UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Bulan Pendidikan

Setiap aktivitas  seorang Muslim yang tengah menjalankan ibadah shaum adalah ibadah. Jiwanya tengah dididik Sang Ilahi,  demikian pula raganya, sedang dilatih. Sungguh satu bulan penuh  diisi dengan pendidikan. Sabar, ikhlas dan ihsan menjadi pelajaran utamanya. Tak seorang lainpun tahu apakah dia sedang berpuasa atau tidak, hanya dirinya dan Allah Swt yang tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Ibarat suatu madrasah, hikmah yang terkandung di dalam shaum sangat luar biasa. Tak ada ruang kosong yang sia-sia, semuanya penuh hikmah. Berpulang kepada diri masing-masing untuk mengambilnya. Kepada mereka yang sungguh-sungguh, predikat taqwa akan diraih, sementara yang asal-asalan, hanya mendapatkan lapar dan kehausan.

Tentu saja untuk meraih derajat taqwa tak semudah mengatakannya. Selain harus memenuhi seluruh amalan dengan sungguh-sungguh sesuai syariat, hiasi juga hati dengan sabar dan ikhlas. Ingatlah godaan mencapai taqwa sebanding dengan prestise raihannya.  

Perut lapar kerap membuat orang mudah tersinggung dan cepat marah. Berusahalah sekuat tenaga untuk menahan amarah dan tidak memprovokasi orang supaya marah. Menahan amarah merupakan salah satu sifat dari orang-orang bertakwa (al-muttaqun). Kita dianjurkan untuk menghindar jika ada seseorang yang mengajak bertengkar, dianjurkan  berkata inni shoimun, aku sedang berpuasa.

Kemarahan merupakan emosi negatif yang diluapkan dalam wujud kata-kata maupun perbuatan reaktif. Emosi ini kerap kali merugikan, bahkan mengancam. Tak sedikit pula, akibat amarah yang tak terkendali, seseorang tega membunuh.

Menahan amarah merupakan akhlak mulia. Dijanjikan balasan surga yang luasnya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR. Tirmidzi).

Selain marah yang sifatnya negatif, ada juga yang positif. Marah seperti ini dilakukan bukan atas dasar kebencian, namun sebagai pendidikan dan penyadaran. Rasulullah Saw, pernah marah kepada sahabatnya yang malas beribadah, bahkan ia pun pernah memarahi orang yang pelit. Marah model ini dilakukan agar seseorang mendapatkan kemaslahatan dalam hidupnya.

Ketika kita disakiti oleh seseorang, kemarahan adalah hal yang wajar. Tetapi, terus menerus mendendam ialah sikap buruk dan harus dihindari. Kelolalah kemarahan dan berusaha memaafkan orang yang telah menyakiti. Rasulullah Saw. bersabda, “Seburuk-buruknya orang adalah yang cepat marah dan lambat memaafkan.” (HR. Ahmad).
Di bulan suci ini, pelajaran menahan amarah menjadi salah satu materi wajib untuk dijalankan mereka yang melaksanakan shaum. Dengan amarah yang membara, kita telah lemah, dengan mudah dikalahkan oleh setan yang terkutuk. Orang yang mudah marah, di dalam dirinya terkandung sifat sombong, mempersepsi dirinya sebagai orang hebat, merasa harus dihormati.

Surga yang diciptakan Allah Maha Rahman dan Rahim, hanya akan diisi oleh orang-orang yang lemah lembut dan selama hidupnya mampu mengelola amarahnya secara positif. Ia tidak seperti Iblis yang marah dan membangkang saat diperintah Allah Swt bersujud kepada Adam. Dia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api sedangkan Adam hanya dari tanah.

Mari tetap tenang dan tentramkanlah hati kita. Dapatkanlah dengan penuh salah satu pelajaran menuju taqwa bernama menahan amarah di bulan yang penuh nilai pendidikan ini. “Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhan mu dan surga yang seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang mendermakan hartanya dalam keadaan senang dan susah, menahan amarah, dan suka memaafkan kesalahan orang. Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik,” (QS. Ali Imron [03]: 133-134). []

Dadang Kahmad, Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung dan Direktur Pascasarjana UIN SGD Bandung.

Sumber, Republika 23 Juni 2015.