UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Ayah Hebat

Maraknya kejahatan seksual dan jalanan, yang berujung pada pembunuhan dengan pelakunya anak remaja tanggung, memberikan kita keinsyafan bahwa ada yang salah dalam proses pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga selama ini.

Sementara saat ini, keluarga sebagai institusi sosial terkecil dan utama seolah telah kehilangan fungsi utamanya. Ada banyak rumah yang menjadi tempat asing, dimana orang tua telah kehilangan kontrol bagi penanaman nilai moral anggota keluarga. Secara makro sosial, hal ini menjadikan tumbuh kembangnya generasi muda bangsa minus peran langsung orang tua dalam mendidiknya. Padahal pewarisan nilai, cara pandang dunia, keterampilan dalam mengelola hidup telah dimulai sejak manusia belajar tentang diri dan lingkungannya.

Pada kelas sosial bawah, dengan penghasilan paspasan, ayah lebih senang menghabiskan sebagian uangnya untuk membeli rokok dibandingkan untuk membiayai sekolah dan kesehatan keluarga. Pada kelas menengah atas, orang tua lebih sibuk dengan pekerjaannya dibandingkan mendidik secara langsung. Sekolah berasrama dan pesantren menjadi pilihan menitipkan anak-anaknya di usia remaja, sementara di usia balita, jauh dari sentuhan kasih sayang orang tua. 

Sejatinya pendidikan itu dilakukan langsung oleh orang tua. Guru berperan sebagai mitra untuk mendidik anak. Karena dimintai tolong, tak ada alasan apapun, ketika guru memberikan hukuman dalam rangka mendidik, orang tua melakukan tindakan perlawanan. Anehnya di negeri ini, ada orang tua murid sampai tega menganiaya bahkan memenjarakan guru hanya karena menghukum anaknya. 

Kenapa itu terjadi? Dengan analisis sederhana saja, jangan-jangan disebabkan oleh menguatnya logika jasa titipan pendidikan. Orang tua yang telah membayar biaya kepada sekolah, seolah-olah menjadi raja, mengatur apa yang harus dilakukan sekolah, padahal boleh jadi jauh dari substansi pendidikan. Pemberi jasa termahal memiliki pengaruh lebih besar, rewel dan banyak maunya dibandingkan orang tua di sekolah gratisan. Kerangka ideologi pendidikan seperti ini telah menjadikan disparitas kualitas pendidikan semakin lebar antara sekolah yang bergantung sepenuhnya kepada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan  sekolah premium. 

Bahkan pada konteks yang lebih luas, perguruan tinggi pun bertanggungjawab dan menanggung dosa renteng dari kekeliruan mendasar dari ideologi pendidikan yang salah kaprah. Manusia Indonesia saat ini lahir dari sistem pendidikan yang mekanistis. Nilai kemanusiaan? Omongan basa basi yang ada di ruang kelas atau kuliah. Sistem yang ada di lembaga pendidikan dan lingkungan sosial telah membentuk generasi muda minus karakter. 

Jika dirangkaikan, sedari rumah, sekolah dan lingkungan masyarakat, dominasi nilai anti kemanusiaan lebih kuat dibandingkan kejujuran, kebaikan, kepedulian, moralitas dan keihlasan. Hipotesis ini boleh jadi terkesan berlebihan. Oleh karena itu, pergulatan nilai ini harus dimenangkan, karena ketika diserahkan kepada arus besar nilai budaya yang bukan dikendalikan dan ciri khas sejati bangsa Indonesia, jaman akan menggilas kita dan generasi masa depan.

 Kaderisasi dan Dominasi Nilai

Anak adalah kader di masa depan dengan jaman yang lebih berat tantangannya. Mempersiapkannya harus lebih dari apa yang disiapkan orang tua kepada kita. Dibutuhkan kesanggupan untuk memahami semangat jaman, sembari tetap memastikan transformasi nilai budaya luhur berlangsung baik dan benar-benar terinternalisasi dan terobjektifikasi. 

Pada konteks hubungan keluarga, saling menghormati, penguatan akhlaq, membiasakan musyawarah untuk memecahkan masalah, berbuat adil dan bijak, memelihara persamaan hak dan kewajiban harus menjadi budaya keluarga keseharian. 

Pola kekeluargaan di Indonesia dibangun di atas budaya patrilineal dan matrilineal. Ibarat tiang yang saling melengkapi, ibu dan ayah saling mengisi dan memberikan keteladanan dalam keluarga. Tidak boleh ada ruang kosong dari proses pendidikan di rumah. Dominasi orang tua menjadi sangat penting, mengingat pertarungan perebutan pengaruh nilai bagi anak sangat sengit. Banyak rumah yang telah dikuasai oleh “orang tua ideologis” yang bernama televisi, video games, gadget dan perangkat teknologi pengasuhan kekinian lainnya. 

Waspadai siaran televisi yang menjadi media pembelajaran tumbuh kembangnya anak. Saat orang tua ada di rumah sekalipun, namun sibuk dengan gadget masing-masing, anak diasuh “pihak lain”. 

Mumpung belum terlambat, ada baiknya melakukan introspeksi diri, berapa banyak waktu bersama keluarga, pekerjaan, teman, televisi dan gadget dalam seminggu? Jika saja ibu memiliki peran yang luar biasa, sudah saatnya ayah juga berperan menjadi ayah hebat, dengan beberapa ciri sebagai berikut; Pertama, guru agama pertama dan teladan. Ayah dan ibu hendaknya tempat belajar agama pertama kali dan teladan pelaksanaan ibadah keseharian. 

Kedua, memiliki waktu yang cukup bersama keluarga. Tidak harus berarti banyak waktu, tapi ketika sangat dibutuhkan, selalu ada. Berusaha untuk menyeimbangkan peran publik dan peran sebagai orang tua di rumah. 

Ketiga, mampu berperan dalam tugas domestik rumah tangga. Pada waktu tertentu, saat pembantu tidak ada atau istri repot, peran domestik harus dapat dilakukan. Roda kehidupan yang berputar, membutuhkan daya tahan dan keterampilan lebih dari seorang ayah. 

Keempat, bersama-sama dengan anak dalam berbagai kegiatan pendidikan. Sekali dalam seminggu, mengapa tidak menyempatkan untuk mengantarkan anak ke sekolah. Atau jika tidak sempat mengantar, menjemputnya. Jikapun tidak mungkin, manfaatkan waktu libur untuk melakukan proses edukasi yang bermanfaat.

Kelima, bekerja keras untuk kepentingan keluarganya. Kebutuhan ekonomi memang tak dapat dipungkiri. Meski demikian, bukan berarti mengabaikan kehidupan keluarga. Berperan penuh sebagai pemimpin, memikul tanggungjawab terbesar, memastikan kehidupan berjalan dan selalu memberikan yang terbaik.  

Gerakan kebudayaan yang coba digelindingkan Pemuda Muhammadiyah ini memang masih kecil gaungnya dan dampaknya. Tapi memulianya dari keluarga muda merupakan investasi gerakan kebudayaan jangka panjang. Jika keluarga muda saat ini tumbuh sebagai orang tua hebat, maka anak-anaknya akan menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Belajar dari pengalaman bangsa lain, bukan sumber daya alam yang membuat mereka maju, manusianya yang menjadi modal kemajuan. 

Manusia yang hidup dalam masyarakat desa buana hidup terkoneksi satu sama lain tanpa sekat waktu dan tempat. Identitas budaya, agama, kebangsaan, ras, negara dan ideologi akan melebur. Bila tanpa kekukuhan identitas diri, kita akan meninggalkan generasi yang tergerus jaman, tanpa rasa percaya diri akan budaya, nilai, agama dan identitas diri yang melekat lainnya.      

 Iu Rusliana, Dosen Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin UIN Bandung, Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jabar

Sumber, Pikiran Rakyat 25 Juni 2016