UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

BERDOA, BUKAN MEMBACA DOA

Geliat penyelenggaraan ibadah haji 2015 sudah mulai dan tengah terasa baik dikalangan para calon jamaah haji, keluarga,maupun para pemerhati dan praktisi haji. Berbagai macam persiapan telah dan tengah dilakukan baik oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama mauppun para penyelenggara ibadah haji (KBIH dan Travel Haji dan Umrah) terutama para calon jamaah. Berdasarkan pengalaman dan pengamatan juga tidak sedikit masalah dan kendala yang dihadapi terutama dirasakan oleh para calon jamaah. Diantara masalah yang sering dihadapai adalah tentang kompetensi dan kemampuan dalam berdoa selama beribadah haji. Para calaon jamaah seringkali dihadapai pada kesulitan dalam berdoa. Hal tersebut dibuktikan dengan begitu banyak doa-doa yang harus dikuasai, dibaca, bahkan dihafal oleh para jamaah haji. Terlebih lagi doa ‘manual’ yang terdapat dalam buku panduan doa.

Dalam salah satu kegiatan walimah al-shafar haji, salah seorang calon jamaah bertanya tentang bagaimana cara berdoa yang efektif. Sepintas penulis berpikir dan merasa empati terhadap kesulitan itu. Dan akhirnya penulis mengungkapkan bahwa yang terpenting dalam semua rangkaian ibadah mengandung usnur doa termasuk dalam ibadah haji. Solat menurut para ulama mengandung makna doa. Begitupun ibadah-ibadah lainnya. Selanjunya, doa ada yang diambil dari al-Qur’an, hadits, maupun ijtihad para ulama. Yang paling penting dan harus kita perhatikan adalah :

Pertama, doa merupakan refleksi ketidakmampuan seorang hamba dihadapan khaliq-nya.
Kedua, doa merupakan salah satu bentuk komunikasi efektif seorang hamba kepada khaliq-nya;
Ketiga,  doa memberikan motivasi dan sugesti dalam hidup.

Rasulullah Saw memberikan beberapa tips dalam berdoa termasuk etika yang mesti dijaga, antara lain :

1. Berdoa menggunakan bahasa yang dipahami dan dimengerti sehingga terjadi komunikasi yang efektif antara seorang hamba dan khaliq-nya. Kalaupun doa tersebut diambil dari al-Qur’an dan hadits maka harus dipahami dan dihayati makna yang terkandung di dalamnya;
2.Berdoa diawali dengan menyebut nama Allah, minimal membaca basmalah atau asmaaul husna, dan sejenisnya;
3.Berdoa dilanjutkan dengan mohon ampun kepada Allah, istighfar dan membaca solawat kepada Rasulullah Saw;
4.Dalam berdoa tidak diperkenankan isti’jal, artinya ingin cepat-cepat dikabul doanya;
5.Berdoa dianjurkan dalam keadaan suci dan menghadap qiblat.
6.Dan berdoa tidak boleh Mu’taddin, sangat spesifik permintaan doanya.
 
Berdasarkan hal tersebut, maka tidak ada alasan bagi calon jamaah untuk merasa kesulitan dalam berdoa (dengan cara membaca dan menghafal doa) selama melaksanakan ibadah haji. Sebab, yang terpenting adalah berdoa, bukan membaca doa. Apapun yang tersirat dalam hati ketika berada di tanah suci, dalam keadaan suci, maka Allah Yang Maha Suci pasti menengar dan mengabulkan doa tersebut. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Dr. H. Aden Rosadi, M.Ag. (Pembimbing Haji dan Umrah Qiblat Tour, Dosen FSH UIN Bandung)
Sumber : Pikiran Rakyat, Edisi Selasa 22 Desember 2015