UINSGD.AC.ID (Humas) — Perayaan Imlek bukan sekadar momentum pergantian tahun dalam penanggalan Tionghoa. Secara historis, tradisi ini berakar dari kebiasaan masyarakat agraris Tionghoa yang merayakan berakhirnya musim dingin dan datangnya musim semi. Simbol harapan, kesuburan, dan kehidupan baru.
Dalam perkembangannya, Imlek dirayakan oleh penganut agama Buddha, Tao, dan Khonghucu, serta menjadi bagian penting dari identitas kultural masyarakat Tionghoa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Di Kota Bandung, perayaan Imlek memiliki dinamika tersendiri. Tradisi ini tidak hanya hadir sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai peristiwa sosial-budaya yang mempererat hubungan keluarga dan komunitas.
Penelitian yang dilakukan oleh Siti Nurjanah (2019) berjudul “Nilai Agama dan Budaya dalam Tradisi Perayaan Imlek: Studi terhadap Agama Khonghucu dan Agama Tao pada Kelenteng Kong Miao dan Wihara Sinar Mulia di Kota Bandung” secara khusus mengkaji praktik Imlek pada dua komunitas keagamaan, yakni di Kelenteng Kong Miao dan Wihara Sinar Mulia.
Fokus dan Metode Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai agama dan budaya yang terkandung dalam tradisi perayaan Imlek pada agama Tao dan Khonghucu di Kota Bandung. Dengan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui observasi langsung di lokasi penelitian serta wawancara semi-terstruktur dengan para penganut dan pengurus tempat ibadah.
Metode ini memungkinkan peneliti menggali makna perayaan Imlek secara lebih mendalam dan terbuka, termasuk pandangan, pengalaman, dan refleksi para informan.
Secara teoretis, penelitian ini menggunakan perspektif Joachim Wach yang menekankan tiga aspek utama dalam agama: doktrin atau pemikiran, aspek sosial, dan ritual. Kerangka ini membantu menjelaskan bagaimana ajaran agama diwujudkan dalam praktik perayaan Imlek.
Selain itu, teori kebudayaan dari Edward Burnett Tylor juga digunakan untuk memahami Imlek sebagai produk kebudayaan yang lahir dari proses panjang pengalaman manusia dan diwariskan lintas generasi.
Imlek sebagai Ruang Spiritual dan Sosial
Dalam praktiknya, perayaan Imlek di Kelenteng Kong Miao dan Wihara Sinar Mulia menampilkan rangkaian ritual sembahyang, penghormatan kepada leluhur, serta doa-doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.
Namun lebih dari itu, Imlek juga menjadi ruang sosial yang mempertemukan keluarga besar, kerabat, dan sahabat dalam suasana penuh sukacita.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana nilai agama dan budaya saling berkelindan. Imlek tidak hanya menjadi simbol spiritualitas, tetapi juga media pelestarian identitas, etika, dan solidaritas komunitas. Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, perayaan ini tetap dipertahankan sebagai warisan yang mengandung makna mendalam bagi penganutnya.
Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian, tradisi perayaan Imlek pada agama Tao dan Khonghucu di Kota Bandung mengandung nilai agama dan nilai budaya yang masih relevan hingga saat ini. Nilai agama yang ditemukan meliputi nilai mistisisme, spiritualisme, asketisme, dan integritas.
Nilai budaya yang teridentifikasi mencakup nilai wujud ideal (gagasan dan norma), nilai wujud tindakan (praktik sosial dan ritual), serta nilai wujud materi (simbol, perlengkapan, dan atribut perayaan).
Meskipun sebagian besar nilai tersebut tetap dipraktikkan, terdapat nilai asketisme yang mulai jarang dijalankan karena tuntutannya untuk menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.
Namun demikian, secara umum tradisi Imlek tetap menjadi momentum kebahagiaan, mempererat kebersamaan antaranggota keluarga dan kerabat, serta merefleksikan harmoni antara nilai agama dan budaya dalam kehidupan masyarakat Tionghoa di Kota Bandung.