UINSGD.AC.ID (Humas) — Sesekali, kita mungkin pernah membayangkan pikiran itu seperti ruang. Seperti kamar dengan jendela yang bisa dibuka, seperti perpustakaan yang bisa dikunjungi kapan saja. Kita duduk, lalu berpikir—dan dengan itu kita merasa tahu: bahwa pikiran itu ada di kepala. Suatu entitas yang bersemayam di balik dahi.Tapi benarkah begitu?
Rumi bertanya: Jika kau tak tahu di mana tempat pikiranmu, bagaimana mungkin kau tahu tempat Pencipta pikiran?
Sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab, saya kira. Karena mungkin, sebagaimana banyak hal dalam hidup, ia tidak selalu menuntut untuk dijawab. Rasanya, Rumi meminta kita untuk jeda. Berhenti sejenak. Melonggarkan ikatan logika. Mengendurkan kebiasaan kita untuk selalu menunjuk dan memberi nama.
Sungguh. Kita hidup dalam dunia membutuhkan kepastian. Tempat adalah sesuatu yang harus bisa dipetakan. Tapi pikiran bukan peta. Ia bergerak. Ia bisa hadir di tubuh yang luka, atau pada senyap sehabis hujan. Ia bisa muncul di malam ketika kita terjaga, tak tahu apa yang kita pikirkan. Ia bisa tiba dari luar kita, seperti suara yang tak kita panggil.
Dan jika pikiran pun tak tahu di mana ia berada, bagaimana dengan Dia yang menciptakan pikiran itu? Apakah bisa kita letakkan dalam satu sudut bahasa, satu definisi, satu doktrin?
Tuhan yang kita sebut dalam doa. Atau yang kita lisankan dalam permintaan mungkin bukan “ada di atas sana.” Atau “di dalam sini.” Mungkin, seperti juga puisi, Tuhan bukan sesuatu yang bisa dijelaskan, tapi dialami. Seperti cahaya yang tak bisa digenggam tapi terasa di kulit. Seperti angin yang luput direngkuh tapi terasa menghembus di rambut. Seperti kehilangan. Seumpama rindu.
Dugaan saya. Rumi mengajak kita bukan untuk menjelaskan Tuhan, tapi untuk mengakui bahwa kita pun tak benar-benar bisa memahami pikiran kita sendiri. Dan di sanalah—di batas antara ketidaktahuan dan keheningan—iman perlahan tumbuh. Menebal. Lalu membesar. Allahu a’lam.
Radea Juli A Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung