Bangkit adalah Kata Kerja

UINSGD.AC.ID (Humas) — Bangkit adalah kata kerja. Ia bukan ingatan tapi laku. Pun, ia bukan nostalgia melainkan keputusan. Kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional bukan karena kangen melihat masa lalu, tapi karena kita percaya bahwa sejarah punya cara tersendiri untuk membisikkan arah. Bahwa sebuah bangsa harus belajar dari titik mula ia berdiri, agar tak tersesat di tengah jalan.

Boedi Oetomo, 1908, bukan sekadar organisasi. Ia adalah gumam bahkan teriakan pertama dari sebuah suara yang selama berabad-abad dibungkam. Ia lahir bukan karena segalanya sudah siap, tapi justru karena kesadaran bahwa jika menunggu kesiapan, kebangkitan tak akan pernah datang.

Kini, lebih dari satu abad berlalu. Apa yang telah bangkit? Dan siapa yang tertinggal?

“Bangkit Bersama Mewujudkan Indonesia Kuat”. Ini tema yang kita pilih hari ini. Tapi “bersama” sering menjadi kata yang gampang diucapkan, tapi sulit dirasakan. Dalam banyak hal, harus diakui, kita masih menjadi bangsa yang berjalan dengan barisan-barisan yang terpisah. Di satu kota, ada mahasiswa yang sibuk mencipta inovasi, di kota lain, ada mahasiswa yang kesulitan membayar uang kuliah. Di satu layar, angka pertumbuhan ekonomi terus naik, di luar layar, antrean BLT semakin mengular.

Mungkin, kita sering mengira kebangkitan adalah soal pembangunan fisik, jalan tol, jembatan, irigasi hingga gedung pencakar langit. Padahal kebangkitan, seperti kata Pramoedya Ananta Toer, adalah ketika “kau bisa menulis tentang penderitaan bangsamu dan membuat orang tidak melupakannya”. Kebangkitan adalah tentang menyadari luka-luka yang tak terlihat, dan memilih tidak berpaling.

Hari ini, ketika semua orang ingin bicara, kebangkitan bisa jadi keberanian untuk mendengar cerita mereka yang tak punya saluran, mereka yang tak disorot kamera, hanya punya luka yang dipendam dalam diam.

Indonesia tak menjadi kuat karena ia dibeton, bangunan tinggi mencakar langit atau mesin-mesin canggih. Indonesia kuat jika yang paling lemah pun merasa bahwa negeri ini memeluknya. Indonesia kuat jika mereka yang berbeda tak hanya ditoleransi, tapi disambut setara. Indonesia bisa menjadi utuh bukan karena keseragaman, tapi karena keberanian memeluk perbedaan sebagai kekuatan.

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki anak muda”, begitu kata Tan Malaka. Pernyataan Tan ini mungkin benar. Tapi kemewahan yang dibayangkan Tan tak boleh jadi sekadar mimpi yang diam di kepala. Ia harus menemukan tanah, tempat tumbuhnya solidaritas, keberanian dan kejujuran.

Saya kira, bangkit bersama bukan sekadar ajakan, tapi tanggungjawab. Kesediaan untuk menoleh ke kiri dan kanan sebelum melangkah, memastikan tak ada yang tertinggal jauh di belakang. Kesediaan untuk sabar menunggu yang tertatih, bukan berlomba-lomba mencapai garis finish sendirian. Karena apa gunanya kemajuan, jika ia hanya milik segelintir? Apa artinya kuat, jika yang lain rapuh dan kita menutup mata untuk melihatnya?

Maka, ketika hari ini kita memperingati kebangkitan, yang lahir lebih seabad yang lalu, hasil dari pertemuan-pertemuan anak muda yang mencintai negerinya, kita pun harus jujur mengatakan: kita belum benar-benar bangkit. Kita masih mencari arah. Kita masih sibuk menyembuhkan luka yang belum sempat terobati, sambil menerima luka baru yang datang dari ketimpangan, ketidakpedulian bahkan ketidakadilan.

Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang tak boleh hilang: keinginan. Hasrat untuk menjadi lebih baik. Harapan bahwa negeri ini bisa adil tanpa kehilangan jiwanya. Dan seperti benih kecil yang dijaga dari angin dan hujan, keinginan itu harus dirawat dengan dialog, dengan kerja bersama, dengan keberanian mengakui bahwa kita belum selesai.

Kebangkitan sejati bukanlah deklarasi, tapi proses. Kebangkitan adalah keberanian untuk berkata: “kita belum selesai, dan karena itu, kita harus terus berjalan. Terus berjalan”. Allahu a’lam.

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *