Puasa Batin, Ilmu, dan Cangkir Kosong Sang Pencari “Ridha Allâh”
—-
UINSGD.AC.ID (Humas) — Puasa, dalam kacamata para pencari Ridha Allâh, bukanlah ritus aritmatika tentang berapa jam kita memenjarakan lapar, melainkan sebuah laku esoterik untuk “mengosongkan cawan (jiwa)”.
Ilmu—terutama ilmu hakikat—tidak akan pernah sudi mampir ke dalam dada yang penuh sesak oleh keakuan, kesombongan, dan bisingnya prasangka. Di sinilah puasa memainkan tarian rahasianya: memuasakan ego agar ruh memiliki ruang untuk bernapas dan menyerap Nur (cahaya) pengetahuan.
—-
Menanggalkan Sayap Keakuan: Rintihan Fariduddin al-Aththar
Jauh sebelum angin tasawuf menyentuh Nusantara, dari kota Naisabur pada abad ke-12, Fariduddin al-Aththar telah memetakan lanskap batin ini melalui epos mahakaryanya, “Mantiq ath-Thayr” (Musyawarah Burung). Aththar menyadari betul bahwa musuh terbesar seorang pencari ilmu bukanlah kebodohannya, melainkan ilusi bahwa ia “telah mengetahui”.
Dalam perjalanannya mencari Simurgh (Sang Raja Hakikat), ribuan burung yang dipimpin oleh burung Hudhud (simbol sang Mursyid atau Guru) harus melewati tujuh lembah yang mematikan. Lembah yang paling genting adalah Lembah Kefanaan (Fana), di mana puasa batin diuji hingga ke batas puncaknya. Sang burung harus berpuasa dari eksistensinya sendiri.
Aththar dengan tajam merobek keangkuhan para pencari melalui senandungnya:
“Selama engkau masih memeluk erat dirimu sendiri, engkau tidak akan pernah mencapai pintu-Nya. Bakarlah hartamu, hancurkanlah egomu, dan jadilah debu di jalan ini. Sebab barangsiapa yang belum kosong dari dirinya, ia takkan pernah bisa diisi oleh Cahaya.”
Keta’dziman kepada burung Hudhud mensyaratkan kawanan burung itu menelan mentah-mentah segala penolakan rasional mereka. Puasa, dalam alegori Aththar, adalah laku menjadi “debu” di hadapan keagungan ilmu dan guru. Selama sang salik masih merasa dirinya “ada”, selama itu pula cangkirnya telungkup, menolak air kehidupan yang dituangkan sang guru.
—-
Suluk Wujil: Mengheningkan Cipta di Hadapan Sang Guru
Biji-biji kearifan dari Parsi itu lantas tumbuh subur dan mekar di pesisir utara Jawa. Pergulatan antara bisingnya rasionalitas dan sunyinya kalbu terekam dengan amat menawan oleh Sunan Bonang dalam naskah “Suluk Wujil.”
Dikisahkan Wujil, sang murid kerdil mantan abdi dalem Majapahit yang telah menelan ribuan literatur dan syariat, datang bersimpuh kepada Sunan Bonang. Ia datang dengan jiwa yang masih gersang, menagih ilmu rahasia, menuntut puncak dari segala hakikat maut dan kehidupan.
Namun, apa jawaban Sang Guru? Sunan Bonang tidak menyodorkan gulungan kitab baru. Beliau menepuk kucir rambut sang murid, lantas memintanya untuk membersihkan batin dan “berpuasa” dari hiruk-pikuk pengakuan diri.
Dalam bait tembangnya yang mistis, Sunan Bonang mewejang sang murid:
“Aja ngira ora ana mangka ana. Luwih becik meneng. Aja nganti kagugah. Sapa wruhing sarira, wruhing Pangeran.”
(Jangan mengira Ia tidak ada padahal nyata adanya. Lebih baik diam [berpuasalah dari kata dan gejolak batin]. Jangan sampai terguncang.
Sebab barang siapa mengenal dirinya sendiri, niscaya ia akan mengenal Tuhannya.)
—
“Meneng”: Puasa Tertinggi Para Pencari Cahaya
Kata “meneng” (diam) yang dititahkan oleh Sunan Bonang bersenyawa utuh dengan konsep “menjadi debu” dari al-Aththar. Inilah manifestasi (tajalli) dari puasa batin. Inilah bentuk keta’dziman yang paling subtil. Sebelum seorang murid bersiap menerima tajamnya pedang ilmu sejati, ia harus memuasakan segala bentuk sanggahan ego di hadapan Sang Guru. Ia harus hening.
Dalam tradisi mistik, ilmu sejati kerap diibaratkan sebagai samudera tak bertepi. Dan puasa adalah bahtera sunyi penakluk badainya. Seseorang yang lambungnya terus mengunyah dunia, lisannya tajam mencela, dan batinnya sibuk menghakimi cacat sang guru, niscaya akan tenggelam dalam kebodohannya sendiri sebelum perahunya sempat berlayar.
Keta’dziman kepada guru, pada akhirnya, selalu bermula dari puasa ego. Murid yang sanggup menahan lapar batiniah ini adalah murid yang cawannya kosong, pasrah nan siap menampung air kehidupan dari sang mursyid tanpa ada setetes pun yang terbuang percuma akibat keangkuhan.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung