UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Beragama secara Riang

Dalam sebuah kesempatan, kawan dari Pesantren Cipasung penyair nasional KH Acep Zamzam Noor pernah menyatakan bahwa beragama itu harus santai, termasuk tafsir dan paradigma yang dikembangkannya. Atas tesis itu, sepenuhnya saya sepakat.Bahkan bisa jadi kekerasan agama yang acap kali mengepung kita dan kawasan dunia muslim akhir-akhir ini bermula karena beragama terlampaui ‘serius’, tidak rileks dan kehilangan rasa humor.

Kedatangan Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb yang disambut langsung Presiden Joko Widodo minggu-minggu ini juga membawa pesan yang sama: beragama yang damai, toleran, lapang, dan terbuka.Karena terlalu serius, pada gilirannya bukan kita yang ‘mencengkeram’ agama, melainkan justru kitalah yang dicengkeram agama.Kita kehilangan kemerdekaan, independensi, otonomi sebagai diri (individu), dan akhirnya larut dalam kerumunan kejamaahan, dalam ‘institusi agama’.

Bersamaan dengan itu, hilanglah tafsir kreatif atas firman Tuhan untuk merespons kompleksitas persoalan kemanusiaan dan kebangsaan. Bahkan yang sering terjadi, teks itu dikeramatkan sedemikian rupa.Dari sini sejatinya fundamentalisme bermula, wabah puritanisme beranak-pinak, kekerasan atas nama agama mendapatkan tautan teologisnya: teks yang dimaknai secara harfiah, skriptural, dan tekstual.

Karena beragama terlampau serius, serius pula melihat realitas kehidupan. Difantasikannya hidup dalam dunia yang tunggal, dalam kebenaran homogen, dalam imaji surga yang diklaim sebagai monopoli kelompoknya.

Pendakuan menjadi karakter teologinya. Fakta sosial dibelah dalam relasi bipolar dan dikotomik, hitam putih, roh-raga, partikular-general, personal-kolektif, sesat dan benar, bidah dan sunah.Tidak diberi ruang realitas yang kompleks itu dibaca dalam langgam yang dinamis interaktif, saling melengkapi satu dengan lainnya dalam sebuah jejaring yang padu.

Padahal, menurut Capra, bahwa untuk memahami sistem dan jaringan itu, yang diperlukan ialah pergeseran (sif) dari struktur ke proses, dari objektif ke epistemik, dari bangunan ke jejaring, dari kebenaran ke deskripsi yang mendekati.Secara metafisis, kelompok ini senantiasa menghadirkan Tuhan dalam citra ‘maskulin’. Tuhan (agama) dengan tendensi serba memaksa, menebar azab dan pahala. Tuhan digambarkan sebagai ‘hakim’ dengan hukumnya yang saklek.

Tuhan yang selalu diusung di jalanan sambil diteriakkan kalimat ‘Allahu Akbar’ lengkap dengan hasrat abadi terbebasnya semesta dari maksiat dan kemungkaran kalau perlu dilakukan lewat pentungan.

Feminitas Tuhan

Kalau kita renungkan, seperti tulisan Sachiko Murata dalam The Tao of Islam, sesungguhnya atribut feminitas Tuhan jauh lebih banyak ketimbang sifat maskulinnya.Tuhan lebih sering memperkenalkan diri-Nya sebagai sang pengasih, penyayang, penerima taubat, pengampun, pemberi rezeki, dan lain sebagainya ketimbang Tuhan yang mahamemaksa dan pengazab.

Tuhan juga yang mengabarkan dunia sebagai panggung hiburan, senda gurau, dan permainan (lahwun wa laibun). Manusia dengan ketidaksempurnaannya melakukan ziarah religi bukan untuk menggapai pribadi sempurna, melainkan agar mendekati kesempurnaan itu. ‘Mendekati’ tidaklah sama dengan ‘sampai’. Mendekati yang kemudian menumbuhkan etik imperatif berupa sikap lapang, inklusif, rendah hati, dan kesediaan membuka dialog.

Sementara itu, pengakuan ‘sampai’ di seberangnya manancap watak antidialog, eksklusif, dan tertutup.Tentu santai, riang, dan rileks tidaklah semakna dengan sikap lepas dari tanggung jawab, tapi justru sebaliknya.Permainan yang baik manakala sang pemain paham betul terhadap seluruh aturan permainan bahkan segenap aturan itu tak ubahnya menyatu dengan penghayatannya.

Pemain bola yang telah mencapai maqam ‘wali’ tidak lagi dikendalikan bola (apalagi penonton), tapi justru mengendalikan bola bahkan menendang dengan tidak melihat gawang dan tanpa harus mengeluarkan segenap tenaga apalagi dengan teriakan yang bikin gaduh pemain lain.Cukup dengan satu sontekan atau salto dari tengah lapangan bola sudah mampu memperdaya sang kiper.

Inilah yang dibilang filsuf Negeri Belanda Johan Huizinga (1872-1945) dalam Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture bahwa manusia ialah makhluk bermain (homo ludens).Disebutkannya riwayat kebudayaan setua hikayat permainan yang dimainkan manusia itu sendiri ‘Play is older than culture’. Khitah manusia ialah bermain seperti ditulisnya …it was not my object to define the place of play among all other manifestations of culture, but rather to ascertain how far culture itself bears the character of play.

Lima ciri khas permainan menurut Huizinga ialah: Play is free, is in fact freedom play is not ‘ordinary’ or ‘real’ life. Play is distinct from ‘ordinary’ life both as to locality and duration. Play creates order, is order. Play demands order absolute and supree. Play is connected with no material interest, and no profit can be gained from.(1) Bermain itu bebas, memberikan ruang bagi manusia menyalurkan kebebasan ke tingkat paling sempurna; (2) Permainan menjadi panggung yang bukan sekadar ‘biasa’; (3) Dari sisi durasinya permainan berbeda dari sejarah pengalaman hidup sehari-hari; (4) Permainan agar tertib dan elok dipandang mensyaratkan serangkaian peraturan yang harus ditaati oleh seluruh pemain dan permainan sesungguhnya secara tidak langsung menciptakan peraturan itu sendiri, menghajatkan sportivitas, fairplay, dan kesungguhan; (5) Permainan tidak bertalian dengan keuntungan kebendaaan (profit) yang dapat diperoleh darinya.

Menyoal agama

Saya membaca kesangsian dan kritik terhadap agama hakikatnya sebermula karena yang dilihat ialah sikap beragama yang kehilangan sensitivitas ‘humor’, beragama yang ‘serius’.Keseriusan yang mengakibatkan satu pemeluk agama dengan lainnya bahkan juga dalam kelompok agamanya sendiri saling mengembangkan ‘teologi kebencian’ dan sering berujung pada angkara, pada peperangan yang tidak berkesudahan seperti ditulis Karen Amstrong dalam Berperang demi Tuhan (2001).

Di titik itu agama disebut hanya sebagai proyeksi manusia (Feuerbach), candu masyarakat (Marx), ilusi (Sigmund Freud), dan Friedrich Nietzsche dengan Sabda Zarathustra (1883) merasa perlu memaklumtkan kematian Tuhan (1804-1872), serta J Paul Sartre pun (1905-1980) menolak kehadiran-Nya.

Menghayati agama secara santai dan terus berupaya memasuki medan penghayatan iman yang intim, seperti dilakukan para mistikus, inilah yang akan membuat agama tidak kehilangan muruahnya.Agama akan memberikan konstribusi nyata bagi bangsa dan lebih jauh lagi peradaban. Agama yang memberi jawaban terhadap kemanusiaan.[]

Asep Salahudin Esais, dosen UIN SGD Bandung dan Dekan Fakultas Syariah IAILM Suryalaya,Tasikmalaya. 

Sumber, Media Indonesia 25 Februari 2016.