UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam sebuah kesempatan ziarah di kota Madinah, seluruh jamaah kami bawa untuk melintasi Masjid Sab’ah. Masjid yang dibangun sebagai monument atas peristiwa perang Khandak yang terjadi pada bulan Syawal tahun ke 5 Hijrah (627 M). Penduduk setempat menyebut masjid ini dengan Masjid Salman Al-Farisi atau juga Masjid Fatah.
Ada seutas cerita dari medan Khandak yang ditulis secara berantai oleh para sejarahwan muslim. Konon Amr bin Abd Wad al-Amiri, seorang panglima perang gagah berani dari musyrikin Quraisy, menantang kaum muslimin untuk berduel. Seluruh sahabat terlihat gentar, kecuali Ali bin Abi Thalib.
Karena usia Ali relatif muda, Amr bin Abd Wad sempet nyinyir dan menyebut Ali sebagai lawan yang tak sebanding. Namun ketika duel terjadi, Ia amat ketar-ketir. Sampai diujung pertempuran, Ali nyaris menebas leher dan membunuh sang musyrikin itu.
Namun sepupu Rasul itu tidak melakukannya. Penyebabnya, sang musuh keburu membuncahkan ludah ke wajah Ali bin Thalib, hingga Ali terpancing amarah. Atas hal itu, semua sahabat yang menyaksikan tanpa kecuali Amr bin Abd Wad, bertanya heran. Kenapa Ali tidak membunuhnya?
Sepupu Rasulullah itu menjawab, “saat ia meludahiku, amarah membuncah di dadaku. Aku ingin membunuhnya karena Allah, bukan karena amarah. Pada akhirnya, Ali berhasil mepercundangi panglima musyrikin itu. Dan yang terpenting, pemuda yang kelak menjadi khalifah itu, memberi pelajaran adiluhung tentang bagaimana berguru kepada musuh.
Aristoteles, seorang filosof Yunani pernah berkata, “Orang bijak sangat mencintai belajar, bahkan dari musuh sekalipun.” Tidak hanya itu, J.P. Sartre, dalam Existentialism is a Humanism, menyebut musuh adalah seseorang yang datang untuk menyingkap keaslian diri. Lebih jauh Sarte menegaskan, bahwa musuh adalah cermin diri.
Dalam Phenomenology of Spirit G.W.F Hegel menyimpulkan, musuh adalah orang yang datang membawa misi menggerakkan kesadaran diri. Karena itu kehadiran musuh memiliki manfaat bagi pengembangan diri. Sebab sejatinya diri tidak hanya berkebang biak, tetapi harus berkembang baik.
Dalam paradigma filsafat nilai, manfaat kehadiran musuh bisa dilihat dalam empat kontek. Dalam konteks refleksi moral, kehadiran musuh sangat bermanfaat untuk mengenal sisi gelap diri. Dalam konteks disiplin diri, musuh sangat membantu dalam berlatih mawas diri. Dalam konteks Etika Empati, musuh sangat membantu dalam memahami eksistensi diri “yang lain” secara radikal. Dan dalam kontek transformasi diri. musuh sangat membantu dalam melakukan transformasi emosi dari dendam menuju pengampunan.
Dalam narasi agama, kehadiran musuh menjadi sesuatu yang niscaya. Dikunjungi musuh adalah resiko bagi para pejalan kaki di belantara kebenaran. Dalam QS. Al-An’am: 112, Allah berfirman, “Dan Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh… yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (jenis) jin”
Secara spesifik menurut Al-Qur’an, kedatangan musuh setidaknya membawa empat manfaat. Pertama, melatih kesabaran dan keteguhan hati (QS. Ali Imran: 186). Kedua, Membuka potensi pertahanan diri (QS. Al-Anfal: 60). Ketiga, menguatkan solidaritas dan ukhuwah (QS. Ash-Shaff: 4). Dan keempat menurut Sayyid Qutb, kehadiran musuh menjadi bahan evaluasi diri.
Belajar dari seutas hikayat tentang Ali bin Abi Thalib, ada sebuah quote klasik. “Musuh jangan dicari, ketemu musuh jangan lari”. Segera ia pelajari, dengan begitu kemenangan ada dalam genggaman.
Aang Ridwan, Pembimbing Haji Plus dan Umroh Khalifah Tour dan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung