, menepati janji, hemat, tidak banyak bicara, punya keterampilan).Meski kedengarannya gampang saling memaafkan, tetapi pada kenyataannya susah. Padahal Musa disuruh Tuhan untuk berkata ke Firaun yang merasa dirinya sebagai Raja sekaligus Tuhan dengan lemah lembut.Dapatkah dipastikan kita tidak mengulangi perbuatan tak terpuji dengan menulis status rasis di jejaring sosial. Patutlah kita kita tiru slogan yang sering muncul dalam setiap pertandingan sepak bola di seantero jagad, yaitu say no to racism. Mari kita mulai dari dalam diri kita sendiri. Wallahualam.***M. ANTON ATHOILLAH, Asdir Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sumber, Pikiran Rakyat, 29 Mei 2010

Kasus yang menimpa DIB, mahasiswa kimia ITB atas penulisan status akun Facebooknya yang bernada rasis membuat berang masyarakat Papua dengan menggelar aksi damai di depan Kampus ITB Jln. Ganeca, Kota Bandung, Selasa (18/5) atas nama Solidaritas Mahasiswa Papua Peduli Antirasis di Indonesia. Mereka mengutuk perilaku rasis yang masih terjadi terhadap mereka di Indonesia.Kejadian itu berawal dari kekesalan pascapertandingan sepak bola antara Persib versus Persipura pada 2 Mei 2010 lalu yang dimenangi oleh Persipura.Kendati DIB telah meminta maaf atas kesalahannya, Kampus ITB bersikap tegas dengan menskornya. (Pikiran Rakyat, 19/5).AntirasismeKejadian ganjil di jejaring sosial ini bukan kali pertama. Yang jelas gerakan antirasisme harus kita dengungkan, karena Tuhan tidak membeda-bedakan jenis kelamin (laki-laki atau perempuan); warna kulit (hitam, putih, merah); rambut (keriting, lurus, kribo); suku (Sunda, Jawa, Papua, Bugis, Minang) kecuali derajat takwanya. Ini termaktub dalam Q.S. Al-Hujuraat : 13, “Hai manusia kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbagai suku dan kabilah agar kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa.”Dalam saru riwayat, Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang dilebihkan dari seorang Arab ataupun luar Arab, antara orang berkulit merah (hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan takwa.”Dalam konteks keindonesiaan upaya menjungjung tinggi harkat martabat bangsa dengan memberikan kedudukan yang sama kepada semua warga negara ini dipelopori oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.Apa yang dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid dalam membebaskan warga Tionghoa atas belenggu, bukan semata-mata sebagai sosok yang memecundangi rezim Orde Baru. Namun, Gus Dur berupaya memperjuangkan antirasisme dan menghormati kebudayaan negara lain.Maka sangat relevan di balik gagasan Abdurrahman Wahid ketika menghapus segala peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif di tubuh Indonesia. Lahirnya gagasan tersebut bertujuan agar nilai-nilai yang terkandung dalam spirit antirasisme memantul ke dalam jiwa dan kehidupan seluruh elemen bangsa. Nilai ketulusan, semangat perjuangan antirasisme, serta menghormati terhadap sesama antarwarga bangsa. Ini sangat penting untuk masa depan bangsa di masa mendatang. (Pikiran Rakyat, 11/2)Saling memaafkanTak hanya gerakan antirasisme yang harus digalakkan, sikap saling memaafkan juga harus kita tumbuhkan. Apalagi masyarakat Jawa Barat sangat memegang pandangan hidup yang berasal dari akal (pintar, pandai, cerdas, cerdik, arif, berpengalaman luas, dan menjunjung tinggi kebenaran); budi (jujur, suci, pendirian, takwa, tidak takabur, siger tengah, bageur, bijaksana, berjiwa kerakyatan, malu, taat pada orang tua, punya harga diri, setia, bisa dipercaya); semangat (idealisme, sabar, percaya kepada takdir, tabah, belajar, berikhtiar, rajin, hidup bermakna, berani, satria, ulet, tahan godaan, khusuk dalam berdoa); tingkah laku (sederhana, matang perhitungan, menolong, sopan, waspada, teliti, tahu diri, ramah, tidak licik, menepati janji, hemat, tidak banyak bicara, punya keterampilan).Meski kedengarannya gampang saling memaafkan, tetapi pada kenyataannya susah. Padahal Musa disuruh Tuhan untuk berkata ke Firaun yang merasa dirinya sebagai Raja sekaligus Tuhan dengan lemah lembut.Dapatkah dipastikan kita tidak mengulangi perbuatan tak terpuji dengan menulis status rasis di jejaring sosial. Patutlah kita kita tiru slogan yang sering muncul dalam setiap pertandingan sepak bola di seantero jagad, yaitu say no to racism. Mari kita mulai dari dalam diri kita sendiri. Wallahualam.***M. ANTON ATHOILLAH, Asdir Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sumber, Pikiran Rakyat, 29 Mei 2010

Kasus yang menimpa DIB, mahasiswa kimia ITB atas penulisan status akun Facebooknya yang bernada rasis membuat berang masyarakat Papua dengan menggelar aksi damai di depan Kampus ITB Jln. Ganeca, Kota Bandung, Selasa (18/5) atas nama Solidaritas Mahasiswa Papua Peduli Antirasis di Indonesia. Mereka mengutuk perilaku rasis yang masih terjadi terhadap mereka di Indonesia.Kejadian itu berawal dari kekesalan pascapertandingan sepak bola antara Persib versus Persipura pada 2 Mei 2010 lalu yang dimenangi oleh Persipura.Kendati DIB telah meminta maaf atas kesalahannya, Kampus ITB bersikap tegas dengan menskornya. (Pikiran Rakyat, 19/5).AntirasismeKejadian ganjil di jejaring sosial ini bukan kali pertama. Yang jelas gerakan antirasisme harus kita dengungkan, karena Tuhan tidak membeda-bedakan jenis kelamin (laki-laki atau perempuan); warna kulit (hitam, putih, merah); rambut (keriting, lurus, kribo); suku (Sunda, Jawa, Papua, Bugis, Minang) kecuali derajat takwanya. Ini termaktub dalam Q.S. Al-Hujuraat : 13, “Hai manusia kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbagai suku dan kabilah agar kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa.”Dalam saru riwayat, Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang dilebihkan dari seorang Arab ataupun luar Arab, antara orang berkulit merah (hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan takwa.”Dalam konteks keindonesiaan upaya menjungjung tinggi harkat martabat bangsa dengan memberikan kedudukan yang sama kepada semua warga negara ini dipelopori oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.Apa yang dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid dalam membebaskan warga Tionghoa atas belenggu, bukan semata-mata sebagai sosok yang memecundangi rezim Orde Baru. Namun, Gus Dur berupaya memperjuangkan antirasisme dan menghormati kebudayaan negara lain.Maka sangat relevan di balik gagasan Abdurrahman Wahid ketika menghapus segala peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif di tubuh Indonesia. Lahirnya gagasan tersebut bertujuan agar nilai-nilai yang terkandung dalam spirit antirasisme memantul ke dalam jiwa dan kehidupan seluruh elemen bangsa. Nilai ketulusan, semangat perjuangan antirasisme, serta menghormati terhadap sesama antarwarga bangsa. Ini sangat penting untuk masa depan bangsa di masa mendatang. (Pikiran Rakyat, 11/2)Saling memaafkanTak hanya gerakan antirasisme yang harus digalakkan, sikap saling memaafkan juga harus kita tumbuhkan. Apalagi masyarakat Jawa Barat sangat memegang pandangan hidup yang berasal dari akal (pintar, pandai, cerdas, cerdik, arif, berpengalaman luas, dan menjunjung tinggi kebenaran); budi (jujur, suci, pendirian, takwa, tidak takabur, siger tengah, bageur, bijaksana, berjiwa kerakyatan, malu, taat pada orang tua, punya harga diri, setia, bisa dipercaya); semangat (idealisme, sabar, percaya kepada takdir, tabah, belajar, berikhtiar, rajin, hidup bermakna, berani, satria, ulet, tahan godaan, khusuk dalam berdoa); tingkah laku (sederhana, matang perhitungan, menolong, sopan, waspada, teliti, tahu diri, ramah, tidak licik, menepati janji, hemat, tidak banyak bicara, punya keterampilan).Meski kedengarannya gampang saling memaafkan, tetapi pada kenyataannya susah. Padahal Musa disuruh Tuhan untuk berkata ke Firaun yang merasa dirinya sebagai Raja sekaligus Tuhan dengan lemah lembut.Dapatkah dipastikan kita tidak mengulangi perbuatan tak terpuji dengan menulis status rasis di jejaring sosial. Patutlah kita kita tiru slogan yang sering muncul dalam setiap pertandingan sepak bola di seantero jagad, yaitu say no to racism. Mari kita mulai dari dalam diri kita sendiri. Wallahualam.***M. ANTON ATHOILLAH, Asdir Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sumber, Pikiran Rakyat, 29 Mei 2010

Kasus yang menimpa DIB, mahasiswa kimia ITB atas penulisan status akun Facebooknya yang bernada rasis membuat berang masyarakat Papua dengan menggelar aksi damai di depan Kampus ITB Jln. Ganeca, Kota Bandung, Selasa (18/5) atas nama Solidaritas Mahasiswa Papua Peduli Antirasis di Indonesia. Mereka mengutuk perilaku rasis yang masih terjadi terhadap mereka di Indonesia.Kejadian itu berawal dari kekesalan pascapertandingan sepak bola antara Persib versus Persipura pada 2 Mei 2010 lalu yang dimenangi oleh Persipura.Kendati DIB telah meminta maaf atas kesalahannya, Kampus ITB bersikap tegas dengan menskornya. (Pikiran Rakyat, 19/5).AntirasismeKejadian ganjil di jejaring sosial ini bukan kali pertama. Yang jelas gerakan antirasisme harus kita dengungkan, karena Tuhan tidak membeda-bedakan jenis kelamin (laki-laki atau perempuan); warna kulit (hitam, putih, merah); rambut (keriting, lurus, kribo); suku (Sunda, Jawa, Papua, Bugis, Minang) kecuali derajat takwanya. Ini termaktub dalam Q.S. Al-Hujuraat : 13, “Hai manusia kami ciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kalian berbagai suku dan kabilah agar kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa.”Dalam saru riwayat, Rasulullah bersabda, “Tidak ada yang dilebihkan dari seorang Arab ataupun luar Arab, antara orang berkulit merah (hitam) atas orang berkulit putih, kecuali dengan takwa.”Dalam konteks keindonesiaan upaya menjungjung tinggi harkat martabat bangsa dengan memberikan kedudukan yang sama kepada semua warga negara ini dipelopori oleh K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan dicabutnya Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 yang melarang segala aktivitas berbau Tionghoa dan SE Menteri Dalam Negeri Nomor 477/74054/BA.01.2/4683/95.Apa yang dilakukan Presiden Abdurrahman Wahid dalam membebaskan warga Tionghoa atas belenggu, bukan semata-mata sebagai sosok yang memecundangi rezim Orde Baru. Namun, Gus Dur berupaya memperjuangkan antirasisme dan menghormati kebudayaan negara lain.Maka sangat relevan di balik gagasan Abdurrahman Wahid ketika menghapus segala peraturan yang bersifat rasis dan diskriminatif di tubuh Indonesia. Lahirnya gagasan tersebut bertujuan agar nilai-nilai yang terkandung dalam spirit antirasisme memantul ke dalam jiwa dan kehidupan seluruh elemen bangsa. Nilai ketulusan, semangat perjuangan antirasisme, serta menghormati terhadap sesama antarwarga bangsa. Ini sangat penting untuk masa depan bangsa di masa mendatang. (Pikiran Rakyat, 11/2)Saling memaafkanTak hanya gerakan antirasisme yang harus digalakkan, sikap saling memaafkan juga harus kita tumbuhkan. Apalagi masyarakat Jawa Barat sangat memegang pandangan hidup yang berasal dari akal (pintar, pandai, cerdas, cerdik, arif, berpengalaman luas, dan menjunjung tinggi kebenaran); budi (jujur, suci, pendirian, takwa, tidak takabur, siger tengah, bageur, bijaksana, berjiwa kerakyatan, malu, taat pada orang tua, punya harga diri, setia, bisa dipercaya); semangat (idealisme, sabar, percaya kepada takdir, tabah, belajar, berikhtiar, rajin, hidup bermakna, berani, satria, ulet, tahan godaan, khusuk dalam berdoa); tingkah laku (sederhana, matang perhitungan, menolong, sopan, waspada, teliti, tahu diri, ramah, tidak licik, menepati janji, hemat, tidak banyak bicara, punya keterampilan).Meski kedengarannya gampang saling memaafkan, tetapi pada kenyataannya susah. Padahal Musa disuruh Tuhan untuk berkata ke Firaun yang merasa dirinya sebagai Raja sekaligus Tuhan dengan lemah lembut.Dapatkah dipastikan kita tidak mengulangi perbuatan tak terpuji dengan menulis status rasis di jejaring sosial. Patutlah kita kita tiru slogan yang sering muncul dalam setiap pertandingan sepak bola di seantero jagad, yaitu say no to racism. Mari kita mulai dari dalam diri kita sendiri. Wallahualam.***M. ANTON ATHOILLAH, Asdir Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sumber, Pikiran Rakyat, 29 Mei 2010