UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Curang

Kisah ini masyhur, memberikan pelajaran tentang pentingnya berlaku jujur, berusahalah agar tidak berlaku curang. Suatu pagi, Rasulullah Saw bersama sahabat sedang mengunjungi pasar. Dilihatnya makanan di seorang pedagang yang atasnya bagus, namun di bawahnya sudah jelek, busuk. Rupanya pedagang itu dengan sengaja hendak menipu. Rasulullah Saw pun menanyakannya, dijawab oleh pedagang itu dengan alasan bahwa makanan itu basah karena terkena hujan. Rasulullah Saw tahu bahwa itu merupakan tindak curang pedagang tersebut dan bersabda: “…barang siapa yang menipu kami, berarti bukan termasuk golongan kami.”

Menakutkan sekali bilamana kita tidak diakui sebagai golongan umat Rasulullah Saw bukan? Jauhlah keselamatan itu bagi kita. Tentu saja, hikmah dari kisah ini tidak hanya ditujukan kepada para pedagang, tapi kepada profesi apapun yang tengah dijalani. 

Dengan tetangga atau teman, boleh jadi kita pernah curang, atau saat melayani masyarakat, atasan ke bawahan, atau bawahan ke atasan, menjadi penyelenggara pemilu, penegak hukum juga profesi-profesi lainnya, yang boleh jadi tindakan curang dilakukan dan itu tak disadari. Segeralah diperbaiki sistemnya begitu kita menyadarinya dan bilamana bersifat personal, mintalah maaf. Perkara kemudian orang tersebut tidak memaafkan, biarlah Allah swt yang menilainya.  

Peringatan bahwa kita harus menghindari sifat curang, diperingatkan dengan keras dalam Alquran surah Al-Muthaffifin. “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang; (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi. Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam,” (Al Muthaffifin [83]: 1-6).

Sedari awal, Allah Swt sudah memperingatkan bahwa manusia memiliki sifat  ingin untung sendiri. Bukan hanya mungkin dilakukan pedagang, pembeli pun bisa melakukannya. Pengertian pedagang dan pembeli pun bukan sekedar dalam pengertian umum, sebagaimana dipahami. Lebih dari itu, dimaknai juga dalam pengertian pelayanan di birokrasi, pelayanan publik atau interaksi mualamah lainnya. Dimana, ada pihak yang dilayani dan melayani. Ketika terjadi kecurangan, ada yang dirugikan ada yang diuntungkan. Islam jelas dan tegas melarang hal itu terjadi.

Bahkan, melalui ayat tersebut, Allah Swt telah memperingatkan bahwa perilaku curang itu akan membawa kepada kecelakaan. Bukan hanya kecelakaan di dunia, tapi juga di akhirat. Untuk itu, jujur dan jagalah amanah. Amanah merupakan pondasi kesuksesakan. 

Sikap amanah, menjaga integritas itu harus dikembangkan ke arah yang lebih bermanfaat. Misalnya, dalam setiap praktik bisnis mesti dipenuhi dengan kejujuran, kesederhanaan, dan menjunjung tinggi etika kebenaran. Saat berada di arena politik, tidak menggunakan cara-cara salah dan melanggar hukum. Menjadi guru atau dosen, mendidik dengan sungguh-sungguh, memberikan penilaian dengan objektif.

Lebih lanjut mampu mengembangkan etos kerja yang berorientasi pada kemajuan dan keunggulan kinerja. Dijadikan kekuatan pendorong yang kuat untuk menancapkan motivasi dan etos kerja yang selalu mengacu pada prestasi terbaik. Sebuah niat suci, persembahan kinerja istimewa dengan dilatari oleh niat suci untuk beribadah kepada-Nya.  Sadarilah, curang kepada orang lain sesungguhnya tengah curang pada diri sendiri, juga merupakan bentuk pengingkaran kepada amanah yang diberikan oleh Yang Maha Adil. Wallaahu’alam.

Iu Rusliana, Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jabar-Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin UIN Bandung.

Sumber, Hikmah Republika 11 Maret 2017