Antara Akar yang Berdarah dan Hujan yang Menghidupkan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Pada halaqah sore ini, Sang Guru Agung menuturkan perkataan-perkataan hikmah yang menghujam ke sanubari terdalam tentang posisi guru dan orang tua dalam kesuksesan sang anak. Seksamailah tuturan-tuturan sederhana, namun sangat mengenai.

Narasi awal dari kisah Hikmah: Perpisahan di Pintu Gerbang Mekkah

Sejenak kita kembali menerawang ke abad ke-2 Hijriah. Di sebuah pojok desa di Palestina, ada seorang janda miskin bernama Fatimah binti Ubaidillah. Hatinya teriris pilu saat harus melepaskan satu-satunya permata hatinya, Muhammad bin Idris (Imam Syafi’i), yang masih belia untuk pergi jauh menuntut ilmu.

Tidak ada harta yang dapat ia bekalkan, kecuali doa yang membasahi bibirnya setiap malam. Saat melepas putranya, ia tidak berkata, “Cepatlah pulang untuk merawatku,” atau “Carilah uang agar kita kaya.”

Dengan mata berkaca-kaca menahan rindu yang belum terjadi, ia berkata, “Berangkatlah, Nak. Aku serahkan engkau kepada Allah. Jangan pulang sebelum engkau menjadi oase bagi umat ini. Anggaplah kita tidak akan bertemu lagi di dunia, biarlah kita bertemu di surga nanti.”

Bertahun-tahun berlalu, sang ibu pun menua dalam sepi, menahan rindu yang meledak di dada, demi agar anaknya ditempa oleh guru-guru yang waskita namun penuh kasih. Ketika Imam Syafi’i menjadi ulama besar, itu bukan hanya karena kecerdasannya, melainkan karena air mata ibunya yang mengetuk pintu langit dan ketelatenan gurunya yang memahat jiwanya.

——

Narasi Metaforis: Guru dan Orang Tua sebagai Pohon Kehidupan

Bayangkan seorang anak manusia adalah “sebatang pohon yang rindang dan kokoh di tengah padang tandus kehidupan. Orang yang melihat pohon itu akan memuji betapa hijau daunnya dan betapa manis buahnya. Namun, mereka sering lupa pada dua kekuatan yang membuatnya berdiri tegak.

Pertama, orang tua laksana Akar yang Rela Terkubur dalam Gelap.

Posisi akar itu tidaklah mengenakkan. Ia berada di bawah, terinjak tanah, gelap, dan tak terlihat. Tidak ada yang memuji akar saat pohon berbunga indah. Namun, tahukah kita apa yang dilakukan akar?

Ia rela menembus tanah yang keras dan bebatuan tajam hingga “berdarah-darah” hanya demi mencari setetes air kehidupan untuk batang pohonnya.

Saat badai kehidupan menghantam dan angin kencang mencoba merobohkan sang anak, akarlah yang mencengkeram bumi sekuat tenaga, menahan beban agar sang anak tidak tumbang, meski sang akar harus perih menahan tarikan itu.

Orang tua rela “menghilang” dan dilupakan, asalkan anaknya tumbuh menjulang menyentuh langit kesuksesan.

—-

Kedua, Guru Laksana Hujan dan Matahari yang Tak Pernah Lelah

Jika orang tua adalah akar, maka guru adalah Hujan dan Matahari.

Tanah yang subur sekalipun tak akan mampu menumbuhkan pohon tanpa sentuhan langit.

Guru adalah hujan yang turun membasahi hati yang gersang. Ia datang membawa ilmu, meski kadang harus jatuh berkali-kali, diabaikan, atau dianggap angin lalu. Guru tetap turun, lagi dan lagi, dengan sabar, menyejukkan kebodohan menjadi pemahaman.

Guru adalah matahari yang membakar dirinya sendiri demi memberikan cahaya. Ia rela lelah berdiri, menahan kantuk mengoreksi kesalahan, dan memangkas ranting-ranting kenakalan dengan ketegasan kasih sayang. Ia melakukan itu bukan karena benci, tapi karena ia tahu: jika ranting bengkok itu dibiarkan, pohon itu akan tumbuh cacat.

—–

Semaian Hikmah

Kesuksesan seorang anak manusia adalah simfoni agung dari doa malam orang tua yang tak terdengar telinga manusia, berpadu dengan suara parau guru yang tak henti mengajarkan kebaikan di ruang kelas.

“Tanpa akar (orang tua), pohon akan mati kekeringan”

“Tanpa matahari dan hujan (guru), pohon akan layu dan kerdil”

Maka, untuk setiap keberhasilan yang kita raih pada hari ini, tengoklah ke belakang. Di sana ada peluh dan punggung orang tua yang mulai membungkuk karena menopang kita; serta ada rambut guru yang mulai memutih karena memikirkan masa depan kita.

—–

Kata-Kata Hikmah Penutup

Tentang Orang Tua:

“Ridho Allah terletak pada ridho orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua.”

— Hadits Riwayat Tirmidzi

Tentang Guru

“Cintailah gurumu seperti engkau mencintai orang tuamu. Karena orang tuamu merawat jasadmu agar bisa hidup di dunia, sedangkan gurumu merawat jiwamu agar bisa selamat di akhirat. Keduanya adalah sayap yang tanpanya engkau tak akan bisa terbang.”

“Tinta para ulama (guru) itu lebih suci daripada darah para syuhada.” –Hasan Al-Basri (Menggambarkan betapa agungnya posisi pengajar ilmu)–

Tentang Sinergi Keduanya:

“Orang tua menyebabkanku turun dari langit ke bumi (lahir ke dunia), namun guru menaikkanku dari bumi ke langit (dengan ilmu dan makrifat).”

— Iskandar Zulkarnain saat ditanya mengapa ia sangat menghormati gurunya, Aristoteles.

 

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *