UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Budaya Sunda Bukan Sebatas Iket

[www.uinsgd.ac.id] Mengenal budaya Sunda tidak cukup dengan menggunakan Iket atau Baju Pangsi. Budaya Sunda harus terus dikaji dan dikembangkan karena sifatnya yang terus berubah-ubah seiring zaman. Demikian yang coba disampaikan Lembaga Pengkajian Ilmu Ke-Islaman (LPIK) lewat diskusi Rumpi Ririwa yang bertema Urgensi Kajian Kebudayaan  & Masyarakat Sunda, Rabu (16/9/2015), Di Bawah Pohon Rindang (DPR) UIN SGD Bandung.

“Budaya itu dinamis, bisa berubah-ubah. Setelah kita mengkaji kemudian mengetahui proses kebudayaan, kita akan memiliki kemampuan mempengaruhi dan menentukan arah kebudayaan kita,” jelas Ketua Umum LPIK Fikry A. G saat ditanya perihal pemilihan tema diskusi. Dalam diskusi tersebut hadir budayawan Sunda Hawe Setiawan, dan dosen  Ushuludin, Ahmad Gibson Albustomi sebagai pemateri.

Diskusi tersebut, tambah Fiky, merupakan diskusi pengantar bagi anggota LPIK sendiri, karena untuk setahun kedepan wacana kebudayaan akan menjadi topik utama yang mereka kaji. “LPIK punya tradisi. Jadi tiap kepengurusan punya grand issue masing-masing. Kemarin kita kaji islamic studies, sekarang kebudayaan,” papar mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam tersebut.

Walaupun tema serupa pernah dikaji beberapa tahun lalu, menurut Fikry kajian kebudayaan masih sangat relevan hingga kini. “Tema ini penting karena melihat realitas sosial di UIN SGD sendiri. Mulai muncul segelintir orang yang melihat kebudayaan secara sempit, misalnya, orang pakai iket langsung dicap berbudaya,” ungkapnya.

Senada dengan Fikry, menurut Gibson kajian kebudayaan masih sangat relevan dan penting untuk dibahas. “Kajian kebudayaan, Sunda khususnya harus terus kita kaji. UIN SGD di Jawa Barat sebetulnya memegang posisi sentral pada bidang itu,”ujar Gibson. Ia pun mengaku senang dan semangat mengikuti diskusi tersebut.

“Diskusinya asik,” ungkapnya saat ditemui usai diskusi.Ia berharap kajian kebudayaan di UIN SGD Bandung dapat terus  dikembangkan. Pasalnya, walaupun beberapa Prodi sudah mulai melakukan kajian serupa, menurut Gibson, arah kajiannya masih belum jelas, dan terarah. “Jangan sampai kajian itu hanya karena alasan kajian populer saja,” pungkasnya. [A Rijal Hadyan, Isthiqonita/Suaka]