Alumni Hukum Keluarga UIN Bandung dan Mahasiswa Dual Degree UIII–SOAS Jadi Imam Masjid di London

UINSGD.AC.ID (Humas) — Muhammad Fahmi Reksa Alfarisi, alumni Program Studi Hukum Keluarga Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2018, terpilih sebagai imam di Indonesian Islamic Centre London. Fahmi terpilih dari puluhan pelamar dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman keislaman yang beragam.

“Awalnya ada sekitar 32 kandidat. Setelah melalui beberapa tahapan seleksi, hanya empat orang yang masuk ke tahap wawancara dan pemaparan grand design. Ketika keputusan akhir diumumkan, saya benar-benar terkejut,” ungkap Fahmi dikutip dari Kemenag, Jumat (2/1/2026).

Fahmi menempuh pendidikan pesantren selama 13 tahun sebelum melanjutkan studi sarjana di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Semasa kuliah, ia juga aktif berorganisasi dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum Lembaga Pembinaan Bahasa (LPB). Bekal pendidikan formal, pengalaman organisasi, dan latar pesantren inilah yang turut menguatkan posisinya dibanding kandidat imam lainnya.

Lulusan tahun 2023 sekaligus awardee Beasiswa Indonesia Bangkit (Kemenag RI x LPDP RI) pada Program Dual Master Degree, yakni Magister Islamic Studies di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan LLM Islamic Law di School of Oriental and African Studies (SOAS), University of London.

Menurutnya banyak kandidat lain yang memiliki hafalan Al-Qur’an dan penguasaan khazanah keislaman yang lebih mendalam. Namun, takdir menempatkannya di mimbar sebuah masjid yang memiliki makna istimewa, yakni masjid milik Indonesia pertama di London.

Bagi Fahmi, amanah sebagai imam bukan sekadar jabatan, melainkan kelanjutan dari perjalanan intelektual dan spiritual yang panjang. Pendidikan pesantren, studi sarjana, hingga jenjang magister di UIII dan SOAS menjadi fondasi penting dalam proses tersebut. Meski demikian, ia mengaku tetap rendah hati dalam memaknai perannya.

“Semua ilmu yang saya peroleh sejauh ini masih terasa belum cukup untuk sepenuhnya menjawab kebutuhan umat dan tantangan zaman,” tuturnya. “Namun alhamdulillah, setidaknya itu menjadi titik awal yang kuat, sebuah fondasi untuk berpijak,” sambungnya.

Berada di tengah aktivitas Indonesian Islamic Centre London menempatkan Fahmi pada persimpangan identitas, tradisi, dan keberagaman. Masjid ini menjadi rumah spiritual bagi masyarakat Indonesia di Inggris, sekaligus ruang ibadah bagi jamaah dari berbagai latar budaya dan kebangsaan.

“Di satu sisi, ada kewajiban untuk menjaga dan merepresentasikan tradisi keagamaan Indonesia serta melayani jamaah Indonesia. Di sisi lain, kami juga dituntut untuk responsif terhadap komunitas Muslim yang lebih luas dan sangat beragam,” jelasnya.

Perbedaan praktik dan pemahaman keagamaan kerap muncul, bahkan dalam ibadah sehari-hari. Namun, Fahmi memandangnya sebagai ruang pembelajaran. “Perbedaan tidak memisahkan. Justru menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan dan menguatkan pemahaman,” ujarnya.

Hidup sebagai Muslim minoritas di London turut membentuk cara pandangnya. Fokus keberagamaan bergeser dari perdebatan menuju upaya menghadirkan ruang ibadah yang damai, inklusif, dan bermartabat.

Di tengah komitmen akademik dan tanggung jawab keagamaan, Fahmi berharap mahasiswa lain dari Program Dual Degree UIII–SOAS dapat melangkah ke peran serupa dan melanjutkan “estafet dakwah”.

“Kebutuhan akan terus bertambah. Pelayanan terbaik harus senantiasa diupayakan bagi jamaah dan masyarakat luas,” tegasnya.

Mimbar di London bukanlah titik akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang—tempat keilmuan bertemu pengabdian, dan proses belajar menemukan maknanya yang paling utuh dalam tanggung jawab.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *