Serba-Serbi Lebaran Idul Fitri 1447 H.
“Syiar tak lagi semata diukur dari seberapa keras pelantang suara memekakkan telinga, melainkan dipindahkan ke dalam relung dada yang paling sunyi. Di Tatar Pasundan, kebenaran fiqih diyakini sungguh-sungguh di dalam hati, tapi persaudaraan tetap dipraktikkan dengan senyum di lapangan.”
UINSGD.AC.ID (Humas) — Sejak sore, suara bedug di musholla dekat rumah terus mengalun, membelah kabut tipis yang biasa turun menyelimuti perbukitan Priangan. Maklum, Ramadhan kali ini seringkali turun hujan, mungkin karena masih “Pabaru Cina”, kata para sepuh dulu.
Di malam kemenangan itu, suara bedug yang beriringan dengan gema takbir bersahut-sahutan dari mesjid ke ke mesjid. Ada getar yang merambat di dada setiap kali ritme kayu dan kulit sapi itu menyatu dengan asma keagungan Tuhan. Di Tatar Pasundan, bedug bukan sekadar alat penanda waktu salat; ia adalah detak jantung kebudayaan, proklamator kegembiraan manusia-manusia yang sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan ego, untuk merangkak kembali ke titik fitrah.
Memang, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya corak pemikiran, wajah Islam di Nusantara juga makin kaya warna. Di sebagian masjid saat ini, bedug tak lagi digunakan. Ada pandangan kuat yang menganggapnya sebagai bid’ah, sesuatu yang tak ada contohnya di zaman luhur sana. Ya, tidak apa-apa, itu ranah keyakinan yang harus kita hormati. Toh, meski tak lagi dipukul, bedug-bedug itu kerap kali tetap dibiarkan “ngagojod” dengan tenang di sudut serambi. Ia tetap dihargai sebagai warisan kultural, monumen bisu sejarah dakwah para ajengan dan kasepuhan kita baheula yang mengenalkan agama ini lewat jalan kebudayaan yang sejuk.
Kesejukan itu pula yang selalu kita butuhkan, apalagi saat “jadwal” kebahagiaan ini datang tidak serempak. Tahun ini saja, riuh rendah bedug dan takbir itu punya ritme yang berlapis-lapis. Ada saudara kita yang sudah bertakbir pada Rabu malam untuk berlebaran di hari Kamis. Ada yang baru menabuh bedug di Kamis malam untuk salat Id di hari Jumat. Bahkan, ada yang teguh menanti sabar menyempurnakan bilangan bulan, baru berlebaran di hari Sabtu, menunggu pengumuman dari Ulil Amri.
Lantas, apakah beda hari ini bikin kita paciweuh dan saling cemberut? Di sinilah letak kecerdasan kultural orang-orang kita. Perbedaan hitungan hisab dan rukyatul hilal itu sudah jadi makanan sehari-hari sejak zaman para ajengan dan kasepuhan dahulu. Di warung kopi, di pos ronda, atau di sela-sela obrolan warga yang sedang gotong royong membersihkan makam, perbedaan ini lebih sering jadi bahan “heureuy” (bercandaan) yang menyegarkan ketimbang adu urat leher. “Nu lebaran Kemis, mangga, asal tong hilap oporna diabringkeun ka dieu. Nu Jumaah jeung Saptu, urang takbiran deui weh!” Begitu kira-kira celoteh mereka.
Bagi masyarakat Pasundan yang relijius namun luwes, kebenaran fiqih diyakini secara sungguh-sungguh di dalam hati, tapi persaudaraan (ukhuwah) tetap dipraktikkan dengan senyum di lapangan. Toleransi itu bukan barang mewah yang cuma ada di makalah akademik atau pidato pejabat; ia hidup, bernapas, dan berjalan di gang-gang sempit rumah kita.
Lihat saja kelakuan mereka yang kebagian jatah Lebaran duluan di hari Kamis. Mereka yang Lebaran lebih awal tetap menghargai tetangga dan saudaranya yang masih menjalankan shaum. Ketupat dan opor dinikmati dengan penuh syukur di ruang-ruang privat. Tidak lantas mentang-mentang sudah Lebaran dan bebas puasa, mereka petentang-petenteng makan di sembarang tempat umum. Di titik inilah kita melihat kematangan beragama; harmoni dan persaudaraan adalah nomor wahid bagi bangsa ini!
—-
Dan seolah semesta sedang mengajak kita naik kelas dalam berkesadaran, Lebaran kali ini terasa jauh lebih puitis karena perayaannya beriringan dengan heningnya Nyepi. Di satu sisi, ada luapan kerinduan umat Islam untuk menabuh bedug dan mengumandangkan takbir lewat pelantang suara sebagai wujud syiar. Di sisi lain, sebagian saudara kita umat Hindu sedang menjalankan Catur Brata Penyepian, menarik diri dari keriuhan dunia untuk menyucikan batin.
Lalu, bagaimana urang Sunda menyikapi irisan takdir ini? Di daerah-daerah yang masyarakatnya hidup berdampingan, suara bedug dan takbir itu diturunkan volumenya. Syiar tak lagi diukur dari seberapa keras loudspeaker memekakkan telinga, melainkan dipindahkan ke dalam relung dada yang paling sunyi. Tradisi silaturahmi keliling kampung dilakukan dengan langkah kaki yang pelan, menghindari bising knalpot yang bisa mengoyak kesunyian Nyepi.
Inilah argumentasi sejarah yang paling tak terbantahkan tentang bagaimana Islam mewujud di tanah kita. Kemenangan sejati (Idul Fitri) tidak pernah memaksakan keriuhannya di atas kekhusyukan orang lain. Beda hari Lebaran mengajarkan kita keluasan ilmu, sementara perjumpaan dengan Nyepi mengajarkan kita kedalaman akhlak. Semuanya bermuara pada satu titik: menjadi manusia yang sebenar-benarnya manusia.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung