UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Budaya Sunda Bisa Tangkal Radikalisme Agama

Potensi radikalisme yang mengatasnamakan agama di Jawa Barat relatif kecil. Hal ini disebabkan iklim masyarakatnya yang toleran dan keberadaan budaya sunda yang bisa menangkal radikalisme. Hal ini disampaikan Pembantu Rektor II Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Jati, Muchtar Solihin, seperti dilansir Pikiran Rakyat Online (07/03/2012-13:51 WIB)

“Orang Jabar itu kental dengan budaya sunda yang toleran dan bersahabat. Kita punya filter berupa pemahaman agama yang moderat. Jadi kecil kemungkinan untuk disusupi radikalisme yang mengatasnamakan agama,” kata Muchtar menjelaskan.

Menurut Muchtar, salah satu faktor kecilnya radikalisme di Jabar adalah banyak kyai yang berpaham moderat. “Kyai di Jabar berpaham universal. Mereka tidak sepakat dengan radikalisme. Ini meredam paham Islam garis keras di Jabar,” katanya.

Muchtar mengatakan, pemahaman agama harus dijaga agar masyarakat dijauhkan dari radikalisme. Menurutnya, kyai memiliki peran penting menyampaikan ajaran agama yang moderat pada masyarakat. Selain itu, muatan lokal mengenai agama juga harus dimaksimalkan dan ditambah bila perlu. “Kalau pemahaman agamanya benar, siswa akan terhindar dari ajaran yang radikal. Orang yang tidak mengerti ajaran agamalah yang berpotensi menjadi radikal,” kata Muchtar.

Dalam konteks pemahaman filsafat, menurut Muchtar, berpikir radikal itu baik karena adanya keinginan mengungkap dan memecahkan masalah hingga ke akar. Hal ini sesuai dengan kata radikal yang berasal dari kata radik yang berarti akar. Namun, Muchtar mengatakan radikalisme dipahami menjadi sesuatu yang negatif ketika ada orang yang memakai simbol dan mengatasnamakan agama.

Sementara itu, Muchtar juga mengatakan faktor sosial dan ekonomi pun bisa memicu radikalisme. “Ketika orang sudah putus asa dengan keadaan ekonomi dan kebijakan politik tidak memihak orang kecil, orang bisa frustasi. Akibatnya, mudah dipengaruhi pemahaman agama radikal yang menuntut perubahan,” kata Muchtar.