UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

BEM-J Sastra Inggris Gelar Bedah Buku Puya ke Puya

[www.uinsgd.ac.id] Khazanah sastra Indonesia sedang hangat memperbincangkan penulis muda asal Makassar, yang bernama Faisal Oddang. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, Oddang berhasil menarik perhatian para sastrawan karena karya puisi, cerpen, esai dan novelnya yang berhasil menjuarai beberapa perlombaan nasional. Melihat jam terbangnya, Odang diganjar penghargaan ASEAN Young Writers Award 2014 dari Pemerintah Thailand.

Setelah novel pertamanya Rain and Tears, Oddang baru saja meluncurkan novel keduanya yang berjudul Puya ke Puya. Novel yang dikerjakan selama dua tahun ini, mengangkat Rambu Solo–adat menguburkan orang meninggal yang sering dilakukan oleh masyarakat Toraja.

Kekayaan budaya yang Oddang yang suguhkan dalam karya-karyanya adalah ciri khasnya. Meriset dan membaca buku referensi tidak pernah luput Oddang lakukan sebelum membuat sebuah tulisan. Ditemui dalam acara bedah buku Puya ke Puya di UIN Sunan Gunung Djati  Bandung, Oddang mengatakan bahwa kebiasaannya tersebut membuatnya menyimpulkan, bahwa adat sebenarnya tidak pernah mengukung diri kita, namun kitalah yang selalu berpikir dan merasa terkukung dengan adat

Penyuka buku The God of Small Things ini, sangat menghargai pencantuman istilah-istilah daerah dalam setiap tulisannya. Menurut Oddang kekuatan kata-kata tidak akan sampai pada pembacanya, jika diwakili oleh kata atau frasa pengganti. “Kekuatan kata-kata harus diwakili dengan pencantuman kata-kata asli itu sendiri,” ujar Odang, Kamis (17/12/2015).

Menurut Bunyamin Fasya, satrawan senior yang pernah mengikuti Ubud Writers and Readers Festival 2014, Oddang adalah anak ajaib. Cerpen-cerpen Oddang menarik dibaca sekaligus diapresiasi. Bunyamin menambahkan, bahwa karya Oddang memiliki kontruksi yang lengkap dan spesifik. Namun, dalam buku Puya ke Puya, Odang terlihat terlalu berhati-hati. “Mungkin bisa dimaklumi Oddang terlalu berhati-hati, karena dia bukan orang Toraja, tapi orang Bugis,” ujar Bunyamin.

Belajar Menjadi Penulis Muda

Banyak sekali pemuda seangkatan Oddang yang ingin menjadi seorang penulis. Menurutnya, permasalahan yang sering dihadapi penulis muda seumurnya adalah rasa tidak percaya diri dengan para penulis senior yang sudah memiliki nama. Namun menurut Oddang, rasa percaya diri bisa diatasi dengan produktifnya penulis muda untuk terus mencoba menulis di media atau ikut serta dalam perlombaan.

Menurut pengagum karya-karya Dorothy Paker ini, ada persoalan yang terpenting dari penulis muda yaitu kebiasaan membaca. “Banyak pemuda yang menggebu-gebu ingin menjadi penulis. Namun jika ditanya sudah baca buku apa, dia malah lupa atau malas membaca,” ujar Oddang.

Oddang, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia Universitas Hasanuddin ini, sadar kemampuan menulisnya dimulai dari kebiasaan membaca karya sastra para seniornya, seperti karya dari Iwan Simatupang dan Sapardi Djokodamono. Namun, tidak jarang Oddang sering membaca karya satra lain sesuai kebutuhannya di luar dari suruhan dosennya.

Melihat pengalaman Oddang yang telah diundang dalama acara Makassar International Writters Festival 2015 dan Salihara Literary Biennalle 2015, Bunyamin tidak heran jika Oddang sebagai penulis muda yang sering diperbincangkan. “Oddang masih muda, umurnya baru 21 tahun. Namun, karyanya dalam khazanah sastra Indonesia sudah banyak diperbincangkan,” jelas Bunyamin.

Menyadari usianya yang masih  muda, Oddang tidak mau berpuas diri. Sebagai bentuk produktivitasnya, Faisal Oddang berencana membuat buku kumpulan cerpennya. [Ayu Pratiwi Ulfah, Robby Darmawan/Suaka]