Munggahan: Jejak Budaya, Jembatan Menuju Ramadan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Menjelang Ramadan, masyarakat Sunda mengenal satu tradisi yang sarat makna: munggahan. Berasal dari kata munggah yang berarti “naik”, tradisi ini menandai perpindahan dari bulan Sya’ban menuju bulan suci Ramadan. Namun lebih dari sekadar peralihan waktu, munggahan adalah momentum peralihan batin, ruang refleksi sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Di Kecamatan Ujung Berung, munggahan bukan hanya agenda tahunan, tetapi juga bagian dari identitas kultural masyarakat. Tradisi ini merupakan bentuk akulturasi antara budaya Nusantara dan Islam. Ia tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan tumbuh seiring masuknya Islam ke Tataran Sunda. Islam hadir bukan untuk menghapus budaya, melainkan membingkainya dengan nilai-nilai tauhid, doa, dan kebersamaan.

Sejarahnya di Ujung Berung memiliki jejak yang menarik. Tradisi ini diperkenalkan oleh masyarakat pendatang dari Jawa yang membawa kebiasaan munggahan sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para leluhur. Dari situ, munggahan diterima, dipraktikkan, dan diwariskan lintas generasi. Ia menjadi ruang silaturahmi, penguatan ikatan sosial, sekaligus pengingat akan akar sejarah komunitas.

Seiring perkembangan zaman, munggahan di Ujung Berung tidak berhenti pada bentuk awalnya. Tradisi ini mengalami dinamika dan penyesuaian. Salah satu perubahan signifikan adalah perpaduannya dengan kesenian benjang gulat, seni tradisional khas Ujung Berung yang mencerminkan ketangkasan, sportivitas, dan solidaritas.

Sejak 2005, akulturasi ini menjadikan munggahan bukan hanya peristiwa religius, tetapi juga perayaan budaya yang mempertemukan doa dan seni dalam satu panggung kebersamaan.

Dalam rentang 2018–2022, praktik munggahan tetap bertahan meski menghadapi perubahan sosial yang cepat. Tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai lokal mampu beradaptasi tanpa kehilangan ruhnya. Munggahan tetap menjadi simbol kesiapan spiritual, penghormatan terhadap leluhur, dan penguatan harmoni sosial di tengah arus modernitas.

Dengan demikian, tradisi munggahan di Kecamatan Ujung Berung bukan sekadar warisan budaya, melainkan cermin bagaimana Islam dan budaya lokal saling menyapa dan menguatkan.

Refleksi ini sejalan dengan penelitian Febrian Budiyansyah dalam karyanya “Tradisi Munggahan di Kecamatan Ujung Berung 2018–2022”, yang menegaskan bahwa munggahan adalah bentuk akulturasi yang hidup, yang berakar pada sejarah, berkembang melalui seni, dan terus menjadi jembatan spiritual masyarakat dalam menyambut Ramadan.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *