Azmaryadhy: Junjung Tinggi Etika dan Etiket Agar Kampus UIN Bandung Unggul

Dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih, kampus yang unggul seorang pejabat publik memiliki etika dan etiket yang tidak dapat ditinggalkan mulai dari etika dalam bersikap, duduk, berdiri, berjalan, bersalaman sampai berbicara.

Demikian dikatakan oleh Azmaryadhy Djunaedhy, S. STP., M.Han, M.Def, Kepala Subbagian Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia saat mengisi acara Capacity Building Tenaga Kependidikan bertajuk “Melayani dan Sinergi Bersama untuk UIN Sunan Gunung Djati Bandung Maju” yang berlangsung di Hotel Mercure Ancol, dari tanggal 28 Februari sampai 1 Maret 2020.

Menurutnya, etika berkaitan erat dengan tata susila, kesusilaan, tata sopan santun, kesantunan, dalam kehidupan sehari-hari yang baik dalam keluarga, masyarakat, pemerintahan, bangsa dan negara.

Mari kita perhatikan dasar-dasar etiket pergaulan internasional mulai dari sopan ramah kepada siapa saja, memberi perhatian kepada orang lain, menjaga perasaan orang lain, ingin membantu, memiliki rasa toleransi, sampai dapat menguasai diri, mengendalikan emosi dalam setiap situasi.

Apa manfaatnya kita belajar etika pergaulan internasional: pertama, Sangat erat hubungannya dengan sopan santun (manners) dan mencerminkan karakter serta kepribadian seseorang, yang oleh karenanya tidak saja harus dipahami tapi juga diterapkan dalam kehidupan, bahkan menjadi bagian dari kehidupan seseorang.

Kedua, Diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau agar dapat membuat orang lain senang, sehingga kita dapat diterima di dalam suatu pergaulan baik dengan bangsa sendiri maupun dengan bangsa lain. “Ketiga, Syarat mutlak yang harus dikuasai dan dilakukan oleh seorang diplomat selaku pelaksana hubungan luar negeri untuk menjaga serta mengamankan misi diplomatik dan citra bangsa,” jelasnya.

Untuk itu harus diperhatikan etika dalam bersikap, jangan acuh tak acuh terhadap lingkungan, jangan bersikap sombong, jangan diam atau membuang muka saat disapa orang, jangan kaku, jangan cepat panik, jangan rendah diri, jangan cepat naik darah, jangan membual, jangan datang terlambat pada acara-acara resmi, jangan bersikap sok tahu, jangan bersin, batuk, membersihkan hidung, menguap di hadapan umum, jangan melakukan kunjungan mendadak.

Etika ketika duduk, berdiri dan berjalan diatur, bahkan jangan melakukan, duduk membungkuk, menyilangkan kaki bila duduk di hadapan atasan, menggoyang-goyangkan kaki, berdiri sambil bertolak pinggang dalam acara resmi, membungkukkan badan pada saat berjalan, menyeret sepatu, berjalan sambil makan.

“Ajaran agama Islam sangat mengatur cara kita duduk, berdiri dan berjalan.Untuk itu, mari kita peraktikan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kampus,” jelasnya.

Dalam bersalam diatur, kita tidak boleh membuang muka, menyalami orang yang sedang makan  atau tangannya memegang sesuatu, menyalami tamu lain terlebih dahulu ketika berpamitan, menempelkan tangan dan melepaskan begitu saja, diam saja pada saat bersalaman.
“Dari cara kita bersalam tergambar perilakunya. Ada yang berusaha mengintimidasi, sejajar, saling menghormati satu sama lain,” paparnya.

Begitu pula dalam berbicara terdapat etikanya, jangan bersuara terlalu keras, berteriak, nada tinggi, jangan memasukkan tangan ke saku, jangan memotong pembicaraan orang lain, jangan membuang muka/ mengalihkan pandangan pada saat mendengar orang berbicara, jangan berbicara terlalu panjang lebar dan menggunakan bahasa yang sulit di mengerti, jangan membicarakan kehidupan pribadi seseorang, jangan ketus, sinis, sarkastis, jangan salah menyebut nama, jangan meninggalkan lawan bicara yang sedang berbicara.

“Jangan marah-marah atau memaki, jangan menyimpang, menjawab lain dari  pertanyaan yang diajukan, jangan acuh tak acuh pada saat di ajak berbicara, jangan bicara sambil menggerak-gerakan tangan berlebihan, jangan meminta, mengharap sesuatu dengan paksa, keras, jangan mengabaikan perhatian orang lain apabila menerima pujian, ucapan selamat, pemberian, jangan diam atau malu untuk meminta maaf. Disadari atau tidak terkadang kita masih melakukan perilaku-perilaku tadi,” keluhnya.

Pada saat menghadiri acara harus diperhatikan tata kramanya, mulai dari aturan busana yang biasanya tertulis dibawah kiri undangan. Jenis dan sifat kegiatan yang akan dihadiri: Apakah acara resmi, tidak resmi atau acara santai. Waktu penyelenggaraan. Acara pagi hari dengan penyajian morning coffee. Acara siang hari dengan penyajian santap siang.
Acara sore hari dengan penyajian afternon tea. Acara malam hari dengan penyajian santap malam. Kehadiran para pejabat penting atau undangan khusus lainnya.”Dengan adanya ketentuan itu maka dengan mudah kita akan dapat menyesuaikan diri, baik untuk penampilan diri maupun busana yang akan dikenakan untuk menghadiri acara tersebut,” pesannya.

“Untuk itu, kenakan pakaian sesuai dress code. Datang lebih awal dan hadir sedikitnya pada waktu yang tertera dalam undangan. Jangan datang terlambat. Bersalaman terlebih dahulu dengan tuan dan nyonya rumah. Artinya jangan menyalami tamu dulu. Dengan begitu mari kita budayakan salam, senyuman, sapa,” pungkasnya.(rls/IS)

Sumber, Intro News 4 Maret 2020

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *