UINSGD.AC.ID (Humas) — Jika benar dan terbukti bahwa bahan bakar minyak produk Pertamina dengan merk dagang Pertamax dioplos oleh oknum perusahaan negara, maka kita sedang menghadapi lebih dari sekadar skandal bisnis. Hal ini menandakan bahwa kita bukan sekadar kehilangan integritas, malah tidak memilikinya sejak awal.
Betapa teganya masyarakat dikelabui dalam waktu yang cukup lama, tanpa secuil pun rasa bersalah. Para pelakunya menipu dengan kesadaran penuh dan, jangan-jangan, merasa sebagai sebuah prestasi.
Jadi penasaran, kenapa hal ini terjadi. Apakah karena kita tidak benar-benar pernah berniat membangun sistem yang bersih? Atau, karena terlalu banyak urusan politik yang menghambat moralitas dan profesionalisme.
Muncul pikiran nakal ke mana-mana, jangan-jangan sengaja korupsi dibiarkan di negeri ini terus hidup.
Buktinya, praktik oplosan BBM berjalan selama enam tahun dalam skala tidak kecil. Apa mungkin tidak ada yang tahu sama sekali praktik korupsi tersebut?
Jangan-jangan, tidak terberantasnya korupsi bukan karena lemahnya hukum, tetapi karena korupsi memiliki manfaat, untuk kendali politik misalnya. Ketika orang-orang tertentu “dibiarkan memiliki dosa tersembunyi,” mereka tak akan berani bermanuver dan menjadi ‘sapi perah’ politik yang bisa “diamankan” untuk kebutuhan kekuasaan. Mudah-mudahan ini hanya pikiran nakal saja, tidak sesuai kenyataan.
Skandal bahan bakar oplosan tidak sekadar menandakan rakyat tertipu dengan harga tinggi untuk kualitas bahan bakar minyak yang rendah, tetapi rakyat harus membayar harga yang jauh lebih mahal, yaitu kehilangan harapan akan negara yang bersih dan berintegritas.
Jika perilaku di atas terus berlanjut, nasionalisme bangsa ini berpotensi terdegradasi. Kita khawatir masyarakat akan beralih memilih layanan bahan bakar yang disediakan oleh “orang lain”.
Puasa integritas
Dari kejadian oplosan BBM, jadi berandai-andai tentang puasa integritas. Puasa integritas yang dimaksud adalah memetik ajaran kesadaran dari ibadah puasa bahwa ada batas yang harus dihormati. Ada waktu berbuka yang harus ditunggu. Tidak semua yang bisa dimakan harus langsung dimakan.
Seandainya ada puasa integritas, barangkali negara ini tidak akan kehilangan triliunan rupiah setiap tahun hanya karena kita tak mampu menahan diri dari nafsu serakah pada kekayaan.
Jika puasa integritas benar-benar ada, maka sumber daya alam tidak akan menjadi bancakan para elite, tetapi akan dikelola untuk kesejahteraan semua. Anggaran negara tidak akan bocor, tetapi akan benar-benar digunakan untuk memastikan rakyat hidup sejahtera. Namun, sayangnya nafsu terhadap kekayaan jauh lebih sulit dikendalikan dibandingkan menahan terhadap makan atau minum.
Di bulan puasa, di antara kita yang rajin memonopoli pengelolaan sumber daya alam, “doyan ngoplos” bahan bakar minyak, dan menumpuk kekayaan dengan cara “ajaib”, mungkin suka tampil dengan bahasa religius tentang pentingnya menahan hawa nafsu.
Kita mengingatkan tentang pentingnya belajar kejujuran dari ibadah puasa, tetapi diam-diam mengubah kebijakan demi keuntungan diri dan kelompok. Kita bicara tentang kesederhanaan di siang hari, tetapi di malam hari kita duduk di meja perjamuan yang dibiayai dari dana hasil “menyulap” anggaran negara.
Jika puasa integritas diterapkan dalam tata kelola negara, maka kita tidak akan gegabah menandatangani kontrak yang merugikan rakyat. Kita akan berpikir jangka panjang, bukan sekadar mengambil keuntungan sesaat.
Sayangnya, kita hanya menjalani puasa sebagai ritual. Kita terburu-buru menguasai apa yang bisa dikuasai, seperti orang berpuasa yang tidak sabar menunggu azan magrib lalu menyantap makanan sebelum tiba waktu berbuka. Kita menahan lapar hanya beberapa jam, tetapi kerakusan kita pelihara sepanjang hayat.
Puasa integritas berarti kita menyadari bahwa jabatan adalah amanah untuk mengurus dan mensejahterakan masyarakat, bukan alat untuk memperkaya diri. Kita tidak akan menyalahgunakan kekuasaannya untuk memberikan keuntungan kepada kolega atau keluarga.
Seandainya kita menjalani puasa integritas, kita tidak akan mengizinkan eksploitasi tambang yang merugikan masyarakat. Tidak akan membiarkan ruang bagi kroni untuk mencicipi “manfaat” tertentu dan nanti kita sandera agar tidak mengganggu kekuasaan.
Dalam pengambilan keputusan penting ada kalanya kesempatan untuk berbuat curang terbuka lebar, tetapi puasa integritas “memagari” kita untuk tetap berada di jalur yang benar. Kita harus percaya bahwa menahan diri dari berbuat curang akan membuahkan pahala yang sama besarnya dengan menjalani puasa.
Godaan untuk mengambil jalan pintas, mencari keuntungan instan, atau memanfaatkan celah demi kepentingan pribadi bisa begitu besar, tetapi puasa integritas “membekingi” kita untuk tetap teguh pada nilai-nilai kebenaran. Seperti saat kita melihat semangkuk bakso yang menggoda di siang hari, kita tahu bahwa memakannya sebelum waktu berbuka akan membatalkan puasa.
Sayang seribu sayang, puasa integritas adalah hal yang jarang—bahkan tidak pernah—dijalani oleh kita. Kita menjaga perut dari lapar, tetapi membiarkan hati kita dikuasai oleh kerakusan yang menjadi gaya hidup. Kita menahan diri untuk tidak makan dan minum di siang hari, tetapi kita tidak bisa menahan diri dari menggasab hak rakyat.
Selama puasa kita hanya menjadi ritual tanpa prinsip, selama menahan lapar dianggap lebih penting daripada menahan kerakusan, maka kita akan terus dalam ironi: berpuasa di siang hari, tetapi berpesta dengan uang rakyat di malam hari.
Prof Ija Suntana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Sumber, Kompas 3 Maret 2025.