UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Dampak Era 4.0 Diprediksi Makin Munculkan Problem Kemanusiaan

Dampak era 4.0 diprediksi semakin memunculkan problem kemanusiaan, seperti tergerusnya nilai-nilai kemanusiaan (humaniora) dan local wisdom, karena terkooptasi oleh relasi dan kultur mekanik layaknya mesin. Relasi manusia pun semakin mekanistik, individualistik, dan manusia layaknya robot yang hidup.

Hal itu dikatakan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung,Dr. H. Setia Gumilar, M.Si., saat pembukaan International Conference on Humanities and Islamic Cilization (ICON-HIC) 2019 di Hotel Grand Aquila, Jalan Dr. Djunjunan No.116, Sukagalih, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Rabu (26/06/2019) malam.

“Untuk mengantisipasi dampak revolusi industri 4.0 ini, harus diupayakan banyak kalangan, seperti yang dilakukan Pemerintah Jepang yang mengupayakan grand design masyarakat 5.0, yakni masyarakat humanis yang mampu menggunakan ipteks namun tetap humanis. Dengan demikian, revolusi industri dan disrupsi dapat diposisikan sebagai tantangan (challange), sekaligus kesempatan (opportunity) bagi ipteks dalam dunia pendidikan,” kata Setia Gumilar.

Di tengah-tengah perubahan itu, kata Setia Gumilar, masyarakat muslim dunia, khususnya Indonesia, masih mengalami dinamika dan perkembangan di tengah-tengah modernisasi, globalisasi, dan hegemoni peradaban Barat (Eropa dan Amerika), yang seakan-akan semakin menegaskan adanya clash of civilization. Umumnya, masyarakat muslim masih berjibaku untuk bangkit dari kemiskinan, kesenjangan Indeks Persepsi Manusia (IPM), serta ketertinggalan dalam ipteks.

“Akhir-akhir ini, masyarakat muslim pun masih menghadapi tentang isu radikalisme, terorisme, serta peningkatan eskalasi politik transnasional, terutama setelah Arab Spring,”tuturnya.

FAH UIN SGD Bandung sebagai bagian dari lembaga pendidikan Islam, lanjut Setia Gumilar,dituntut berperan aktif dalam pengembangan ipteks dan masyarakat yang memiliki keseimbangan antara etos pengembangan ipteks dengan prophetic ethics, khususnya terkait dengan tridarma perguruan tinggi. Caranya dengan memasilitasi forum ilmiah, menciptakan iklim kondusif untuk penelitian dan publikasi karya-karya ilmiah yang strategis dalam pengembangan masyarakat muslim.

Setia Gumilar berharap dengan digelarnya konferensi internasional ini merupakan bagian dari upaya untuk terus mengembangkan penelitian dan pengembangan dunia keilmuan berparadigma wahyu memandu ilmu (WMI), teori dan metode dalam kajian humaniora dan peradaban Islam secara ingtegratif dan holistik melalui multidisciplinary approach.  

Konferensi internasional tersebut digelar FAH UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Asosiasi Dosen Ilmu-ilmu Adab (ADIA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia, yang mengghadirkan para pembicara

Tampil sebagai pembicara pada konferensi internasional ICON HIC 2019 bertajuk “Penguatan khazanah lokal dan budaya Islam dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0” ini, yaituRonald Lukens-Bull, Ph.D (Universitas North-Florida, USA), Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag (UIN Sunan Kalijaga, Indonesia), Prof. Dudung Abdurrahman, M.Hum (UIN Sunan Kalijaga, Indonesia), Talal Ahmad el-Awwad el-Hassan, Ph.D (Sudan), Dr. Tengsoe Tjahjono (UNESA, Surabaya), dan Dr. Ajid Thohir, M.Ag (UIN Sunan Gunung Djati, Indonesia).

ICON HIC 2019 yang diselenggarakan pada 26-28 Juni 2019 ini merupakan bagian dari pertemuan Forum Dekan Fakultas Adab PTKIN se-Indonesia yang ke 19 dan ke 12 kali pertemuan tahunan ADIA sejak 2000 yang dimulai di FAH UIN Ar-Raniri Aceh.*(Hariyawan, Ude D Gunadi)

Sumber, Berita Politik Online Kamis, 27 Juni, 2019 | 10: 07: 42