UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Bom, Sensitivitas Religius & Hilangnya Rasa Damai

Aras kebangsaan dan relasi keberagamaan kita kembali dihentak oleh peristiwan bom bunuh diri di Gereja Betel Injil Supenuh (GBIS) Solo. Terorisme terus menghantui kita. Kesadaran hidup damai dan pemahaman keberagamaan yang inklusif belum sepenuhnya terinjeksikan dalam memori kolektif umat. Ternyata masih tersisa pemahaman-pemahaman tidak tepat yang diturunkan dari tafsir agama yang memandang orang lain yang tidak sepandangan sebagai “musuh” yang boleh dibinasakan bahkan tersedia pahala bagi mereka yang melakukannya.

 

Tentu kita  faham pemantiknya bukan hanya persoalan “tafsir agama” yang keliru, namun juga “penyakit sosial” yang tidak kunjung terselesaikan seperti korupsi, tidak adanya kepastian hukum, penyalahgunaan kekuasaan, para penyelenggara negara yang tidak profesional, pengangguran dan lain sebagainya   bisa jadi ikut ambil bagian memperburuk keadaan.

 

Hidup damai

 

Hidup dengan damai adalah ekspresi paling esensial dari pengalaman religiositas seseorang. Kedamaian yang tentu saja mengandaikan hadirnya sikap keberagamaan yang toleran. Dan toleransi mensyaratkan kesediaan umat beragama untuk melakukan dialog secara intensif, bertanggungjawab dan jujur. Pribadi-pribadi seperti ini yang diistilahkan Hasan Askari sebagi pribadi-pribadi yang memiliki “sensitivitas religius”.

 

Tanpa  toleransi, dialog akan tertutup. Kalau dialog sudah absen dari pengalaman sejarah keseharian kaum agamawan maka mangharapkan terwujudnya kedamaian adalah sebuah kemustahilan. Alih-alih damai justru yang akan mencuat ke permukaan adalah serangkaian kekerasan dan kalau perlu kekerasan itu dilegetimisi   agama yang telah ditafsirkan secara serampangan sebagaimana yang terjadi di Cirebon dan Solo itu. Hans Kung seperti kerap dikutip almarhum  Nurcholis Madjid  mengatakan: “ No Peace among the nations without peace among the religions ; No peace among religions without dialogue between the religions; No dialogue between religions without investigating the foundations of the religions.”

 

Seandainya fenomena tragis kedua ini yang terus muncul, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan kemanusiaan namun juga eksistensi agama itu sendiri akan terancam wibawanya. Keberagamaan seperti ini dikatakan Bergson sebagai agama statis yang ditenggarai dengan beberapa ciri: dogmatis, tertutup, ekslusif,  memonopoli kebenaran, a historis, lebih mementingkan kesalehan ritual dan mengabaikan kesalehan sosial.   

 

Inilah sejenis agama yang penuh dengan paradoks karena para pengikutnya tidak mampu mendamaikan antara nilai-nilai luhur agama dengan kenyataan hidup. Agama tidak bisa berdialog dengan realitas yang heterogen yang sejatinya merupakan hukum alam yang tidak mengkin dihindari, “datum” (suatu yang terberi),  agama yang menjanjikan kedamaian di surga namun tidak memberikan garansi untuk pada saat yang sama para pengikutnya menyebarkan damai di bumi. antara de jure dan de facto, antara sein dan sollen tidak pernah ada kesatuan.

 

Interupsi terhadap agama

 

Ateisme hakikatnya adalah interupsi kepada agama statis seperti ini. Agama dengan tafsir menyimpang inilah yang tempo hari membuat Konfusius menolak aspek ritualistik dalam agama Cina kuno, Isa as menantang merebaknya manusia hipokrit pada masanya, Ibrahim melawan kaum Sabean, Musa berhadapan dengan  Fir’aun, dan  Muhmmad saw menolak sistem kepercayaan musyrik yang telah menjebak masyarakat Mekah dalam moralitas yang banal (jahiliah).

