UINSGD.AC.ID (Humas) — UIN Sunan Gunung Djati Bandung bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama RI menggelar Seminar Bimbingan Remaja Usia Nikah (BRUN) Goes to Campus di Gedung Anwar Musaddad, Selasa (11/11/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 750 mahasiswa sebagai upaya mempersiapkan generasi muda membangun keluarga sakinah.
Menghadirkan Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah, Dr. H. Ahmad Zayadi, M.Pd.; Direktur Agama, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Bappenas, Didik Darmanto, S.Sos., MPA.; Instruktur Nasional Keluarga Sakinah, Sugeng Widodo yang menekankan pentingnya edukasi keluarga bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan.

Ahmad Zayadi, menjelaskan BRUN merupakan langkah strategis dalam membekali remaja dan mahasiswa menghadapi kehidupan berumah tangga. “BRUN ini penting dilakukan, terutama bagi kalian yang sedang berada pada fase pencarian jati diri dan mulai memikirkan masa depan. Menikah bukan hanya soal cinta, tetapi kesiapan mental, emosional, spiritual, hingga finansial,” tegasnya.
Keluarga merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. “Keluarga adalah cetak biru peradaban Indonesia. Untuk mempersiapkan dan menuju Indonesia Emas 2045, acara BRUN Goes to Campus ini adalah wasilah dalam rangka membangun keluarga sakinah,” ujarnya.
Remaja dan mahasiswa adalah calon pendidik generasi penerus bangsa yang perlu memahami nilai-nilai keluarga sehat, harmonis, dan berdaya. Penguatan program BRUN juga sejalan dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 244 Tahun 2025 tentang Program Asta Protas, yang berfokus pada ketahanan keluarga dan bimbingan remaja usia nikah.
“Semangat kegiatan seperti BRUN harus menjadi gerakan berkelanjutan dalam mempersiapkan generasi muda yang tangguh dan memahami makna keluarga sakinah dalam konteks modern,” tambah Zayadi.
Dalam paparannya, Didik Darmanto menegaskan pembangunan keluarga dan ketahanan remaja menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi nasional. “Dalam mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, KUA berperan penting dalam melahirkan SDM unggul, berkualitas, dan berakhlak,” ungkapnya.
Urgensi penguatan edukasi kesehatan reproduksi remaja berdasarkan data nasional: 10,77% remaja hamil secara nasional (2024), dengan 16 provinsi berada di atas rata-rata nasional. Angka perkawinan anak masih mencapai 5,90%, dengan 17 provinsi berada di atas angka nasional. “Data ini menegaskan pentingnya intervensi terintegrasi melalui edukasi kesehatan reproduksi, perlindungan anak, dan pemberdayaan keluarga serta komunitas,” jelasnya.
Didik mendorong mahasiswa sebagai generasi muda untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan nasional dan menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, generasi muda memiliki empat peluang besar: Pertama, Menjadi penerima manfaat utama program pembangunan. Kedua, Menjadi perpanjangan tangan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam advokasi serta sosialisasi kebijakan. Ketiga, Berkontribusi dalam penyusunan kebijakan, pengendalian, dan evaluasi program pembangunan. Keempat, Memberikan ide, inovasi, serta memobilisasi gerakan sosial untuk perubahan masyarakat dan lingkungan.
Terdapat enam cara mengukuhkan pembangunan karakter generasi muda, antara lain penguatan pendidikan karakter, kolaborasi dengan keluarga dan komunitas, literasi digital, pengembangan soft skills dan kecerdasan emosional, penanaman nilai kebangsaan dan toleransi, serta pembangunan ekosistem pendukung karakter unggul.
Satuan pendidikan perlu mengintegrasikan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, dan empati dalam pembelajaran. “Pendidikan karakter tidak lagi hanya berupa teori di dalam kelas, tetapi perlu diintegrasikan dengan kegiatan-kegiatan di luar kelas,” jelasnya.
Orang tua merupakan bagian penting dalam pendidikan karakter remaja dan pemuda. “Sinergi antara lembaga pendidikan, keluarga, dan komunitas lokal sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung nilai-nilai positif,” bebernya.
Wakil Rektor III Prof. Dr. Husnul Qodim, S.Ag., M.A., dalam sambutannya mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, BRUN bukan hanya bicara soal pernikahan secara formal, tetapi tentang bagaimana membangun rumah tangga sebagai ruang peradaban yang memuliakan manusia.
“Kita hidup di era likuiditas moral, ketika nilai-nilai cepat berubah dan kedewasaan kerap disalahpahami. Karena itu, bimbingan usia nikah menjadi relevan sebagai rekonstruksi kesadaran moral dan spiritual,” ujarnya.
Islam memandang pernikahan sebagai mitsaqan ghalizha yang memerlukan ilmu, kematangan jiwa, dan visi peradaban. Kampus, lanjutnya, menjadi ruang ideal menanamkan pemahaman tersebut kepada mahasiswa.
“Melalui kegiatan ini, kita membangun ekologi pembelajaran baru. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang karier, tetapi juga tentang cinta yang berkeadaban, relasi yang beretika, dan keluarga yang berkeadilan gender,” jelasnya.
Guru besar fakultas Ushuluddin ini mengajak para mahasiswa menjadi pelaku perubahan dengan menata ulang cara pandang tentang kesiapan menikah di era modern.
“Jadikan ilmu hari ini sebagai kompas moral dalam mengarungi kehidupan, agar kita tidak hanya menjadi generasi berpendidikan, tetapi juga generasi berperadaban,” pesannya.
Hadir dalam Seminar BRUN Goes to Campus, Wakil Rektor IV, Prof. Dr. H. Ah. Fathonih, M.Ag., Kepala Biro A2KK Dr. H. Cecep Khairul Anwar, M.Ag., Kepala Biro AUPK Drs. Ajam Mustajam, M.Si., Kepal Bagian, Ketua Tim Kerja, Wakil Dekan III di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
