UINSGD.AC.ID (Humas) — Di tengah meningkatnya tuntutan dunia kerja dan perubahan sosial yang cepat, tidak sedikit lulusan lembaga pendidikan keagamaan menghadapi tantangan dalam aspek keterampilan praktis dan kemandirian ekonomi. Fenomena ini menunjukkan bahwa penguatan kompetensi spiritual perlu berjalan beriringan dengan pengembangan life skill yang kontekstual dan adaptif.
Berangkat dari realitas itu, Ani Ramayanti, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) mengangkat disertasi berjudul “Model Pengembangan Life Skill Santri di Pondok Pesantren Al-Muhajirin Kabupaten Purwakarta.” Penelitian ini menegaskan bahwa pesantren tidak cukup hanya membekali santri dengan ilmu agama, tetapi perlu mengembangkan keterampilan hidup yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan jenis keterampilan hidup yang dibutuhkan santri, program yang telah dilaksanakan pesantren, model pengembangan yang diterapkan, implementasi program, keterlibatan pihak eksternal, serta tingkat keberhasilan program dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Secara teoretis, penelitian ini menggunakan tiga lapis kerangka: Grand Theory (Kolb dan Bandura), Middle Theory (Galbraith), dan Applied Theory (Anwar dan Zaim El Mubarok). Empat pilar life skills mulai dari personal, sosial, akademik, dan vokasional terus dikembangkan melalui konsep pesantren sebagai living laboratory yang mengintegrasikan keteladanan, budaya pesantren, unit usaha produktif, serta kemitraan eksternal.
Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis, data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren telah mengembangkan program terstruktur berbasis nilai dan praktik. Model yang dirumuskan adalah Model Pengembangan Life Skill Santri Berbasis Integrasi Nilai Pesantren dan Sistem Pesantrenpreneur (MP-LS INTEKRA).
Implementasi model dilakukan melalui pembiasaan nilai dan pembelajaran kontekstual dalam program inti seperti tahfidz, sekolah menulis, muhadharah, serta unit usaha produktif. Faktor pendukung keberhasilan meliputi komitmen pengasuh dan budaya pesantren yang kuat, sementara tantangan utama berada pada keterbatasan anggaran dan perlunya penguatan aspek digital. Meski demikian, model ini terbukti mampu membentuk santri yang religius, terampil, dan mandiri.

Disertasi ini berhasil dipertahankan dalam Sidang Senat Terbuka Promosi Doktor Program Studi Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung, di Aula Selatan Gedung Pascasarjana, Kamis (12/2/2026). Sidang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Dindin Solahudin, M.A. selaku Ketua Sidang, dengan Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. sebagai Ketua Promotor. Turut mendampingi sebagai Anggota Promotor, Dr. H. Asep Nursobah, S.Ag. dan Dr. H. Hasbiyallah, S.Ag., M.Ag. Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. H. Bambang Samsul Arifin, M.Si.; Dr. Saca Suhendi, M.Ag.; Dr. Hary Priatna Sanusi, S.Pd.I., M.Ag.; dan Dr. Hj. Andi Nuraela, M.Pd. Sementara itu, Prof. Dr. H. Tedi Priatna, M.Ag. hadir sebagai Guru Besar.
Keberhasilan ini menegaskan komitmen Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam melahirkan doktor-doktor Pendidikan Islam yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi berusaha untuk menghadirkan solusi inovatif bagi penguatan peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang transformatif dan berdaya saing.