UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Aman dan Nyaman

AMAN DAN NYAMAN
Oleh : H. Aden Rosadi

Aman dan nyaman. Itulah pengalaman empirik yang dirasakan oleh setiap jamaah baik yang melaksanakan ibadah haji maupun umrah. Kenapa? Sebab, dalam kesehariannya, hampir dipastikan setiap jamaah memanfaatkan setiap waktu, tenaga,biaya, dan pikiran hanya untuk satu hal, yakni ibadah. Ibadah dalam arti yang luas bukan sekedar ritual, melainkan juga ‘ibadah sosial’ lainnya. Mereka tidak lagi memikirkan pekerjaan (profesi), harta, bahkan keluarga pun ‘relatif’ terlupakan. Semua larut dalam kenikmatan spiritual. Itulah yang menurut Ali Syariati sebagai ‘gula-gula spiritual’. Amat sangat benar ketika Allah swt dalam firmannya : “waman dakholahu kaana aamina”…”Siapa yang masuk ke masjidil harom ia akan merasa aman”.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi tersebut, antara lain :
Pertama, secara spirutual, semua jamaah akan larut dalam suasana ibadah yang sangat kondusif. Hampir semua jamaah berlomba-lomba dalam konteks fastabiqul khairat meraih berbagai macam keutamaan ibadah baik di Mekah al-Mukarromah maupun Madinah al-Munawaroh. Hampir dapat dipastikan semua ‘orang’ shaleh dan shalehah. Kenapa,? Sebab mereka semua sadar secara spiritual hanya satu yang ingin diraih yakni ridha Allah swt. Upaya tersebut nampak dalam bentuk ketaatan seperti sholat awal waktu dan berjamaah, munajat doa yang dilakukan secara terus menerus, dan taubat akan kesalahan secara istiqomah. Kesadaran spiritual tersebut ditambah dengan keyakinan akan tempat, waktu, dan saat yang mustajab di rumah-Nya yakni Ka’bah. Magnit spiritual menjadi semakin kuat.
 
Kedua, secara sosial, munculnya ‘aura’kerjasama (silaturahmi) yang kuat antar jamaah. Silaturahmi antar jamaah menjadi sangat kuat karena dilakukan di tanah suci dengan berbagai macam keutamaanya. Ikatan emosional antar jamaah, baik haji maupun umrah begitu sangat kuat karena ditunjang oleh motivasi yang sama, yakni menjadi ‘Tamu Allah’…dhuyufullah, dhuyuufurrahman. Semua bekerjasama dan sama-sama bekerja untuk menjadi ‘tamu’ dan memperoleh ‘jamuan’ terbaik dari Allah Swt. Ketika pulang ke tanah air, mereka sepakat untuk dapat meraih ‘oleh-oleh’ utama yakni haji mabrur dan umrah maqbul. Jalinan silaturahmi tersebut terus berlanjut sampai ke tanah dengan berbagai macam kegiatan. Bahkan, tidak sedikit yang menjadi ‘anggota’keluarga, baik secara nasabiyah melalui jalur perkawinan, maupun secara ‘sababiyah’ menjadi saudara angkat.

Ketiga, secara mental. Dari sisi ini, mentalitas jamaah baik haji maupun umrah sudah terbentuk melalui ‘character building’ terutama sejak kegiatan manasik di tanah air. Orientasi perubahan mentalitas yang positif juga dipengaruhi oleh pendekatan persuasif dimana tidak sedikit jamaah yang berangkat ke tanah suci ‘membawa’berbagai macam masalah (keluarga, ekonomi, sosial, politik, dsbnya). Satu hal yang diinginkan, adalah adanya perubahan yang signifikan pasca haji atau umrah selesai dilaksanakan. Paling tidak, mentalitas positif tersebut muncul melalui sikap optimisme dalan menjalani hidup.

Keempat, just praying, eating, sleeping, and shoping…..perasaan aman dan nyaman dibuktikan dengan empat hal kegiatan para jamaah, antara lain : prayaing, dalam arti ibadah secara luas. Yang ada dalam pikiran mereka hanya solat (awal waktu dan berjamaah) ditunjang dengan ibadah lainnya. Mereka tidak lagi terkontaminasi dengan masalah ‘keduniaan’ seperti halnya pekerjaan, harta, kedudukan, bahkan keluarga yang ditinggalkan di tanah air. Eating, para jamaah mendapat jamuan makan baik pagi, siang maupun malam dengan berbagai macam variasi masakan khas Indonesia dan timur tengah. Saking aman dan nyamannya menikmati jamuan makan, tidak sedikit jamaah sekembalinya ke tanah air mengalami tambahan berat badan. Kendati demikian, mereka yakin bahwa tambahan ‘berat’ badan akan menambah sehat, karena ‘aura’ tanah suci-nya. Sleeping, ya tidur atau istirahat. Kendati tidur atau istirahat relatif singkat, namun sangat bermanfaat karena bukan saja ditunjang oleh fasilitas (hotel atau sejenisnya), tetapi   juga oleh ketenangan pikiran dan kejernihan hati hingga tidur menjadi relatif nyenyak. Mereka tidur dalam ‘atmosfir’ ibadah. Dan terakhir, shoping. Yang terakhir ini bagian yang tak terpisahkan dengan jamaah. Mereka shoping, bukan untuk dirinya, tapi untuk para sanak saudara, teman, dsbnya. Salah satu poin positif adalah semangat saling membagi kebahagiaan dengan ‘oleh-oleh’ yang mereka bawa dari tanah suci. Belum lagi munculnya sebagian keyakinan, bahwa oleh-oleh dari tanah suci memiilki nilai spiritual tersendiri. Wallahua’lam bi al-shawab.

Penulis:

Dr. H. Aden Rosadi, M.Ag.

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Sumber: Pikiran Rakyat, 21 April 2016