 

Dalam konteks moderen kita juga dapat memaknai suara-suara kritis terhadap agama statis ini yang membuat Karl Mark menuduh agama sebagai biang kerok (candu) yang membuat penderitaan masyarakat tertangguhkan. Ludwig Andreas Feurbach mengkhotbahkan agama sebagai “yang telah mengecilkan manusia dari habitat dirinya sendiri dengan menempatkan kesempurnaan yang mustahil di atas kelemahan kemanusiaan.” Akhirnya seorang Nietzsche merasa perlu memaklumkan kematian Tuhan (God is dead) sekaligus menobatkan dirinya sendiri sebagai takdir (I am a destiny)  atau tudingan murid-muridnya seperti eksistensialis Paul Sartre yang melukiskan lubang bekas Tuhan dalam relung kebudayan manusia, agama sebagai masa lalu yang tak berhak bersuara. Dan Albert Camus pun menyuarakan ateisme heroik: orang harus menolak agama dan Tuhan secara membabi buta agar cinta sepenuhnya tercurah kepada umat manusia. Atau Lessing, Rousseau dan Tolstoy yang membuat agama alamiah, agama tanpa wahyu.

 

Agama dinamis

 

Kebalikannya adalah agama dinamis. Yakni semacam agama yang ditancapkan di atas bangunan teologi perdamaian dengan watak penafsirannya yang inklusif, terbuka, manusiawi dan menjadikan keadaban hidup secara sosiologis menjadi  target utama dari pantulan keberagamannya.

 

Sebentuk beragama dengan paradigma iman yang mampu  melampaui   pemahaman-pemahaman eksklusif,    “klaim-klaim kebenaran” (truth claim)  serta kekakuan institusi formalisme agama. Keragaman disikapi tidak sebagai ancaman namun kesempatan untuk membuktikan siapa yang terbaik dari keragaman itu. 

 

Bagi kelompok ini, “Hidup damai di langit hanya bisa  dapat dibuktikan ketika manusia bisa berdamai di bumi.” Atau dalam kata-kata Muhammad saw, “Kasihilah mereka yang ada di bumi, engkau akan mendapat kasih di bumi” atau, “Yang paling baik di antara manusia adalah orang yang melakukan kebaikan kepada manusia lain”.

 

Di lain kesempatan diserukan, “Berbuat baiklah kepada seluruh makhluk hidup, maka Allah akan berbuat baik kepadamu”. Nabi berdiri karena ada rombongan jenazah yang lewat, seorang sahabat mengingatkan, “Bukankah ini jenazah seorang Yahudi?” Nabi menjawab “Jika kamu menyaksikan jenazzh maka berdirilah.”

 

Agama dinamis ini bukan hanya substansi dari ajaran islam, namun juga menjadi ajaran perennial yang disampaikan sebelumnya oleh Ibrahim as, Nabi Isa, Musa as,   Bukan hanya persoalan religius (seperti diteladankan Nabi saw dan juga nabi-nabi itu) namun juga metafisis (Jainisme) dan etis (seperti yang ditawarkan Henry Davis Thoreau dan Jhon Ruskin).

 

Agama dinamis inilah yang seharusnya menjadi arus utama pemahaman, kesadaran dan wawasan kaum beragama saat ini di mana kita tidak mungkin hidup secara monolitik dan ekslusif apalagi kalau ditarik dalam  konteks keindonesiaan yang sangat heterogen baik suku, budaya, kultur, ras, bahasa atau agamanya.

 

Sudah tidak zamannya lagi kita hidup secara ekslusif. Tertutup. Masyarakat moderen dan beradab hanya dapat direngkuh ketika masyarakat itu menghargai keragaman. Umat beragama harus melakukan transformasi diri dengan cara memahami secara empatik agama lain. Kata Friedrich Max Miller pada abad ke-19  “orang yang hanya tahu satu agama pada dasarnya tidak tahu apapun tentang agama”.[]

 

ASEP SALAHUDIN, dosen UIN SGD Bandung dpk  Istitut Agama Islam Latifah Mubarokiyah Suryalaya Tasikmalaya.