Transformasi Radikal Perguruan Tinggi Keagamaan
UINSGD.AC.ID (Humas) -Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. menegaskan, Perguruan Tinggi Keagamaan (PTA) kini berada di persimpangan jalan sejarah. Menghadapi era transformasi digital dan krisis global, PTA dituntut untuk menanggalkan model lama dan melakukan lompatan strategis guna menjaga relevansi keilmuan dan legitimasi sosial.
”Ada tujuh masalah fundamental yang menyelimuti dunia pendidikan tinggi keagamaan saat ini, mulai dari dikotomi ilmu hingga kemandirian finansial,” kata Prof. Rosihon saat membuka Rapat Kerja (Raker) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang berlangsung di Auditorium FEBI, Senin (26/01/2026).
Salah satu poin krusial yang diangkat adalah isu relevansi keilmuan. Menurutnya, pemisahan antara ilmu agama dan sains (dikotomi) belum sepenuhnya tuntas. Hal ini mengakibatkan keilmuan agama sering dianggap hanya bersifat normatif, kurang memberikan solusi pada persoalan riil seperti perubahan iklim dan teknologi.
PTA harus bertransformasi menuju keilmuan integratif-transdisipliner. ”Kita harus mulai serius bicara soal ekoteologi, bioetika, hingga etika AI (AI Ethics). Jika tidak, lulusan PTA akan sulit bersaing di pasar global dan ditinggalkan oleh generasi muda yang semakin pragmatis dan digital,” jelasnya.
Prof. Rosihon mendorong perubahan paradigma dari sekadar pengajaran tradisional menuju universitas riset yang mampu memproduksi pengetahuan di tingkat internasional. Pemimpin kampus tidak boleh hanya administratif, tetapi harus visioner dalam merespons perubahan global.
Moderasi beragama harus menjadi produk wacana akademik yang kuat, bukan sekadar slogan politik. Secara bersamaan, digitalisasi menjadi medan tempur baru. Beliau menyoroti ketimpangan literasi digital yang berisiko meminggirkan nilai-nilai agama di ruang siber.
Prof. Rosihon menyoroti pentingnya kemandirian ekonomi melalui konsep entrepreneurial university. Mengandalkan APBN saja dianggap tidak lagi cukup untuk mendanai inovasi dan riset yang masif.
“Pertanyaan fundamental bagi kita semua adalah: apakah PTA hanya akan menjadi penjaga tradisi klasik, atau menjadi aktor strategis peradaban masa depan?” jelasnya.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN SGD Bandung Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag. menyampaikan peringatan keras mengenai perubahan dunia yang sangat cepat. Perguruan tinggi tengah berada dalam tekanan besar dari berbagai arah: industri yang dinamis, ekspektasi masyarakat yang meningkat, hingga perubahan konstalasi global.
”Dengan semangat transformasi besar yang mengusung tema Excellent Impact, FEBI UIN Bandung tidak lagi bisa berjalan di tempat atau sekadar menggugurkan kewajiban administratif,” tegasnya.
Dekan menegaskan, indikator kesuksesan fakultas harus dirombak. Keberhasilan tidak lagi dihitung dari tumpukan dokumen akreditasi, banyaknya sertifikat, atau tebalnya laporan kegiatan, melainkan dari seberapa besar dampak yang dihasilkan bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan kita adalah dampak. Apakah riset kita dirasakan manfaatnya? Apakah pengabdian kita menyentuh persoalan nyata masyarakat? Jika orientasi kita masih sebatas meluluskan mahasiswa, maka kita terlalu kecil dalam bermimpi,” tegasnya, di hadapan seluruh peserta rapat kerja.
Visi besar Raker kali ini adalah menciptakan ekosistem akademik yang hidup. FEBI diproyeksikan menjadi wadah yang melahirkan Penggerak Ekonomi, bukan sekadar pengikut; Pemikir Ekonomi, bukan sekadar penghafal; dan Pelaku Ekonomi, bukan sekadar pencari kerja.
Perubahan ini, menurut Dekan, menuntut keberanian seluruh sivitas akademika untuk meninjau ulang metode pengajaran dan penelitian. Ia menekankan prinsip adaptasi: “Tidak semua yang lama harus ditinggalkan, tetapi tidak semua yang lama layak dipertahankan.”
Dekan meminta setiap jurusan dan unit kerja untuk tidak terjebak dalam formalitas rapat. Ia menginstruksikan penyusunan program kerja yang lebih ramping namun memiliki hasil yang terukur dan realistis.
Ketua panitia Raker FEBI 2026, yang juga Wakil Dekan II, Dr. Muhammad Zaky, M.Si menjelaskan, raker kali ini diikuti oleh 103 orang, terdiri dari para Wakil Dekan, para ketua/sekretaris jurusan; para dosen, tenaga kependidikan, dan unsur masyarakat. Didukung oleh 18 sponsor, terdiri dari lembaga perbankan, lembaga ekonomi, koperasi, usaha pariwisata, UMKM, dan Ikatan Keluarga Alumni UIN Bandung.
Agenda tahunan ini menjadi momentum krusial dalam merumuskan arah kebijakan dan program strategis fakultas ke depan. Raker juga merupakan forum kolaboratif yang mempertemukan berbagai lini pemangku kepentingan.
Partisipasi jajaran pimpinan jurusan mencakup lima program studi strategis, yaitu: Manajemen, Manajemen Keuangan Syariah, Ekonomi Syariah, Akuntansi Syariah, dan Manajemen Industri Halal.
Selain fokus pada penyusunan program kerja, Dr. Zaky menekankan bahwa aspek emosional dan kekeluargaan menjadi pondasi utama kegiatan ini. Tujuan utama Raker ini mencakup dua dimensi penting: 1) Mempererat tali silaturahmi dan memperkuat jalinan kekeluargaan di antara seluruh elemen fakultas, dan 2) Merumuskan berbagai program kerja inovatif demi pengembangan FEBI yang lebih unggul di masa depan.
Melalui tema ”Excellent Impact”, FEBI berharap setiap program kerja yang dihasilkan tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi mampu memberikan dampak nyata dan unggul bagi mahasiswa, institusi, dan masyarakat luas.(Nanang Sungkawa/ Kontributor)