UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Cendekiawan Muslim dan Ketahanan Bangsa

Hari ini (05/04) sejumlah cendekiawan tatar Sunda akan dilantik sebagai pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Barat masa khidmat 2017-2022. Lima tahun ke depan, mereka akan memanggul amanat besar untuk menjalankan hasil-hasil Musyawarah Wilayah VI ICMI Orwil Jawa Barat, yang dihelat pada tanggal 17-18/02/17 lalu di kawasan utara Kota Cimahi.

Salah satu amanat musyawarah yang mengemuka, sebagaimana telah banyak dipublikasikan di beberapa media, adalah rekomendasi peneguhan ICMI sebagai rumah kebhinekaan dan rumah titik temu. Amanat itu pertama kali disampaikan oleh Bapak Gubernur Jawa Barat, sekaligus sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Jawa Barat, Dr (HC). H. Ahmad Heryawan, Lc., dalam sambutan sekaligus pidato kuncinyanya. Masyarakat Jawa Barat yang semakin heterogen menjadi salah satu alasannya. 

Selain tentunya, alasan semakin berseliwerannya isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) yang potensial bisa memecah belah kesatuan umat Islam sekaligus kesatuan bangsa Indonesia. Terutama selama bergulirnya kontestasi politik Pilkada Serentak 2017 lalu, serta saat menjelang Pilkada Serentak 2018.

Memang kebhinekaan itu bagi Bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Jawa Barat, merupakan fakta bukan ceritra atau pun citra. Maka ruang yang dibutuhkan adalah ruang titik temu yang secara aktual bisa mempersatukan, bukan ruang titik singgung yang justru mengkotak-kotakan atau membentur-benturkan. Kebhinekaan dalam ruang kesatuan merupakan modal sosial yang dapat memperkokoh ketahanan bangsa. Oleh karena itu, banyak pihak, terutama para pihak anti kedaultan Indonesia, senang mengotak-atik kebhinekaan dengan tujuan akhir memperlemah ketahanan bangsa.           

Belakangan ini, Ketahanan Bangsa Indonesia memang berada dalam rongrongan yang sangat serius. Perlu diingat kembali bahwa kestabilan, kedaulatan dan keberlangsungan suatu negara sangat ditentukan oleh ketahanan bangsanya itu sendiri. Tentu kita semua tidak berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia ini goyah akibat  lemah ketahanan bangsanya. 

Otokritik 

Salah satu kunci untuk menutup rapat pintu rongrongan itu adalah sinergi kesadaran dan ajakan bersama kepada seluruh lapisan masayarakat untuk memperkokoh  pondasi ketahanan bangsa. Yaitu terpupuknya kekuatan, daya tahan, keuletan, dan kemampuan dalam hidup berbangsa dan bernegara. 

ICMI sebagai salah satu organisasi kecendekiawanan. yang telah 27 tahun berkiprah dalam kancah pembangunan Indonesia, dapat menjadi bagian dari peran itu. ICMI didorong untuk membangun konsensus dan komitmen kecendekiawanan yang berwawasan pengabdian. Langkah itu perlu segera diayunkankan, selain sebagai upaya menghadirkan peran ICMI dalam memperkokoh ketahanan bangsa, juga sekaligus sebagai jawaban tuntas atas berbagai tuduhan miring bahwa selama ini kiprah ICMI lesu.    

Selain lesu, ICMI juga banyak dikatakan tidak lebih dari sekedar perkumpulan para “cendekiawan bisu”. Yakni entitas yang hanya berpikir dan bermimpi tentang kebenaran dan keadilan tetapi tidak menyuarakannya. Hal itu karena para cendekiawan dibisukan, atau karena adanya tekanan, terlalu berkepentingan dan lain sebagainya. 

Optimalisasi Peran 

Peran ICMI yang dapat dihadirkan antara lain, pertama, terus menerus mengumandangkan Islam rahmatan lil”alamin: Islam Indonesia yang damai, ramah dan toleran, Peran ini sebagai ikhtiar pegejawantahan ICMI yang bersifat ke-Islaman. Di sini para cendekiawan muslim sejatinya terus berpikir bagaimana memahami Islam dengan benar, sekaligus menyuarakannya secara holistik. ICMI harus menunjukkan bahwa Islam itu tidak tertutup melainkan terbuka atas segala perbedaan dan kebhinekaan. Karena perbedaan itu sendiri dalam Islam adalah rahmat.    

Kedua, meningkatkan penerapan dan pemanfaatan berbagai ilmu pengetahuan dalam wujud teknologi, khususnya teknologi ketahanan bangsa. Wujud teknologi ini dipandang penting mengingat semakin pesatnya perkembangan berbagai teknologi kehidupan masyarakat, seperti teknologi informasi dan komunikasi. Peran tersebut sebagai ikhtiar pengejawantahan ICMI yang bersifat kecendekiawanan. 

Harus diketahui kembali bahwa pengertian cendekiawan itu sendiri adalah orang yang terus-menerus berpikir, berusaha memahami situasi, selalu menawarkan solusi, dan peduli. Dengan demikian, ICMI seharusnya tidak mengenal “titik”, namun terus berkelanjutan. Karena sekali saja berhenti berarti berhenti kecendekiawanannya, dan berarti pula ICMI itu tidak hanya lesu dan bisu namun menjadi mati suri.     

 Dan ketiga, penguatan dalam merawat semangat nasionalisme dan bela negara bagi segenap umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia. Peran ini sebagai pengejawantahan ICMI yang bersifat Kebangsaan atau bersifat Ke-Indonesiaan.  Perwujudannya dapat dilakukan melalui dakwah, baik bi lisan, bil hal maupun bil uswah hasanah, dan pemberdayaan umat. 

Saat ini peran kebangsaan tersebut penting untuk ditonjolkan guna merekatkan kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang tengah retak karena hantaman palu godam politik pecah belah. Sekali lagi, ICMI harus mampu dan mau membangun rumah besar titik temu.  

Bukankah falsafah dasar ICMI itu sendiri telah memberikan panduan bagi segenap cendekiawan muslim dalam merawat persatuan umat Islam dan kesatuan bangsa Indonesia. Yaitu: “Carilah titik temu pendapat para Ormas Islam dan para anggotanya; Kembangkan titik-titik temu tersebut menjadi garis temu; Kembangkan garis-garis temu tersebut menjadi permukaan-permukaan temu; Dan rekatkan sepanjang masa sampai ke akhirat permukaan-permukaan temu tersebut dengan ajaran kitab suci al-Qur’an”. Wallahu’alam bi shawab.   

Asep Sahid Gatara, Dosen FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Lulusan S3 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sumber, Pikiran Rakyat 5 April 2017 

Hari ini (05/04) sejumlah cendekiawan tatar Sunda akan dilantik sebagai pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Barat masa khidmat 2017-2022. Lima tahun ke depan, mereka akan memanggul amanat besar untuk menjalankan hasil-hasil Musyawarah Wilayah VI ICMI Orwil Jawa Barat, yang dihelat pada tanggal 17-18/02/17 lalu di kawasan utara Kota Cimahi.

Salah satu amanat musyawarah yang mengemuka, sebagaimana telah banyak dipublikasikan di beberapa media, adalah rekomendasi peneguhan ICMI sebagai rumah kebhinekaan dan rumah titik temu. Amanat itu pertama kali disampaikan oleh Bapak Gubernur Jawa Barat, sekaligus sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Jawa Barat, Dr (HC). H. Ahmad Heryawan, Lc., dalam sambutan sekaligus pidato kuncinyanya. Masyarakat Jawa Barat yang semakin heterogen menjadi salah satu alasannya. 

Selain tentunya, alasan semakin berseliwerannya isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) yang potensial bisa memecah belah kesatuan umat Islam sekaligus kesatuan bangsa Indonesia. Terutama selama bergulirnya kontestasi politik Pilkada Serentak 2017 lalu, serta saat menjelang Pilkada Serentak 2018.

Memang kebhinekaan itu bagi Bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Jawa Barat, merupakan fakta bukan ceritra atau pun citra. Maka ruang yang dibutuhkan adalah ruang titik temu yang secara aktual bisa mempersatukan, bukan ruang titik singgung yang justru mengkotak-kotakan atau membentur-benturkan. Kebhinekaan dalam ruang kesatuan merupakan modal sosial yang dapat memperkokoh ketahanan bangsa. Oleh karena itu, banyak pihak, terutama para pihak anti kedaultan Indonesia, senang mengotak-atik kebhinekaan dengan tujuan akhir memperlemah ketahanan bangsa.           

Belakangan ini, Ketahanan Bangsa Indonesia memang berada dalam rongrongan yang sangat serius. Perlu diingat kembali bahwa kestabilan, kedaulatan dan keberlangsungan suatu negara sangat ditentukan oleh ketahanan bangsanya itu sendiri. Tentu kita semua tidak berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia ini goyah akibat  lemah ketahanan bangsanya. 

Otokritik 

Salah satu kunci untuk menutup rapat pintu rongrongan itu adalah sinergi kesadaran dan ajakan bersama kepada seluruh lapisan masayarakat untuk memperkokoh  pondasi ketahanan bangsa. Yaitu terpupuknya kekuatan, daya tahan, keuletan, dan kemampuan dalam hidup berbangsa dan bernegara. 

ICMI sebagai salah satu organisasi kecendekiawanan. yang telah 27 tahun berkiprah dalam kancah pembangunan Indonesia, dapat menjadi bagian dari peran itu. ICMI didorong untuk membangun konsensus dan komitmen kecendekiawanan yang berwawasan pengabdian. Langkah itu perlu segera diayunkankan, selain sebagai upaya menghadirkan peran ICMI dalam memperkokoh ketahanan bangsa, juga sekaligus sebagai jawaban tuntas atas berbagai tuduhan miring bahwa selama ini kiprah ICMI lesu.    

Selain lesu, ICMI juga banyak dikatakan tidak lebih dari sekedar perkumpulan para “cendekiawan bisu”. Yakni entitas yang hanya berpikir dan bermimpi tentang kebenaran dan keadilan tetapi tidak menyuarakannya. Hal itu karena para cendekiawan dibisukan, atau karena adanya tekanan, terlalu berkepentingan dan lain sebagainya. 

Optimalisasi Peran 

Peran ICMI yang dapat dihadirkan antara lain, pertama, terus menerus mengumandangkan Islam rahmatan lil”alamin: Islam Indonesia yang damai, ramah dan toleran, Peran ini sebagai ikhtiar pegejawantahan ICMI yang bersifat ke-Islaman. Di sini para cendekiawan muslim sejatinya terus berpikir bagaimana memahami Islam dengan benar, sekaligus menyuarakannya secara holistik. ICMI harus menunjukkan bahwa Islam itu tidak tertutup melainkan terbuka atas segala perbedaan dan kebhinekaan. Karena perbedaan itu sendiri dalam Islam adalah rahmat.    

Kedua, meningkatkan penerapan dan pemanfaatan berbagai ilmu pengetahuan dalam wujud teknologi, khususnya teknologi ketahanan bangsa. Wujud teknologi ini dipandang penting mengingat semakin pesatnya perkembangan berbagai teknologi kehidupan masyarakat, seperti teknologi informasi dan komunikasi. Peran tersebut sebagai ikhtiar pengejawantahan ICMI yang bersifat kecendekiawanan. 

Harus diketahui kembali bahwa pengertian cendekiawan itu sendiri adalah orang yang terus-menerus berpikir, berusaha memahami situasi, selalu menawarkan solusi, dan peduli. Dengan demikian, ICMI seharusnya tidak mengenal “titik”, namun terus berkelanjutan. Karena sekali saja berhenti berarti berhenti kecendekiawanannya, dan berarti pula ICMI itu tidak hanya lesu dan bisu namun menjadi mati suri.     

 Dan ketiga, penguatan dalam merawat semangat nasionalisme dan bela negara bagi segenap umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia. Peran ini sebagai pengejawantahan ICMI yang bersifat Kebangsaan atau bersifat Ke-Indonesiaan.  Perwujudannya dapat dilakukan melalui dakwah, baik bi lisan, bil hal maupun bil uswah hasanah, dan pemberdayaan umat. 

Saat ini peran kebangsaan tersebut penting untuk ditonjolkan guna merekatkan kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang tengah retak karena hantaman palu godam politik pecah belah. Sekali lagi, ICMI harus mampu dan mau membangun rumah besar titik temu.  

Bukankah falsafah dasar ICMI itu sendiri telah memberikan panduan bagi segenap cendekiawan muslim dalam merawat persatuan umat Islam dan kesatuan bangsa Indonesia. Yaitu: “Carilah titik temu pendapat para Ormas Islam dan para anggotanya; Kembangkan titik-titik temu tersebut menjadi garis temu; Kembangkan garis-garis temu tersebut menjadi permukaan-permukaan temu; Dan rekatkan sepanjang masa sampai ke akhirat permukaan-permukaan temu tersebut dengan ajaran kitab suci al-Qur’an”. Wallahu’alam bi shawab.   

Asep Sahid Gatara, Dosen FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Lulusan S3 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sumber, Pikiran Rakyat 5 April 2017 

Hari ini (05/04) sejumlah cendekiawan tatar Sunda akan dilantik sebagai pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Barat masa khidmat 2017-2022. Lima tahun ke depan, mereka akan memanggul amanat besar untuk menjalankan hasil-hasil Musyawarah Wilayah VI ICMI Orwil Jawa Barat, yang dihelat pada tanggal 17-18/02/17 lalu di kawasan utara Kota Cimahi.

Salah satu amanat musyawarah yang mengemuka, sebagaimana telah banyak dipublikasikan di beberapa media, adalah rekomendasi peneguhan ICMI sebagai rumah kebhinekaan dan rumah titik temu. Amanat itu pertama kali disampaikan oleh Bapak Gubernur Jawa Barat, sekaligus sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Jawa Barat, Dr (HC). H. Ahmad Heryawan, Lc., dalam sambutan sekaligus pidato kuncinyanya. Masyarakat Jawa Barat yang semakin heterogen menjadi salah satu alasannya. 

Selain tentunya, alasan semakin berseliwerannya isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) yang potensial bisa memecah belah kesatuan umat Islam sekaligus kesatuan bangsa Indonesia. Terutama selama bergulirnya kontestasi politik Pilkada Serentak 2017 lalu, serta saat menjelang Pilkada Serentak 2018.

Memang kebhinekaan itu bagi Bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Jawa Barat, merupakan fakta bukan ceritra atau pun citra. Maka ruang yang dibutuhkan adalah ruang titik temu yang secara aktual bisa mempersatukan, bukan ruang titik singgung yang justru mengkotak-kotakan atau membentur-benturkan. Kebhinekaan dalam ruang kesatuan merupakan modal sosial yang dapat memperkokoh ketahanan bangsa. Oleh karena itu, banyak pihak, terutama para pihak anti kedaultan Indonesia, senang mengotak-atik kebhinekaan dengan tujuan akhir memperlemah ketahanan bangsa.           

Belakangan ini, Ketahanan Bangsa Indonesia memang berada dalam rongrongan yang sangat serius. Perlu diingat kembali bahwa kestabilan, kedaulatan dan keberlangsungan suatu negara sangat ditentukan oleh ketahanan bangsanya itu sendiri. Tentu kita semua tidak berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia ini goyah akibat  lemah ketahanan bangsanya. 

Otokritik 

Salah satu kunci untuk menutup rapat pintu rongrongan itu adalah sinergi kesadaran dan ajakan bersama kepada seluruh lapisan masayarakat untuk memperkokoh  pondasi ketahanan bangsa. Yaitu terpupuknya kekuatan, daya tahan, keuletan, dan kemampuan dalam hidup berbangsa dan bernegara. 

ICMI sebagai salah satu organisasi kecendekiawanan. yang telah 27 tahun berkiprah dalam kancah pembangunan Indonesia, dapat menjadi bagian dari peran itu. ICMI didorong untuk membangun konsensus dan komitmen kecendekiawanan yang berwawasan pengabdian. Langkah itu perlu segera diayunkankan, selain sebagai upaya menghadirkan peran ICMI dalam memperkokoh ketahanan bangsa, juga sekaligus sebagai jawaban tuntas atas berbagai tuduhan miring bahwa selama ini kiprah ICMI lesu.    

Selain lesu, ICMI juga banyak dikatakan tidak lebih dari sekedar perkumpulan para “cendekiawan bisu”. Yakni entitas yang hanya berpikir dan bermimpi tentang kebenaran dan keadilan tetapi tidak menyuarakannya. Hal itu karena para cendekiawan dibisukan, atau karena adanya tekanan, terlalu berkepentingan dan lain sebagainya. 

Optimalisasi Peran 

Peran ICMI yang dapat dihadirkan antara lain, pertama, terus menerus mengumandangkan Islam rahmatan lil”alamin: Islam Indonesia yang damai, ramah dan toleran, Peran ini sebagai ikhtiar pegejawantahan ICMI yang bersifat ke-Islaman. Di sini para cendekiawan muslim sejatinya terus berpikir bagaimana memahami Islam dengan benar, sekaligus menyuarakannya secara holistik. ICMI harus menunjukkan bahwa Islam itu tidak tertutup melainkan terbuka atas segala perbedaan dan kebhinekaan. Karena perbedaan itu sendiri dalam Islam adalah rahmat.    

Kedua, meningkatkan penerapan dan pemanfaatan berbagai ilmu pengetahuan dalam wujud teknologi, khususnya teknologi ketahanan bangsa. Wujud teknologi ini dipandang penting mengingat semakin pesatnya perkembangan berbagai teknologi kehidupan masyarakat, seperti teknologi informasi dan komunikasi. Peran tersebut sebagai ikhtiar pengejawantahan ICMI yang bersifat kecendekiawanan. 

Harus diketahui kembali bahwa pengertian cendekiawan itu sendiri adalah orang yang terus-menerus berpikir, berusaha memahami situasi, selalu menawarkan solusi, dan peduli. Dengan demikian, ICMI seharusnya tidak mengenal “titik”, namun terus berkelanjutan. Karena sekali saja berhenti berarti berhenti kecendekiawanannya, dan berarti pula ICMI itu tidak hanya lesu dan bisu namun menjadi mati suri.     

 Dan ketiga, penguatan dalam merawat semangat nasionalisme dan bela negara bagi segenap umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia. Peran ini sebagai pengejawantahan ICMI yang bersifat Kebangsaan atau bersifat Ke-Indonesiaan.  Perwujudannya dapat dilakukan melalui dakwah, baik bi lisan, bil hal maupun bil uswah hasanah, dan pemberdayaan umat. 

Saat ini peran kebangsaan tersebut penting untuk ditonjolkan guna merekatkan kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang tengah retak karena hantaman palu godam politik pecah belah. Sekali lagi, ICMI harus mampu dan mau membangun rumah besar titik temu.  

Bukankah falsafah dasar ICMI itu sendiri telah memberikan panduan bagi segenap cendekiawan muslim dalam merawat persatuan umat Islam dan kesatuan bangsa Indonesia. Yaitu: “Carilah titik temu pendapat para Ormas Islam dan para anggotanya; Kembangkan titik-titik temu tersebut menjadi garis temu; Kembangkan garis-garis temu tersebut menjadi permukaan-permukaan temu; Dan rekatkan sepanjang masa sampai ke akhirat permukaan-permukaan temu tersebut dengan ajaran kitab suci al-Qur’an”. Wallahu’alam bi shawab.   

Asep Sahid Gatara, Dosen FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Lulusan S3 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sumber, Pikiran Rakyat 5 April 2017 

Hari ini (05/04) sejumlah cendekiawan tatar Sunda akan dilantik sebagai pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Barat masa khidmat 2017-2022. Lima tahun ke depan, mereka akan memanggul amanat besar untuk menjalankan hasil-hasil Musyawarah Wilayah VI ICMI Orwil Jawa Barat, yang dihelat pada tanggal 17-18/02/17 lalu di kawasan utara Kota Cimahi.

Salah satu amanat musyawarah yang mengemuka, sebagaimana telah banyak dipublikasikan di beberapa media, adalah rekomendasi peneguhan ICMI sebagai rumah kebhinekaan dan rumah titik temu. Amanat itu pertama kali disampaikan oleh Bapak Gubernur Jawa Barat, sekaligus sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Jawa Barat, Dr (HC). H. Ahmad Heryawan, Lc., dalam sambutan sekaligus pidato kuncinyanya. Masyarakat Jawa Barat yang semakin heterogen menjadi salah satu alasannya. 

Selain tentunya, alasan semakin berseliwerannya isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) yang potensial bisa memecah belah kesatuan umat Islam sekaligus kesatuan bangsa Indonesia. Terutama selama bergulirnya kontestasi politik Pilkada Serentak 2017 lalu, serta saat menjelang Pilkada Serentak 2018.

Memang kebhinekaan itu bagi Bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Jawa Barat, merupakan fakta bukan ceritra atau pun citra. Maka ruang yang dibutuhkan adalah ruang titik temu yang secara aktual bisa mempersatukan, bukan ruang titik singgung yang justru mengkotak-kotakan atau membentur-benturkan. Kebhinekaan dalam ruang kesatuan merupakan modal sosial yang dapat memperkokoh ketahanan bangsa. Oleh karena itu, banyak pihak, terutama para pihak anti kedaultan Indonesia, senang mengotak-atik kebhinekaan dengan tujuan akhir memperlemah ketahanan bangsa.           

Belakangan ini, Ketahanan Bangsa Indonesia memang berada dalam rongrongan yang sangat serius. Perlu diingat kembali bahwa kestabilan, kedaulatan dan keberlangsungan suatu negara sangat ditentukan oleh ketahanan bangsanya itu sendiri. Tentu kita semua tidak berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia ini goyah akibat  lemah ketahanan bangsanya. 

Otokritik 

Salah satu kunci untuk menutup rapat pintu rongrongan itu adalah sinergi kesadaran dan ajakan bersama kepada seluruh lapisan masayarakat untuk memperkokoh  pondasi ketahanan bangsa. Yaitu terpupuknya kekuatan, daya tahan, keuletan, dan kemampuan dalam hidup berbangsa dan bernegara. 

ICMI sebagai salah satu organisasi kecendekiawanan. yang telah 27 tahun berkiprah dalam kancah pembangunan Indonesia, dapat menjadi bagian dari peran itu. ICMI didorong untuk membangun konsensus dan komitmen kecendekiawanan yang berwawasan pengabdian. Langkah itu perlu segera diayunkankan, selain sebagai upaya menghadirkan peran ICMI dalam memperkokoh ketahanan bangsa, juga sekaligus sebagai jawaban tuntas atas berbagai tuduhan miring bahwa selama ini kiprah ICMI lesu.    

Selain lesu, ICMI juga banyak dikatakan tidak lebih dari sekedar perkumpulan para “cendekiawan bisu”. Yakni entitas yang hanya berpikir dan bermimpi tentang kebenaran dan keadilan tetapi tidak menyuarakannya. Hal itu karena para cendekiawan dibisukan, atau karena adanya tekanan, terlalu berkepentingan dan lain sebagainya. 

Optimalisasi Peran 

Peran ICMI yang dapat dihadirkan antara lain, pertama, terus menerus mengumandangkan Islam rahmatan lil”alamin: Islam Indonesia yang damai, ramah dan toleran, Peran ini sebagai ikhtiar pegejawantahan ICMI yang bersifat ke-Islaman. Di sini para cendekiawan muslim sejatinya terus berpikir bagaimana memahami Islam dengan benar, sekaligus menyuarakannya secara holistik. ICMI harus menunjukkan bahwa Islam itu tidak tertutup melainkan terbuka atas segala perbedaan dan kebhinekaan. Karena perbedaan itu sendiri dalam Islam adalah rahmat.    

Kedua, meningkatkan penerapan dan pemanfaatan berbagai ilmu pengetahuan dalam wujud teknologi, khususnya teknologi ketahanan bangsa. Wujud teknologi ini dipandang penting mengingat semakin pesatnya perkembangan berbagai teknologi kehidupan masyarakat, seperti teknologi informasi dan komunikasi. Peran tersebut sebagai ikhtiar pengejawantahan ICMI yang bersifat kecendekiawanan. 

Harus diketahui kembali bahwa pengertian cendekiawan itu sendiri adalah orang yang terus-menerus berpikir, berusaha memahami situasi, selalu menawarkan solusi, dan peduli. Dengan demikian, ICMI seharusnya tidak mengenal “titik”, namun terus berkelanjutan. Karena sekali saja berhenti berarti berhenti kecendekiawanannya, dan berarti pula ICMI itu tidak hanya lesu dan bisu namun menjadi mati suri.     

 Dan ketiga, penguatan dalam merawat semangat nasionalisme dan bela negara bagi segenap umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia. Peran ini sebagai pengejawantahan ICMI yang bersifat Kebangsaan atau bersifat Ke-Indonesiaan.  Perwujudannya dapat dilakukan melalui dakwah, baik bi lisan, bil hal maupun bil uswah hasanah, dan pemberdayaan umat. 

Saat ini peran kebangsaan tersebut penting untuk ditonjolkan guna merekatkan kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang tengah retak karena hantaman palu godam politik pecah belah. Sekali lagi, ICMI harus mampu dan mau membangun rumah besar titik temu.  

Bukankah falsafah dasar ICMI itu sendiri telah memberikan panduan bagi segenap cendekiawan muslim dalam merawat persatuan umat Islam dan kesatuan bangsa Indonesia. Yaitu: “Carilah titik temu pendapat para Ormas Islam dan para anggotanya; Kembangkan titik-titik temu tersebut menjadi garis temu; Kembangkan garis-garis temu tersebut menjadi permukaan-permukaan temu; Dan rekatkan sepanjang masa sampai ke akhirat permukaan-permukaan temu tersebut dengan ajaran kitab suci al-Qur’an”. Wallahu’alam bi shawab.   

Asep Sahid Gatara, Dosen FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Lulusan S3 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sumber, Pikiran Rakyat 5 April 2017 

Hari ini (05/04) sejumlah cendekiawan tatar Sunda akan dilantik sebagai pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Barat masa khidmat 2017-2022. Lima tahun ke depan, mereka akan memanggul amanat besar untuk menjalankan hasil-hasil Musyawarah Wilayah VI ICMI Orwil Jawa Barat, yang dihelat pada tanggal 17-18/02/17 lalu di kawasan utara Kota Cimahi.

Salah satu amanat musyawarah yang mengemuka, sebagaimana telah banyak dipublikasikan di beberapa media, adalah rekomendasi peneguhan ICMI sebagai rumah kebhinekaan dan rumah titik temu. Amanat itu pertama kali disampaikan oleh Bapak Gubernur Jawa Barat, sekaligus sebagai Ketua Dewan Penasehat ICMI Orwil Jawa Barat, Dr (HC). H. Ahmad Heryawan, Lc., dalam sambutan sekaligus pidato kuncinyanya. Masyarakat Jawa Barat yang semakin heterogen menjadi salah satu alasannya. 

Selain tentunya, alasan semakin berseliwerannya isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) yang potensial bisa memecah belah kesatuan umat Islam sekaligus kesatuan bangsa Indonesia. Terutama selama bergulirnya kontestasi politik Pilkada Serentak 2017 lalu, serta saat menjelang Pilkada Serentak 2018.

Memang kebhinekaan itu bagi Bangsa Indonesia, termasuk masyarakat Jawa Barat, merupakan fakta bukan ceritra atau pun citra. Maka ruang yang dibutuhkan adalah ruang titik temu yang secara aktual bisa mempersatukan, bukan ruang titik singgung yang justru mengkotak-kotakan atau membentur-benturkan. Kebhinekaan dalam ruang kesatuan merupakan modal sosial yang dapat memperkokoh ketahanan bangsa. Oleh karena itu, banyak pihak, terutama para pihak anti kedaultan Indonesia, senang mengotak-atik kebhinekaan dengan tujuan akhir memperlemah ketahanan bangsa.           

Belakangan ini, Ketahanan Bangsa Indonesia memang berada dalam rongrongan yang sangat serius. Perlu diingat kembali bahwa kestabilan, kedaulatan dan keberlangsungan suatu negara sangat ditentukan oleh ketahanan bangsanya itu sendiri. Tentu kita semua tidak berharap Negara Kesatuan Republik Indonesia ini goyah akibat  lemah ketahanan bangsanya. 

Otokritik 

Salah satu kunci untuk menutup rapat pintu rongrongan itu adalah sinergi kesadaran dan ajakan bersama kepada seluruh lapisan masayarakat untuk memperkokoh  pondasi ketahanan bangsa. Yaitu terpupuknya kekuatan, daya tahan, keuletan, dan kemampuan dalam hidup berbangsa dan bernegara. 

ICMI sebagai salah satu organisasi kecendekiawanan. yang telah 27 tahun berkiprah dalam kancah pembangunan Indonesia, dapat menjadi bagian dari peran itu. ICMI didorong untuk membangun konsensus dan komitmen kecendekiawanan yang berwawasan pengabdian. Langkah itu perlu segera diayunkankan, selain sebagai upaya menghadirkan peran ICMI dalam memperkokoh ketahanan bangsa, juga sekaligus sebagai jawaban tuntas atas berbagai tuduhan miring bahwa selama ini kiprah ICMI lesu.    

Selain lesu, ICMI juga banyak dikatakan tidak lebih dari sekedar perkumpulan para “cendekiawan bisu”. Yakni entitas yang hanya berpikir dan bermimpi tentang kebenaran dan keadilan tetapi tidak menyuarakannya. Hal itu karena para cendekiawan dibisukan, atau karena adanya tekanan, terlalu berkepentingan dan lain sebagainya. 

Optimalisasi Peran 

Peran ICMI yang dapat dihadirkan antara lain, pertama, terus menerus mengumandangkan Islam rahmatan lil”alamin: Islam Indonesia yang damai, ramah dan toleran, Peran ini sebagai ikhtiar pegejawantahan ICMI yang bersifat ke-Islaman. Di sini para cendekiawan muslim sejatinya terus berpikir bagaimana memahami Islam dengan benar, sekaligus menyuarakannya secara holistik. ICMI harus menunjukkan bahwa Islam itu tidak tertutup melainkan terbuka atas segala perbedaan dan kebhinekaan. Karena perbedaan itu sendiri dalam Islam adalah rahmat.    

Kedua, meningkatkan penerapan dan pemanfaatan berbagai ilmu pengetahuan dalam wujud teknologi, khususnya teknologi ketahanan bangsa. Wujud teknologi ini dipandang penting mengingat semakin pesatnya perkembangan berbagai teknologi kehidupan masyarakat, seperti teknologi informasi dan komunikasi. Peran tersebut sebagai ikhtiar pengejawantahan ICMI yang bersifat kecendekiawanan. 

Harus diketahui kembali bahwa pengertian cendekiawan itu sendiri adalah orang yang terus-menerus berpikir, berusaha memahami situasi, selalu menawarkan solusi, dan peduli. Dengan demikian, ICMI seharusnya tidak mengenal “titik”, namun terus berkelanjutan. Karena sekali saja berhenti berarti berhenti kecendekiawanannya, dan berarti pula ICMI itu tidak hanya lesu dan bisu namun menjadi mati suri.     

 Dan ketiga, penguatan dalam merawat semangat nasionalisme dan bela negara bagi segenap umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia. Peran ini sebagai pengejawantahan ICMI yang bersifat Kebangsaan atau bersifat Ke-Indonesiaan.  Perwujudannya dapat dilakukan melalui dakwah, baik bi lisan, bil hal maupun bil uswah hasanah, dan pemberdayaan umat. 

Saat ini peran kebangsaan tersebut penting untuk ditonjolkan guna merekatkan kembali persatuan dan kesatuan bangsa yang tengah retak karena hantaman palu godam politik pecah belah. Sekali lagi, ICMI harus mampu dan mau membangun rumah besar titik temu.  

Bukankah falsafah dasar ICMI itu sendiri telah memberikan panduan bagi segenap cendekiawan muslim dalam merawat persatuan umat Islam dan kesatuan bangsa Indonesia. Yaitu: “Carilah titik temu pendapat para Ormas Islam dan para anggotanya; Kembangkan titik-titik temu tersebut menjadi garis temu; Kembangkan garis-garis temu tersebut menjadi permukaan-permukaan temu; Dan rekatkan sepanjang masa sampai ke akhirat permukaan-permukaan temu tersebut dengan ajaran kitab suci al-Qur’an”. Wallahu’alam bi shawab.   

Asep Sahid Gatara, Dosen FISIP UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Lulusan S3 Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Sumber, Pikiran Rakyat 5 April 2017