Menelusuri Jejak Tubagus Imam Faqih Arifuddin
UINSGD.AC.ID (Humas) — Hampir tiap taun, saat bersilaturahmi ke Ciamis, kami sekeluarga selalu menyempatkan berziyarah ke komplek pemakaman Mama Tubagus Imam Faqih ini. Saat mertua laki-laki (KH Maftuh al-Aziz) masih hidup, berdoa di komplek pemakaman ini, senantiasa dipimpinnya.
Namun, sepeninggalnya, saya diminta untuk memimpin do’a untuk ahli maqbarah di tempat ini.
Berulang kali rasa kepenasaran selalu muncul untuk menelusuri “sosok dan kiprah dari Mama Tubagus Imam Faqih Arifufdin” ini.
Namun penelusuran senantiasa terbentur ketiadaan sumber tertulis tentangnya, hanya tersedia informasi lisan dari para tokoh sekitar.
Namun kali ini, akhirnya kucoba merangkai narasi tentang sosok dan kiprahnya didasarkan pada tuturan lisan atau memeori kolektif dari masyarakat sekitar.
Sejarah Islam di Jawa Barat sering kali dibaca sebagai narasi tunggal yang statis. Padahal, jika kita membedah simpul-simpul ziarah di pedalaman Priangan Timur, kita akan menemukan dinamika mobilitas kaum santri yang luar biasa.
Salah satu fragmen yang paling menarik adalah keberadaan makam Tubagus Imam Faqih ’Arifuddin di Kampung Lemah Neundeut, Desa Lumbung, Ciamis.
Sosok ini bukan sekadar “wali lokal”, melainkan representasi dari pergeseran lokus otoritas Islam dari pesisir Banten ke jantung kebudayaan Galuh.
Argumen Migrasi: Dari Surosowan ke Lemah Neundeut
Secara naratif, kehadiran Tubagus Imam Faqih di wilayah Panjalu-Lumbung adalah dampak dari tekanan geopolitik. Saya berargumen bahwa migrasi ini—yang dimulai oleh ayahnya, Tubagus Muhammad Thohir—merupakan bentuk uzlah politik sekaligus ekspansi intelektual. Ketika pusat kekuasaan di Banten mulai direduksi oleh kolonialisme pada abad ke-19, para bangsawan bergelar “Tubagus” ini tidak memilih tunduk, melainkan menepi ke wilayah pedalaman Priangan.
Lemah Neundeut, yang secara harfiah berarti “Tanah yang Tersembunyi/Amblas”, menjadi pilihan lokasi yang simbolis. Ini bukan sekadar pelarian, melainkan strategi pembangunan basis kekuatan mental-spiritual. Di sini, Tubagus Imam Faqih melakukan akulturasi sunyi: ia membawa identitas Banten yang egaliter dan “tegas” (karakteristik pesisir), lalu menyenyawakannya dengan karakter Sunda Galuh yang spiritualis dan halus.
Sintesis Faqih dan ‘Arif: Fondasi Islam Moderat
Argumentasi utama yang perlu kita garis bawahi adalah dualitas identitas keilmuan beliau. Gelar “Faqih” dan “’Arifuddin” bukanlah sekadar nama pemberian, melainkan klaim otoritas.
Sebagai seorang Faqih, ia menegakkan pilar syariat di tengah masyarakat agraris. Namun, sebagai seorang ’Arif, ia menyelami kedalaman tasawuf agar agama tidak menjadi kaku.
Inilah “Madzhab Priangan” yang sesungguhnya: sebuah Islam yang tertib secara hukum (eksoteris) namun luwes secara rasa (esoteris). Pola pemikiran inilah yang kemudian menjadi akar bagi lahirnya institusi-institusi pendidikan Islam di Jawa Barat.
Tokoh ini adalah mata rantai yang menghubungkan internasionalisme Islam (via jaringan Banten-Mekah) dengan lokalitas Pasundan yang sangat kuat.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung