Sebelum Ramadhan: Kita Selalu Datang dengan “Jiwa” yang Belum Bersih

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dua hari jelang Ramadhan, suasana di sekitar rumah umumnya berubah pelan-pelan. Banyak mobil terparkir di sekitar makam besar yang tak jauh dari pesantren al-Mardhiyyah al-Islamiyyah Cileunyi Kulon. Beberapa pedagang pun memanfaatkan kedatangan masyakat yang nadran, begitu pula dengan juru parkir yang nampak sibuk menempatkan beberapa mobil “mewah” pada tempat yang disediakan. “Ini hajat tahunan”.

Di dalam kompleks makam, terlihat banyak orang-orang yang melakukan nadran, berjongkok mengelilingi makam orang terkasih atau keluarganya untuk melangitkan dzikir, do’a, atau bacaan-bacaan a-Qur’an. Beberapa di antaranya dipimpin oleh ustadz atau juru kuncen yang dipilih mereka.

Sementara itu, di GWA keluarga atau medsos lainnya sudah banyak yang mulai membagikan jadwal imsakiyah. Ada pula yang membagikan ucapan tarhib ramadhan dan posting aktivitas persiapan shaum Ramadhan. Polemik awal Ramadhan muncul pula dalam media massa digital, namun kini polemik tersebut direspon “datar-datar” saja, tanpa membuat gesekan berarti. Mungkin, hal ini menunjukkan kedewasaan beragama, atau bisa jadi toleransi intra umat Islam.

Terlepas dari hal tersebut, jauh sebelum semua itu, ada sesuatu yang sering tidak kita perlu bereskan secara serius, yakni diri atau jiwa kita sendiri. Jadwal sahur, buka (ifthar), tarawih, dan ibadah lainnya, bolehlah, untuk disetting, namun menyetting jiwa jauh lebih penting untuk mematangkan kesiapan kesadaran spiritual.

Teringat pengalaman tahun lalu, pada suatu sore menjelang maghrib, saya duduk di ruang tamu dengan tenggorokan terasa seperti digesek pasir. Jam dinding menunjukkan 17.30. Detiknya terdengar keras, lebih keras dari biasanya. Anak kecil di luar rumah ada yang merengek minta minum. Bau gorengan dari dapur mengambang pelan. Kepala terasa agak berat, sedikit pening.

Dan entah karena lapar atau karena tubuh yang belum sepenuhnya adaptif, sebuah kalimat tajam hampir keluar dari mulut saat seseorang berbicara dengan nada yang salah. Karenanya, puasa hari itu hampir runtuh bukan karena makanan hal yang tersaji, tetapi karena satu kalimat “umpatan” yang tak terkontrol dalam pikiran, hati, dan lirihan lisan. Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa 1“Ash-shiyāmu junnah” (puasa adalah perisai.”(HR. al-Bukhari dan Muslim)

“Perisai jiwa itu terasa tipis ketika emosi sedang panas dan tak terkendali”. Demikianlah apa yang dirasa kaum papa, bahkan lebih berat dari itu. Pada momen seperti itulah kita sadar: Ramadhan tidak datang untuk menguji lambung kita. Ia menguji apa yang selama ini disimpan di dada, pikiran, dan hati kita.

Beberapa hari sebelum Ramadhan tiba, di sepanjang jalan dari rumah ke jalan protokol (Cileunyi), seringkali disaksikan daun-daun kering terlihat berserakan. Tidak karena alasan dramatis, angin puyuh; tetapi hanya gugur begitu saja. Disapu pagi hari, jatuh lagi sore harinya. Pohon itu tidak terlihat “sakit”. Ia hanya melepaskan apa yang memang harus dilepaskan, sudah masa “qadha dan qadarnya”

Kita jarang setenang dan setabah itu.

Tapi, seringkali kita menyimpan kesal bertahun-tahun.

Kita memelihara luka lama seperti barang pusaka.

Kita menunda meminta maaf karena gengsi lebih keras dari suara hati.

 

Padahal Allah telah memanggil kita dengan kalimat yang begitu jelas: “Yā ayyuhā alladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu… la‘allakum tattaqūn.” (…agar kamu bertakwa.”

(QS. al-Baqarah [2]: 183)

Takwa tidak tumbuh di dalam hati yang penuh kegelisahan, pembelaan diri, atau menyalahkan pihak lain. Daun-daun itu gugur tanpa retorika, pidato, atau pembelaan diri. Mungkin kita pun harus belajar demikian.

Flashback. Pada malam tarawih setelah sepekan Ramadhan. Mesjid seakan kembali meluas kembali dan seakan menyepi kembali, karena masjid tidak seramai malam pertama. Bau lembap karpetnya pun terkadang tercium. Kipas angin berputar pelan. Di shaf belakang, ada yang menguap. Ada yang melihat layar ponsel sebelum iqamah dilantunkan.

Jamaah berdiri. Takbir diangkat. Bacaan imam mengalun. Tetapi pikiran masih berkelana—ke pekerjaan yang belum selesai, ke pesan yang belum dibalas, ke urusan dunia yang tidak pernah benar-benar berhenti. Bahkan, ke urusan tetek bengek “lebaran” yang melintas dalam benak menyertai suara bacaan iman yang terdengar sayup-sayap, bukan karena jauh jaraknya, tetapi karena jiwa yang dijauhkan oleh urusan duniawi.

Padahal ayat yang dibaca imam adalah: “Alam ya’ni lilladzīna āmanū an takhsya‘a qulūbuhum lidzikrillāh…” “Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah…” QS. al-Hadid [57]: 16)

Belumkah tiba waktunya? Jika dipahami secara mendalam Kalimat itu tidak terdengar sebagai “ceramah. Ia terasa seperti teguran langsung. Dan entah mengapa, di rakaat itu, dada terasa lebih berat dari biasanya walau sesaat. Bukan karena lama berdiri. Tetapi karena ada yang disentuh.

Hati kita ternyata sudah lama mengeras. Bukan karena tidak pernah mendengar ayat. Tetapi karena terlalu sering merasa benar.

Ramadhan sering dibayangkan sebagai perubahan besar. Target khatam. Target sedekah. Target bangun malam. Tetapi yang lebih sulit adalah hal kecil.

Menahan komentar sinis saat lelah.

Menjawab dengan lembut ketika suara orang lain meninggi.

Mengakui kesalahan tanpa menyelipkan pembelaan.

Allah berfirman: “Fa man ya‘mal mitsqāla dzarratin khayran yarah; (Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”_

(QS. az-Zalzalah [99]: 7)

Satu kata yang perlu dipahami mendalam adalah “zarrah”. Kebaikan sering tidak terasa heroik. Ia kecil. Ia sunyi. Ia tidak difoto. Tidak diumumkan. Seperti semut yang mengangkut remah di sela lantai dapur. Tidak ada yang memuji. Tetapi pekerjaan itu dilakukan terus-menerus. Barangkali perubahan kita pun akan lahir dari zarrah- zarrah yang tidak terlihat orang lain.

Puasa adalah perjalanan panjang yang membuat kita berhadapan dengan diri sendiri. Rasa lapar memperjelas sesuatu yang biasanya tertutup kenyang.

Kadang kita menyadari bahwa selama ini yang membuat kita keras bukan keadaan, tetapi keengganan untuk mengalah. Kadang kita baru menyadari betapa mudahnya lisan melukai setelah seharian menahannya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Man lam yada‘ qawla az-zūr wal-‘amala bihi falaysa lillāhi hājahun fī an yada‘a tha‘āmahu wa syarābah.”

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. al-Bukhari)

Hadis itu keras. Tidak memberi ruang untuk sekadar simbolik.

Maka menjelang Ramadhan, mungkin kita tidak perlu terlalu banyak janji. Tidak perlu terlalu banyak resolusi yang indah.

Cukup jujur saja kepada diri sendiri:

Bahwa jiwa kita masih mudah marah.

Bahwa jiwa kita masih sering merasa paling benar.

Bahwa jiwa kita masih menunda memperbaiki “silaturahmi” yang sudah lama retak.

Penyair Maulana Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Luka adalah tempat di mana cahaya masuk.” Mungkin itulah sebabnya lapar terasa perih. Dahaga terasa kering. Agar retakan itu dibuat. Agar cahaya bisa menemukan jalannya.

Ramadhan 1447 H akan menjelang seperti biasa. Adzan akan berkumandang pada jadwalnya, namun Adzab Maghrib adalah yang dinanti. Meja makan akan dipenuhi. Masjid akan diramaikan. Tetapi yang menentukan bukan seberapa ramai suasananya, melainkan seberapa rela jiwa kita digugurkan, dibongkar, dan dilembutkan.

Jujurlly, seringkali saya tidak pernah benar-benar siap menyambut Ramadhan. Namun mungkin kesiapan tidak pernah diminta. Yang diminta hanyalah kesediaan untuk berubah—meski pelan, meski kecil, meski hanya sebesar zarrah.

 

Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *