UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

CSSMoRA Gelar Bedah Buku Jejaring Terorisme di Indonesia

[www.uinsgd.ac.id] Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSSMoRA) bekerjsama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKTP), Peace Generation Indonesia menggelar Bedah Buku “Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia” dengan menghadirkan narasumber:  AKBP Dr H Abdul Muis, BJ, SH, MH (Satgas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme/Kasubdit IV Intelkam Polda Jabar), Ayi Yunus Rusyana, M.Ag (Aktivis Peace Generation Indonesia) di aula Student Center UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis (10/11)

Dalam sambutannya Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung DJati Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag, mengatakan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan Allah dengan pesan perdamaian sebagaimana mengakhiri shalat dengan salam (keselamatan atau perdamaian, red).

“Ajaran Islam itu sendiri secara inheren mestinya tidak melahirkan kisruh seperti ketika kita shalat, terdapat salam yang artinya damai,” tegas Prof Rosihon dihadapan 125 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen dan berbagai elemen organisasi.

AKBP Abdul Muis menguraikan tentang kasus dan peta penyebaran aliran garis keras dan gerakan teroris yang terdapat di Jawa Barat. “Jawa Barat termasuk 5P, sebagai tempai perekrutan, pelatihan, persiapan, pelaksanaan, persembunyian, dan memang ada semua di Jawa Barat,” jelasnya.

“Mereka sekarang tidak bergerak berdasarkan kelompok, mereka bergerak masing-masing tanpa memberitahu kelompok dan temannya. Mereka sudah tidak terikat dengan organisasi,” imbuhnya.

Menurut Haji Muis itu menceritakan pengalamannya menemui beberapa orang aliran garis keras dan pelaku pemboman yang terjadi di Jawa Barat. “Jangan sentuh ideologi kita dan kami tidak mungkin berubah sampai mati, karena kami sudah bersumpah kalau kami sudah ikrar maka neraka bagi kami tapi sentuhlah nurani kami,” ucapnya 

Secara ringkas AKBP Abdul Muis memetakan isi buku dalam beberapa poin utama, seperti profil belasan organisasi radikal, tipe-tipe radikalisme, sampai rekomendasi bagaimana menanggulangi terorisme.

Ia menghimbau kepada para mahasiswa supaya berhati-hati dari segala bentuk ajakan-ajakan yang mengenakkan akan tetapi bertentangan dengan agama. Jadi jangan terbuai dengan segala bujuk rayu yang manis awalnya, dienakkan di nina bobokan, akhirnya berhutang budi, kemudian akhirnya mengikuti.

“Semoga setelah ini menjadi jurkam-jurkam anti radikalisme anti terorisme. Di buku ini, tidak bisa kita menyelesaikan terorisme hanya dengan represi. Dan harus diperangi dengan deradikalisasi,” harapnya.

Bagi Ayi Yunus Rusyana sebagai pembanding memaparkan fenomena keterlibatan mahasiswa dari suatu kampus dalam kasus pengeboman di JW Marriot Jakarta.

Ayi menjelas bagaimana pentingnya perdamaian, terutama untuk menanggulangi kasus-kasus intoleransi hingga kasus terorisme. Tidak lupa ia mengajak mahasiswa yang hadir pada acara tersebut untuk bergabung dengan Peace Generation dengan berbagai agenda yang dimiliki oleh pihaknya.

Diakhir acara, panitia membagikan buku secara gratis kepada para peserta bedah buku; Dinamika Baru Jejaring Teror di Indonesia, Menjawab Tuduhan, dan Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri. [M. Nasruddin]