UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Agama Pilar Perdamaian, bukan Komoditas Politik

[www.uinsgd.ac.id] Agama dan politik semestinya menjadi semangat untuk menciptakan sikap saling memahami dan saling menghormati dalam perbedaan (harmony in diversity). Karena keduanya merupakan pilar utama untuk mewujudkan kesejahteraan sosial masyarakat, peradaban modern, dan perdamaian dunia. Tetapi dalam faktanya, nilai-nilai kebaikan di setiap agama seringkali dikesampingkan, bahkan lebih parahnya dijadikan komoditas politik.

Demikian kira-kira catatan penting yang terungkap dalam Studium Generale “Challenges and Opportunities for Development of Law and Economy in Indonesia-United States Relations”, yang digelar Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis (03/12/2015). Acara tersebut menghadirkan pembicara tunggal Mr Robert Blake, Duta Besar Amerika Serikat.

Robert Blake diterima langsung oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof Dr H Mahmud, M.Si dan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Dr Ah Fathoni, M.Ag. Ia datang didampingi oleh sejumlah Staf Kedutaan Besar Amerika Serikat, seperti Atase Bidang Kerjasama Pendidikan, Perwakilan USAID dan AMINEF.

Ia menjelaskan, kondisi masyarakat di berbagai belahan dunia saat ini banyak disuguhi beragam informasi yang terkesan membangun opini bahwa krisis penegakan hukum, ekonomi, kemanusiaan, terorisme, dan keamanan seolah-olah dilatarbelakangi paradok antara agama dan politik. Pandangan ini boleh jadi keliru karena kenyataan yang sesungguhnya adalah semua bangsa masih kesulitan untuk menerjemahkan nilai-nilai agama dan politik dalam konteks hubungan internasional, karena masih dominannya sikap apriori dan skeptis satu sama lain.

“Dunia sedang menghadapi tantangan yang sangat berat yaitu lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi. Banyak pihak menyebutkan bahwa kedua masalah tersebut menjadi titik tolak munculnya berbagai krisis kemanusiaan, instabilitas keamanan nasional dan internasional, serta disharmoni hubungan antarnegara, lebih dari sekadar persoalan agama dan politik,” katanya.

Menurutnya, kata kunci utama membangun kerjasama internasional adalah adanya saling memahami (mutual understanding), saling menghormati (mutual respect), dan saling percaya (mutual trust). Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri seperti UIN Sunan Gunung Djati Bandung memegang peranan sangat penting dan turut memiliki tanggung jawab besar untuk mewujudkan kemajuan bangsa di masa kini dan masa depan.

Peran yang dimaksud antara lain menyelenggarakan program pendidikan yang mampu mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, menyiapkan lulusan yang berbudi pekerti mulia dan profesional, serta mampu menjawab berbagai tantangan dan perubahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Rektor UIN Bandung, Prof  Mahmud menegaskan, saat ini Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan besar problematika penegakan hukum dan ekonomi pasar bebas. Namun, dengan komitmen dan dukungan semua pihak semua cita-cita tersebut dapat terwujud sesuai dengan harapan. 

“Kita tidak perlu malu untuk terus belajar dan mengambil berbagai pengalaman positif dari negara-negara yang sudah lebih dulu maju. Dengan kehadiran Duta Besar Amerika Serikat ke UIN Bandung ini diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada kita untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman mengenai pengalaman Amerika Serikat dalam melakukan reformasi hukum dan ekonominya, terutama dalam konteks hubungan kerjasama internasional,” harapnya.

Ia mengajak seluruh sivitas akademika UIN Bandung untuk menjabarkan ”Trilogy Strategi Percepatan Pengembangan UIN Sunan Gunung Djati Bandung Masa Depan”. Pertama, meningkatkan kualitas akademik berbasis riset dengan mengitegrasikan model-model inovasi pembelajaran agama, sains, dan teknologi modern di kalangan dosen dan mahasiswa, agar mampu menjawab berbagai tantangan di masa depan.

Kedua, menjalin berbagai kerjasama dengan semua stake holders baik institusi di dalam maupun luar negeri yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan masyarakat dan negara. Dan ketiga, mempersiapkan lulusan yang berkualitas, memiliki kompetensi dan keahlian yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan global.

Pada kesempatan yang sama Dekan FSH Dr Ah Fathoni mengharapkan dapat segera terjalin perjanjian kerjasama (MoU) antara UIN Sunan Gunung Bandung dan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Sekurang-kurangnya mencakup tiga bidang: pertama, penyediaan kelengkapan literatur pada Perpustakaan UIN Bandung salah satunya dengan Library of Congress; kedua, visiting lecturer and professor in research and teaching; dan ketiga, student exchange program antara UIN Bandung dan Universitas-universitas di Amerika Serikat.

“Jika ketiga harapan tersebut terwujud dalam waktu dekat, ini akan menjadi sejarah yang fenomenal dan tercatat dalam Tinta Emas dalam 48 Tahun Sejarah Perjalanan Panjang UIN Sunan Gunung Djati Bandung,” ujarnya. (Nank/dky)