UINSGD.AC.ID (Humas) —Di tengah kehidupan yang serba cepat, banyak orang merasa harus terus berlari untuk memenuhi berbagai tuntutan. Mulai dari kebutuhan ekonomi, target pekerjaan, hingga dorongan untuk mengikuti gaya hidup yang terus berkembang di media sosial. Tidak sedikit yang akhirnya merasa lelah karena selalu membandingkan dirinya dengan pencapaian orang lain.
Suasana berbeda justru terasa di Masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Minggu 21 Juni 2026. Melalui program Damai Indonesiaku yang disiarkan oleh tvOne, jamaah diajak sejenak berhenti dari hiruk-pikuk kehidupan untuk merenungkan satu pertanyaan sederhana namun mendalam: sudahkah kita merasa cukup?
Mengangkat tema “Merasa Cukup (Qonaah) di Tengah Tuntutan Hidup”, KH. Tata Sukayat (Ketua Umum DKM Masjid Raya Al-Jabbar, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi) bersama Ustaz Deban (Juara 1 Aksi Indosiar 2025, dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam) mengajak masyarakat memahami makna qonaah sebagai salah satu kunci ketenangan hidup.
Di tengah arus modernisasi yang sering kali mengukur kebahagiaan melalui kepemilikan materi, qonaah hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu berasal dari apa yang dimiliki, melainkan dari kemampuan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah SWT.
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa tuntutan hidup akan selalu ada dan tidak pernah benar-benar berakhir. Ketika satu keinginan terpenuhi, sering kali muncul keinginan lain yang lebih besar. Karena itu, manusia membutuhkan benteng spiritual agar tidak terjebak dalam perlombaan yang melelahkan.
Qonaah bukan berarti menyerah pada keadaan atau berhenti berusaha. Sebaliknya, qonaah mengajarkan seseorang untuk tetap bekerja keras dan berikhtiar secara maksimal, namun tidak menggantungkan kebahagiaan pada hasil semata. Sikap ini membantu seseorang menerima ketentuan Allah dengan lapang dada tanpa kehilangan semangat untuk berkembang.
Salah satu pembahasan yang menarik dalam kajian tersebut adalah mengenai godaan materi yang sering membuat manusia sulit merasa puas. Besarnya harta atau pencapaian ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan ketenangan hati. Banyak orang yang memiliki segala kemudahan justru masih diliputi kecemasan dan rasa kurang. Sebaliknya, tidak sedikit yang hidup sederhana namun mampu menjalani hari-harinya dengan penuh syukur dan ketenangan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan di era digital saat ini. Kehadiran media sosial membuat seseorang dapat dengan mudah melihat keberhasilan, kemewahan, atau pencapaian orang lain hanya melalui layar gawai. Tanpa disadari, hal itu dapat memunculkan perasaan tertinggal, iri, bahkan kehilangan rasa syukur terhadap apa yang telah dimiliki.
Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk mengubah cara pandang terhadap kehidupan. Dalam urusan duniawi, seseorang dianjurkan melihat mereka yang memiliki kondisi lebih sederhana agar tumbuh rasa syukur. Sebaliknya, dalam urusan ibadah dan kebaikan, seseorang dianjurkan melihat mereka yang lebih baik agar termotivasi untuk terus memperbaiki diri.
Bagi mahasiswa, nilai qonaah memiliki makna yang penting. Di tengah berbagai tuntutan akademik, organisasi, hingga persaingan di dunia digital, kemampuan untuk mengelola ekspektasi menjadi bekal yang berharga. Mahasiswa perlu memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda, sehingga tidak perlu terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Program Damai Indonesiaku di Masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djati Bandung bukan hanya menjadi ruang kajian keagamaan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa ketenangan hidup tidak selalu ditemukan melalui pencapaian yang besar.
Terkadang, kebahagiaan hadir ketika seseorang mampu menerima, mensyukuri, dan menjalani kehidupannya dengan penuh kesadaran. Di tengah dunia yang terus menuntut lebih, qonaah mengajarkan bahwa rasa cukup adalah salah satu bentuk kekayaan yang paling berharga.
Untuk mengetahui ulasannya dapat disaksikan langsung pada kanal YouTube ini
(Anggun Pratama Putri/ Magang)