UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

5 S dalam Haji dan Umrah

Dalam salah satu manasik umrah menjelang keberangkatn umrah bulan Mei 2012, salah satu calon jamaah bertanya : apa bekal utama seorang calon jamaah haji/umrah? Dengan tegas dan lugas, seorang pemandu ‘wisata spiritual’ menjawab bahwa bekal utama seorang calon jamaah haji/umrah adalah taqwa, sesuai dengan firman Allah Swt “berbekallah kalian semua, karena sebaik-baiknya bekal adalah taqwa.” Ayat tersebut, secara khusus memang relatif berhubungan dengan ayat-ayat tentang ibadah haji. Kendati demikian,  seseungguhnya  ia pun berhubungan dengan kehidupan umat Islam secara keseluruhan, bahwa bekal terbaik hidup di dunia dan akhirat adalah bekal taqwa.

Kemudian, calon jamaah tersebut bertanya lebih spesifik lagi,..kongkritnya apa taqwa itu dalam menjalankan ibadah haji/umrah.? Pertanyaan tersebut menginspirasi ‘pemenadu spiritual’ untuk berpikir sejenak dan berupaya menjawabnya sesuai dengan kebutuhan riil calon jamaah. Akhirnya, pertanyaan itu pula yang mampu menghangatkan suasana manasik, dan relative mewakili pertanyaan para calon jamaah yang lain.

Dalam lanjutan penjelasan manasiknya, dan menjawab pertanyaan calon jamaah, ‘pemandu spiritual’ itu mengawalinya dengan kata kunci ‘suci’. Haji dan umrah merupakan perjalanan ‘suci’, berada di tempat yang suci (Mekah dan Madinah), dan tentunya memenuhi panggilan Allah yang Maha Suci. Oleh karena itu, maka paling tidak ada tiga kesucian yang harus dijaga dan dipelihara. Pertama, Sucikan hati dengan cara meluruskan niat. Ya allah, kami berangkat menunaikan ibadah haji/umrah hanya karena-Mu, melaksanakan perintah-Mu dan Rasul-Mu. Bukan karena siapa-siapa, bukan karena apa-apa, bahkan tidak seorangpun yang memaksa. Ini benar-benar murni panggilan-Mu (Labbaikallahumma labbaik……). Jaga dan sucikan hati dengan niat yang benar, yakni niat karena Allah Swt. Kedua, Sucikan jiwa dengan tobat. Tobat dalam arti yang sesungguhnya, baik tobat kepada Allah dengan banyak istigfar, dzikir, wirid, baca qur’an, dsbnya, maupun meminta maaf kepada sesama manusia. Lalu, salah seorang jamaah bertanya lagi…, siapa yang pertama kali kami harus kunjungi untuk meminta maaf dan ridha atas dosa dan kesalahan? Pemandu spiritual itu menjawab,: sesuai dengan hadits Nabi Saw, “manusia pertama yang harus kita mintakan ridha dan maafnya, termasuk yang pertama kali dimuliakan adalah ibumu, ibumu, ibumu, lalu bapakmu (orang tua (alladzi waladaka)””….tradisi bagus yang selama ini terus dikembangkan ketika seseorang mau melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah tradisi saling memaafkan dan membebeskan. Bentuk dan ragamnya sangat berbeda, dan tampilannya pun tidak sama. Yang terpenting adalah sucikan diri dengan tobat. Ketiga, sucikan harta dengan zakat. Hal ketiga ini semakin menambah kekhidmatan manasik,,,,seorang calon jamaah lagi-lagi bertanya: saya lupa belum membayar zakat mal, apakah ada hutang dalam pembayaran zakat? Lalu bagaimana baiknya?

Pemandu itupun menjawab, pada prinsipnya, tidak ada istilah hutang zakat. Ia tidak berlaku surut. Yang terpenting ke depannya ia memiliki kesadaran spiritual dan material untuk mensucikan hartanya melalui penunaian zakat. Selain zakat, dalam ranah hukum Islam juga dikenal infaq dan sodaqah, bahkan juga hadiah, wakaf, hibah, dan lain sebagainya. Itulah beberapa cara Allah Swt memerintahkan hamba-Nya untuk mensucikan harta yang telah Allah anugerahkan kepada setiap hambanya. Intinya dari pesan yang ketiga adalah sucikan harta dengan zakat.

Sejenak manasik istirahat, kemudian diisi dengan latihan talbiyah, niat umrah, do’a tawaf, dan lain sebagainya. Tidak lama kemudian, pemandu ‘wisata spiritual’ itu melanjutkan penjelasan tentang materi ibadah yang dimulai dengan pengertian, syarat, rukun, wajib, sunnah umrah, berikut larangan-laranganya selama berihram. Dari sekian banyak yang telah dijelaskan, ternyata bekal taqwa yang dimaksud dalam menjalankan ibadah haji/umrah dapat dikongkritkan ke dalam 5 S, antara lain : Syukur, Sabar, Sholat, Silaturahmi, dan Sodaqoh.

Salah salah seorang Manajemen travel Haji dan Umrah menambahkan lagi dengan Ikhlash dan Tawakkal. Salah seorang calon jamaah lagi-lagi bertanya, kenapa harus demikian?? Pemandu itupun menjawab: Pertama, Syukur, merupakan modal utama, karena tidak semua orang mampu dan sehat serta sempat melaksanakan ibadah haji/umrah. Bayangkan,….ribuan bahkan jutaan orang ingin ke tanah suci, tapi belum mendapat kesempatan. Ada yang sempat, tapi tidak sehat. Ada yang sehat, tapi tidak sempat, dan berbagai macam alas an, rintangan dan hambatan sehingga ia belum bisa ke tanah suci. Tidak ada alasan bagi calon tamu Allah untuk tidak bersyukur kepada-Nya. Apapun yang terjadi, harus disyukuri. Kedua, sabar. Kenapa harus sabar? Perjalanan haji/umrah merupakan perjalanan fisik, bahkan ‘pskikis’ yang amat melelahkan. Ia bisa ‘dinikmati’ jika dibekali dengan sabar. Contohnya apa? (salah seorang jamaah bertanya?)….antri di bandara baik di Indonesia, terlebih lagi di Saudai Arabia (Imigrasi dan bagasi), antri di bis, antri di toilet, belum lagi fasilitas hotel di Mekah dan Madinah,,,,dsbya,,,belum lagi menghadapi ibadah yang berdesak-desakan (Raudhah, towaf, hijir ismail, multazam, hajar aswad, sa’i, dsbnya), ditambah lagi dengan ‘ujian teman sekamar’ yang tentunya berbeda kebiasaan hidupnya. Semuanya, membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Ketigat, solat. Maksudnya apa? Yang pasti tentunya solat wajib dan solat-solat sunnah. Selain itu, solat juga memiliki makna do’a. Bagi calon jamaah, tidak ada waktu yang sia-sia kecuali diguakan untuk berdo’a. Do’a merupakan ruhnya ibadah. Do’a senjata utama seorang mu’min, dan do’a yang dapat merubah taqdir seseorang. Semkin banyak berdo’a, maka semakin bagus ibadahnya. Do’a dilakukan di tempat-tempat (raudah, multazam, hijir ismail, maqom Ibrahim, rukun yamani, bukit sofa dan marwa, dsbnya) dan saat yang mustajab (misalnya ketika berihram)… ..ada satu do’a yang relatif singkat dan padat serta sangat berkesan dikalangan jamaah yakni do’a Allahumma yassir walaa tu’assir (Ya allah,,, mudahkan segala urusan, dan janganlah diprsulit segala uruasan……..)

Keempat, silaturahmi. Haji dan umrah merupakan salah satu ajang silaturahmi yang sangat efektif. Seorang ustadz dari Timur Tengah menyebutnya dengan istilah “Konferensi Umat Islam Dunia”. Bahkan, tidak sedikit melalui haji dan umrah terjalin silaturahmi dan hubungan kekerabatan yang ‘lebih erat’ dari sebelumnya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya bermunculan forum silaturahmi alumni jamaah haji/ umrah yang diisi dengan pengajian, arisan, dsbya. Dalam konteks pelaksanaan ibadah haji dan umrah, silaturahmi yang dimaksud adalah kerjasama dan sama-sama bekerja, saling toleransi, saling mengingatkan, saling bantu, dsbya….bahkan tidak sedikit yang saling member. Hal tersebut dilakukan dengan satu semangat yakni semangat silaturahmi. Mereka membaur dalam satu tujuan, satu tempat, satu keyakianan, satu perjuangan (…Bahkan perjuangan antara hidup dan mati….)….Silaturahmi merupakan salah satu bekal yang utama dalam haji dan umrah. Dan Kelima, Sodaqoh. Kenapa sodaqoh? Karena ‘dahsyatnya sodaqoh’ dapat mengantisipasi berbagai macam bahaya dan malapetaka. Sodaqoh juga dapat menambah ‘sugesti positif’ untuk memiliki jiwa saling memberi. Ia menjadi ‘jembatan emas’ dalam meraih rizki yang halal, baik, dan luas. Sayyida Ai ra, dalam tausiyah mengingatkan : “mintalah keluasan rizqi dengan banyak sodaqoh”…..Perjalanan ibadah haji/umrah akan terasa lebih nikmat, tenang, sehat, dan selamat jika diiringi dengan tradisi sodaqoh.

Di akhir kegiatan manasik, ada salah seorang jamaah yang dengan ‘cerdasnya’ menamhkan 3 S berikutnya sebagai salah satu bekal haji/umrah, yakni : Sehat, Semangat, dan Senyum. Pemandu wisata spiritual itu mengiyakannya, seraya mendukungnya dengan penjelasan, bahwa sehat itu penting dan nikmat terbesar ketiga setelah Iman dan Islam. Semangat juga penting, karena haji umrah juga merupakan ibadah fisik. Ia membutuhkan semangat yang luar biasa. Dan senyum adalah bagian dari sodaqoh yang teramat ‘mudah’ dan ‘murah’. Akhirnya, kegiatan manasik itu ditutup dengan munajat do’a dan musafahah antar calon jamaah.
Semoga ada manfaatnya. Amin.
 Waallahu a’lam bi al-shawab.   
 

Dalam salah satu manasik umrah menjelang keberangkatn umrah bulan Mei 2012, salah satu calon jamaah bertanya : apa bekal utama seorang calon jamaah haji/umrah? Dengan tegas dan lugas, seorang pemandu ‘wisata spiritual’ menjawab bahwa bekal utama seorang calon jamaah haji/umrah adalah taqwa, sesuai dengan firman Allah Swt “berbekallah kalian semua, karena sebaik-baiknya bekal adalah taqwa.” Ayat tersebut, secara khusus memang relatif berhubungan dengan ayat-ayat tentang ibadah haji. Kendati demikian,  seseungguhnya  ia pun berhubungan dengan kehidupan umat Islam secara keseluruhan, bahwa bekal terbaik hidup di dunia dan akhirat adalah bekal taqwa.

Kemudian, calon jamaah tersebut bertanya lebih spesifik lagi,..kongkritnya apa taqwa itu dalam menjalankan ibadah haji/umrah.? Pertanyaan tersebut menginspirasi ‘pemenadu spiritual’ untuk berpikir sejenak dan berupaya menjawabnya sesuai dengan kebutuhan riil calon jamaah. Akhirnya, pertanyaan itu pula yang mampu menghangatkan suasana manasik, dan relative mewakili pertanyaan para calon jamaah yang lain.

Dalam lanjutan penjelasan manasiknya, dan menjawab pertanyaan calon jamaah, ‘pemandu spiritual’ itu mengawalinya dengan kata kunci ‘suci’. Haji dan umrah merupakan perjalanan ‘suci’, berada di tempat yang suci (Mekah dan Madinah), dan tentunya memenuhi panggilan Allah yang Maha Suci. Oleh karena itu, maka paling tidak ada tiga kesucian yang harus dijaga dan dipelihara. Pertama, Sucikan hati dengan cara meluruskan niat. Ya allah, kami berangkat menunaikan ibadah haji/umrah hanya karena-Mu, melaksanakan perintah-Mu dan Rasul-Mu. Bukan karena siapa-siapa, bukan karena apa-apa, bahkan tidak seorangpun yang memaksa. Ini benar-benar murni panggilan-Mu (Labbaikallahumma labbaik……). Jaga dan sucikan hati dengan niat yang benar, yakni niat karena Allah Swt. Kedua, Sucikan jiwa dengan tobat. Tobat dalam arti yang sesungguhnya, baik tobat kepada Allah dengan banyak istigfar, dzikir, wirid, baca qur’an, dsbnya, maupun meminta maaf kepada sesama manusia. Lalu, salah seorang jamaah bertanya lagi…, siapa yang pertama kali kami harus kunjungi untuk meminta maaf dan ridha atas dosa dan kesalahan? Pemandu spiritual itu menjawab,: sesuai dengan hadits Nabi Saw, “manusia pertama yang harus kita mintakan ridha dan maafnya, termasuk yang pertama kali dimuliakan adalah ibumu, ibumu, ibumu, lalu bapakmu (orang tua (alladzi waladaka)””….tradisi bagus yang selama ini terus dikembangkan ketika seseorang mau melaksanakan ibadah haji dan umrah adalah tradisi saling memaafkan dan membebeskan. Bentuk dan ragamnya sangat berbeda, dan tampilannya pun tidak sama. Yang terpenting adalah sucikan diri dengan tobat. Ketiga, sucikan harta dengan zakat. Hal ketiga ini semakin menambah kekhidmatan manasik, seorang calon jamaah lagi-lagi bertanya: saya lupa belum membayar zakat mal, apakah ada hutang dalam pembayaran zakat? Lalu bagaimana baiknya?

Pemandu itupun menjawab, pada prinsipnya, tidak ada istilah hutang zakat. Ia tidak berlaku surut. Yang terpenting ke depannya ia memiliki kesadaran spiritual dan material untuk mensucikan hartanya melalui penunaian zakat. Selain zakat, dalam ranah hukum Islam juga dikenal infaq dan sodaqah, bahkan juga hadiah, wakaf, hibah, dan lain sebagainya. Itulah beberapa cara Allah Swt memerintahkan hamba-Nya untuk mensucikan harta yang telah Allah anugerahkan kepada setiap hambanya. Intinya dari pesan yang ketiga adalah sucikan harta dengan zakat.

Sejenak manasik istirahat, kemudian diisi dengan latihan talbiyah, niat umrah, do’a tawaf, dan lain sebagainya. Tidak lama kemudian, pemandu ‘wisata spiritual’ itu melanjutkan penjelasan tentang materi ibadah yang dimulai dengan pengertian, syarat, rukun, wajib, sunnah umrah, berikut larangan-laranganya selama berihram. Dari sekian banyak yang telah dijelaskan, ternyata bekal taqwa yang dimaksud dalam menjalankan ibadah haji/umrah dapat dikongkritkan ke dalam 5 S, antara lain : Syukur, Sabar, Sholat, Silaturahmi, dan Sodaqoh. Salah salah seorang Manajemen travel Haji dan Umrah menambahkan lagi dengan Ikhlash dan Tawakkal. Salah seorang calon jamaah lagi-lagi bertanya, kenapa harus demikian?? Pemandu itupun menjawab: Pertama, Syukur, merupakan modal utama, karena tidak semua orang mampu dan sehat serta sempat melaksanakan ibadah haji/umrah. Bayangkan,….ribuan bahkan jutaan orang ingin ke tanah suci, tapi belum mendapat kesempatan. Ada yang sempat, tapi tidak sehat. Ada yang sehat, tapi tidak sempat, dan berbagai macam alas an, rintangan dan hambatan sehingga ia belum bisa ke tanah suci. Tidak ada alasan bagi calon tamu Allah untuk tidak bersyukur kepada-Nya. Apapun yang terjadi, harus disyukuri. Kedua, sabar. Kenapa harus sabar? Perjalanan haji/umrah merupakan perjalanan fisik, bahkan ‘pskikis’ yang amat melelahkan. Ia bisa ‘dinikmati’ jika dibekali dengan sabar. Contohnya apa? (salah seorang jamaah bertanya?)….antri di bandara baik di Indonesia, terlebih lagi di Saudai Arabia (Imigrasi dan bagasi), antri di bis, antri di toilet, belum lagi fasilitas hotel di Mekah dan Madinah,,,,dsbya,,,belum lagi menghadapi ibadah yang berdesak-desakan (Raudhah, towaf, hijir ismail, multazam, hajar aswad, sa’i, dsbnya), ditambah lagi dengan ‘ujian teman sekamar’ yang tentunya berbeda kebiasaan hidupnya. Semuanya, membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Ketigat, solat. Maksudnya apa? Yang pasti tentunya solat wajib dan solat-solat sunnah. Selain itu, solat juga memiliki makna do’a. Bagi calon jamaah, tidak ada waktu yang sia-sia kecuali diguakan untuk berdo’a. Do’a merupakan ruhnya ibadah. Do’a senjata utama seorang mu’min, dan do’a yang dapat merubah taqdir seseorang. Semkin banyak berdo’a, maka semakin bagus ibadahnya. Do’a dilakukan di tempat-tempat (raudah, multazam, hijir ismail, maqom Ibrahim, rukun yamani, bukit sofa dan marwa, dsbnya) dan saat yang mustajab (misalnya ketika berihram)… ..ada satu do’a yang relatif singkat dan padat serta sangat berkesan dikalangan jamaah yakni do’a Allahumma yassir walaa tu’assir (Ya allah,,, mudahkan segala urusan, dan janganlah diprsulit segala uruasan……..)

Keempat, silaturahmi. Haji dan umrah merupakan salah satu ajang silaturahmi yang sangat efektif. Seorang ustadz dari Timur Tengah menyebutnya dengan istilah “Konferensi Umat Islam Dunia”. Bahkan, tidak sedikit melalui haji dan umrah terjalin silaturahmi dan hubungan kekerabatan yang ‘lebih erat’ dari sebelumnya. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya bermunculan forum silaturahmi alumni jamaah haji/ umrah yang diisi dengan pengajian, arisan, dsbya. Dalam konteks pelaksanaan ibadah haji dan umrah, silaturahmi yang dimaksud adalah kerjasama dan sama-sama bekerja, saling toleransi, saling mengingatkan, saling bantu, dsbya….bahkan tidak sedikit yang saling member. Hal tersebut dilakukan dengan satu semangat yakni semangat silaturahmi. Mereka membaur dalam satu tujuan, satu tempat, satu keyakianan, satu perjuangan (…Bahkan perjuangan antara hidup dan mati….)….Silaturahmi merupakan salah satu bekal yang utama dalam haji dan umrah. Dan Kelima, Sodaqoh. Kenapa sodaqoh? Karena ‘dahsyatnya sodaqoh’ dapat mengantisipasi
berbagai macam bahaya dan malapetaka. Sodaqoh juga dapat menambah ‘sugesti positif’ untuk memiliki jiwa saling memberi. Ia menjadi ‘jembatan emas’ dalam meraih rizki yang halal, baik, dan luas. Sayyida Ai ra, dalam tausiyah mengingatkan : “mintalah keluasan rizqi dengan banyak sodaqoh”…..Perjalanan ibadah haji/umrah akan terasa lebih nikmat, tenang, sehat, dan selamat jika diiringi dengan tradisi sodaqoh.

Di akhir kegiatan manasik, ada salah seorang jamaah yang dengan ‘cerdasnya’ menamhkan 3 S berikutnya sebagai salah satu bekal haji/umrah, yakni : Sehat, Semangat, dan Senyum. Pemandu wisata spiritual itu mengiyakannya, seraya mendukungnya dengan penjelasan, bahwa sehat itu penting dan nikmat terbesar ketiga setelah Iman dan Islam. Semangat juga penting, karena haji umrah juga merupakan ibadah fisik. Ia membutuhkan semangat yang luar biasa. Dan senyum adalah bagian dari sodaqoh yang teramat ‘mudah’ dan ‘murah’. Akhirnya, kegiatan manasik itu ditutup dengan munajat do’a dan musafahah antar calon jamaah. Semoga ada manfaatnya. Amin.Waallahu a’lam bi al-shawab.