Ramadhan Transformasi Profetik

Seorang guru tengah mengajar ngaji, foto: Mosaic Indonesia

UINSGD.AC.ID (Humas) –Setiap tahun, umat Islam menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan dengan antusiasme khas. Masjid-masjid bersolek, spanduk Marhaban ya Ramadhan terpasang di berbagai sudut kota. Media massa pun dipenuhi ucapan dan konten religius.

Namun di balik gegap gempita simbolik, Ramadhan sejatinya peristiwa komunikasi yang kaya makna, bukan sekadar ritual ibadah, melainkan momentum transformasi pesan, interaksi, dan pembentukan makna sosial dalam ruang privat dan publik.

Dalam perspektif komunikasi, Ramadhan dapat dipahami sebagai arena produksi dan pertukaran makna (meaning-making) yang intens. Jika mengutif model Lasswell (2021) dalam rumus klasiknya, who says what in which channel to whom with what effect, setiap pesan Ramadhan selalu melibatkan komunikator (ulama, tokoh masyarakat, pemerintah, bahkan influencer), pesan (dakwah, ajakan berbagi, edukasi ibadah), saluran (mimbar masjid, televisi, media sosial), khalayak (umat Islam lintas generasi), serta efek (peningkatan religiusitas, solidaritas sosial, hingga perubahan perilaku konsumsi).

Ilustrasi sujud/ Foto: iStock

Komunikasi Ritual

Dalam tradisi studi komunikasi, Carey (2008) membedakan model transmisi dan model ritual komunikasi. Jika model transmisi menekankan pengiriman informasi, maka model ritual menekankan pemeliharaan kebersamaan dan nilai bersama.

Ramadhan merupakan model ritual. Tarawih berjamaah, buka puasa bersama, tadarus Al-Qur’an, dan tradisi mudik bukan hanya peristiwa ibadah, tetapi juga tindakan simbolik yang memperkuat kohesi sosial.

Di Indonesia, praktik sosial Ramadhan membentuk apa yang oleh Anderson (2016) disebut sebagai imagined community, komunitas terbayang yang dipersatukan oleh pengalaman simbolik bersama. Ketika jutaan umat Islam secara serempak berpuasa, berbuka pada waktu yang sama, dan merayakan Idulfitri bersama, tercipta rasa kebersamaan yang melampaui batas geografis dan sosial.

Komunikasi ritual Ramadhan mengikat masyarakat dalam kesadaran kolektif yang memperkuat identitas keagamaan dan kebangsaan.

Transformasi digital yang terjadi era ini pun menghadirkan dinamika baru dalam komunikasi ritual Ramadhan. Jika dahulu dakwah lebih dominan melalui mimbar dan media konvensional, sekarang pesan-pesan keagamaan menyebar cepat melalui Instagram, YouTube, TikTok, dan podcast.

Dalam kerangka new media theory, sebagaimana dijelaskan oleh Castells (2015), masyarakat jaringan (network society) memungkinkan arus informasi yang terdesentralisasi dan partisipatif. Siapa pun dapat menjadi komunikator dakwah.

Fenomena ustaz digital dan konten kreator religi memperlihatkan pergeseran otoritas komunikasi. Otoritas tidak lagi semata berbasis institusi formal, tetapi juga pada kredibilitas personal dan engagement audiens. Teori kredibilitas sumber (source credibility theory) menunjukkan bahwa pesan akan lebih efektif jika komunikator dianggap kompeten dan dapat dipercaya (Hovland & Weiss, 1951). Dalam konteks Ramadhan, publik cenderung mengikuti tokoh yang dirasa dekat secara emosional dan komunikatif.

ilustrasi kebersamaan keluarga kecil/ foto: pixabay

Etika Solidaritas

Namun, dinamika tersebut juga menghadirkan tantangan. Disinformasi keagamaan, potongan ceramah tanpa konteks, dan polarisasi opini dapat muncul di ruang digital dengan serampangan. Teori agenda setting dari McCombs dan Shaw (2020) menjelaskan bahwa media memiliki kemampuan memengaruhi isu apa yang dianggap penting oleh publik. Jika isu-isu sensasional lebih dominan, substansi spiritual Ramadhan berpotensi tereduksi menjadi sekadar konten viral.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan seluruh jiwa dan raga, seperti mengendalikan lisan dan emosi. Dalam perspektif komunikasi interpersonal, hal tersebut relevan dengan konsep self-regulation dan manajemen konflik. Teori interaksi simbolik dari George Herbert Mead (2015) menekankan bahwa makna terbentuk melalui interaksi.

Ramadhan menjadi laboratorium sosial untuk melatih empati, kesabaran, dan kontrol diri dalam berkomunikasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, tantangan komunikasi kerap muncul akibat perbedaan pendapat, terutama di media sosial.

Ramadhan menawarkan kesempatan refleksi etis: bagaimana menyampaikan kritik tanpa menyakiti, bagaimana berdialog tanpa memicu permusuhan. Etika komunikasi Islami yang menekankan kejujuran (qaulan sadidan) dan kelembutan (qaulan layyinan) sejalan dengan prinsip komunikasi profetik persuasif yang berorientasi pada penghargaan terhadap komunikan.

Ramadhan juga identik dengan peningkatan aktivitas filantropi, diwajibkan membayar zakat fitrah, dianjurkan memperbanyak infak, dan sedekah. Dalam perspektif komunikasi pembangunan (development communication), pesan-pesan solidaritas Ramadhan mampu mendorong perubahan perilaku kolektif. Kampanye sosial yang dirancang dengan narasi empatik terbukti efektif meningkatkan partisipasi publik.

Strategi komunikasi filantropi memanfaatkan storytelling, visualisasi data, dan testimoni penerima manfaat untuk membangun keterlibatan emosional. Teori uses and gratifications (Katz, Blumler & Gurevitch, 1973) menjelaskan bahwa audiens aktif memilih media yang memenuhi kebutuhan mereka, termasuk kebutuhan spiritual dan sosial. Konten Ramadhan yang autentik dan menyentuh cenderung mendapat respons positif karena selaras dengan kebutuhan batin masyarakat.

Refleksi Publik

Bagi institusi pemerintah, organisasi masyarakat, hingga media massa, dan semua umat Islam Ramadhan adalah momentum memperkuat komunikasi publik yang empatik. Narasi yang menyejukkan, informatif, dan inklusif menjadi kunci menjaga harmoni sosial. Media memiliki tanggung jawab etis untuk menampilkan pemberitaan yang mendorong persatuan, bukan sensasi.

Menyongsong Ramadhan dalam perspektif ilmu komunikasi berarti menyadari bahwa setiap pesan memiliki dampak. Ramadhan mengajarkan kesadaran akan kekuatan kata-kata, pentingnya niat, serta tanggung jawab moral dalam berinteraksi. Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan ruang komunikasi spiritual yang mempertemukan dimensi personal dan sosial.

Di tengah arus informasi yang deras dan sering kali bising, Ramadhan menghadirkan jeda reflektif, mengingatkan bahwa komunikasi yang baik bukan hanya tentang seberapa luas pesan tersebar, melainkan seberapa dalam menyentuh hati dan membangun kebaikan bersama.

Dengan kesadaran tersebut, Ramadhan dapat menjadi momentum transformasi komunikasi, dari sekadar transmisi pesan menuju penguatan makna, empati, dan solidaritas sosial.

 

Mahi M. Hikmat, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *