UINSGD.AC.ID (Humas) — Di setiap kali menginjakan kaki di kota Nabi, segenap potensi diri kerap kali disuguhi warisan tarih yang tiada henti mendidik diri. Pada kesempatan ziarah di bulan syawal tahun ini, penulis teringat dua aktor besar yang telah menipu ummat Islam. Mereka adalah Musailamah al-Kadzdzab dan Abdulah bin Ubay bin Salul.
Musailamah pernah menipu Bani Hanifah dengan mengaku menerima wahyu dan mendapat tugas sebagai Nabi. Kepiawaiannya dalam tipu menipu, telah berhasil mengelabui Bani Hanifah di Yamamah untuk menjadi pengikut setianya. Setelah Rasulullah wafat, Sang Nabi palsu itu ditumpas tuntas oleh Khalifah Abu Bakar Siddiq.
Sedangkan Abdulah bin Ubay bin Salul adalah pemimpin kaum munafik yang kerap kali melakukan provokasi, pengkhianatan dan ahli dalam menyebar berita palsu. Diantaranya, ia pernah menyebar berita tentang Aisyah RA, istri Rasulullah SAW yang diisukan berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’athal as-Sulami. Berita palsu itu cukup mengguncang umat Islam kala itu.
Aksi tipu menipu tak berhenti pada sejarah dakwah Nabi di Madinah. Di sini dan di negeri, para penipu seakan menemukan tempat terindahnya. Kalangan influencer menyebut, negeri yang berada di hamparan zamrud khatulistiwa ini, sebagai Paradise of deceivers, surganya para penipu.
Dari sudut pandang sosiologis, sebut saja dalam Foundations of Social Theory (Coleman, J. 1990) dan Strain Theory (Merton, R. 1938), aksi tipu menipu disebabkan oleh; tekanan sosial-ekonomi seperti kemiskinan dan pengangguran. Maraknya budaya permisif, budaya “asal untung”, dan longgarnya norma sosial, seperti toleran terhadap kebohongan-kebohongan kecil namun bisa berdampak lahirnya struktur kebohongan yang terorganisir.
Dalam sudut pandang psikososial, Hare, R. D. (1993), melihat aksi tipu menipu disebabkan oleh narsisme, yakni kebutuhan untuk merasa lebih unggul. Hilangnya empati, tidak peduli terhadap korban yang ditipu. Dan kecanduan adrenalin, yakni kesenangan menipu sebagai bentuk thrill (kepuasan, kegembiraan).
Karena faktor-faktor itu, para penipu begitu senang menikmati ulahnya itu. Dengan menipu ia merasa bisa melakukan dominasi psikologis terhadap korban. Merasa berhasil menguji dan mengecoh aparat, juga merasa bisa hidup setara secara finansial. Karena itu, menipu menjadi compulsive behaviour, perilaku yang terus diulang-ulang.
Epiktetos, salah seorang filosof Stoik pernah berujar, “kebenaran tidak selalu dipelajari dari orang benar, terkadang orang buruk mengajarkan lebih banyak arti kebenaran”. Para penipu, yakni mereka yang memanipulasi realitas dan merepresentasikan penolakan terhadap autentisitas diri. Sesungguhnya mengajari para korbannya tentang arti penting mengasah nalar kritis terhadap informasi apapun. Mereka yang mudah tertipu lazimnya memiliki nalar yang rendah.
Selain itu, para penipu mengajari para korbannya untuk merawat kecerdasan moral. Dengan ditipu sejatinya menjadi tahu yang salah untuk selanjutnya lebih mencintai yang benar. Yang tak kalah penting para penipu mengajari siapapun tentang arti penting menyirami empati dan menguatkan integritas pribadi.
Bagi korban penipuan, ada pelajaran berharga dari madzhab Kantian Ethics, Jangan membalas tipu daya dengan tipu daya. Kemudian pisahkan antara pelaku dan perilaku. Jangan kau musuhi pelakunya tapi musuhilah perilakunya. Karena pelaku adakalanya menjadi cermin diri yang paling otentik. Namun sekencang apapun penipu berlari dan sepandai apapun ia bersembunyi. Ingatlah.. sial tak bisa ditangkal dan dijegal, bahkan waktu akan menjadi jagal. Naudzubillah.
Aang Ridwan, Pembimbing Haji Plus dan Umroh Khalifah Tour dan Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung