UINSGD.AC.ID (Humas) — Pendidikan sering dipahami sebagai proses akademik. Ia diukur melalui nilai, peringkat, dan kelulusan. Cara pandang ini menyempitkan makna pendidikan. Pendidikan sejatinya adalah proses pembentukan kesadaran. Di ruang sekolah, manusia belajar memahami dirinya. Dari pemahaman diri, manusia mulai menata arah hidup. Dari arah hidup, manusia sampai pada pertanyaan paling mendasar: untuk apa ia ada. Pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan rumus dan teori. Pertanyaan ini membawa manusia pada pengenalan kepada-Nya. Di titik inilah pendidikan menemukan makna terdalamnya.
Sekolah bukan sekadar tempat mentransfer pengetahuan. Sekolah adalah ruang pembentukan makna. Setiap aktivitas belajar membentuk struktur batin. Disiplin mengajarkan kesadaran akan batas. Tanggung jawab menumbuhkan kesetiaan pada proses. Konsistensi melatih keteguhan. Dari proses ini tumbuh karakter. Karakter yang terarah tidak berhenti pada kecakapan sosial. Karakter mengantar manusia memahami bahwa hidup memiliki tujuan. Tanpa orientasi nilai ketuhanan, pengetahuan kehilangan arah. Ilmu berubah menjadi alat. Kepandaian berubah menjadi strategi bertahan hidup. Pendidikan yang kehilangan makna transendennya akan menghasilkan manusia cerdas yang rapuh secara batin.
Peran guru berada pada posisi kunci. Guru bukan hanya penyampai materi. Guru adalah penjaga arah pendidikan. Sikap guru lebih kuat daripada ceramah. Keteladanan guru membentuk kesadaran peserta didik secara perlahan tetapi mendalam. Cara guru berpikir akan ditiru. Cara guru bersikap akan direkam. Dari interaksi harian itulah terbentuk orientasi hidup peserta didik. Guru yang mengajar dengan kejujuran melahirkan keberanian intelektual. Guru yang hidup dengan integritas menumbuhkan kesadaran moral. Proses ini tidak terlihat dalam rapor, tetapi bekerja kuat dalam kepribadian siswa. Prestasi akademik kemudian bukan sekadar angka. Prestasi menjadi refleksi dari kedewasaan berpikir dan kedalaman kesadaran.
Sekolah juga membentuk manusia melalui pengalaman sosial. Ruang kelas mempertemukan perbedaan. Perbedaan memaksa manusia belajar memahami yang lain. Dari pemahaman lahir empati. Empati melahirkan sikap etis. Sikap etis membentuk relasi yang adil. Relasi yang adil mencerminkan nilai ketuhanan dalam kehidupan nyata. Pendidikan yang mengabaikan dimensi sosial hanya menghasilkan individu kompetitif yang miskin kepekaan. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan manusia pintar. Dunia membutuhkan manusia sadar. Kesadaran ini tumbuh ketika pendidikan tidak hanya membentuk nalar, tetapi juga membentuk hati.
Rutinitas sekolah sering dianggap sebagai beban teknis. Padahal justru di sanalah proses pembentukan manusia berlangsung. Bangun pagi melatih kesadaran akan waktu. Hadir tepat waktu melatih kejujuran pada komitmen. Menyelesaikan tugas melatih kesetiaan pada proses. Kebiasaan kecil ini membangun struktur mental. Struktur mental melahirkan keteguhan. Keteguhan membentuk integritas. Integritas inilah yang membuat manusia tidak mudah goyah ketika menghadapi kompleksitas kehidupan. Pendidikan sejati tidak terjadi dalam peristiwa besar. Pendidikan terjadi dalam kebiasaan harian yang dijalani dengan kesadaran.
Masalah pendidikan hari ini terletak pada reduksi makna. Pendidikan direduksi menjadi administrasi. Kurikulum direduksi menjadi target angka. Sekolah direduksi menjadi mesin kelulusan. Ketika pendidikan kehilangan orientasi nilai, proses belajar menjadi kering. Peserta didik kehilangan makna. Guru kehilangan peran substantif. Sistem kehilangan jiwa. Pendidikan seharusnya tidak berhenti pada capaian teknis. Pendidikan harus menghidupkan pertanyaan eksistensial. Siapa manusia. Untuk apa ia belajar. Ke mana arah hidupnya.
Pendidikan yang bermakna membentuk daya pikir kritis. Daya pikir kritis bukan sekadar kemampuan menganalisis. Ia adalah kemampuan menimbang kebenaran. Ia adalah keberanian untuk tidak tunduk pada kebisingan informasi. Dari daya pikir lahir kejernihan. Dari kejernihan lahir kebijaksanaan. Manusia yang bijaksana tidak hanya cakap secara intelektual. Ia sadar posisi dirinya sebagai makhluk. Ia memahami keterbatasannya. Dari kesadaran keterbatasan inilah tumbuh kerendahan hati. Kerendahan hati membuka ruang pengenalan kepada-Nya.
Pendidikan yang sampai pada kesadaran ketuhanan tidak menjadikan manusia pasif. Sebaliknya, ia melahirkan manusia bertanggung jawab. Manusia yang mengenal Tuhannya akan lebih serius dalam belajar. Ia memahami bahwa ilmu adalah amanah. Ia memahami bahwa berpikir adalah ibadah. Ia memahami bahwa setiap proses hidup memiliki dimensi pertanggungjawaban. Pendidikan semacam ini membangun manusia utuh. Utuh secara intelektual. Utuh secara moral. Utuh secara spiritual.
Di titik inilah pendidikan menemukan hakikatnya. Pendidikan bukan sekadar alat mobilitas sosial. Pendidikan bukan sekadar sarana kompetisi. Pendidikan adalah jalan pembentukan kesadaran. Kesadaran diri. Kesadaran nilai. Kesadaran tujuan hidup. Ketika pendidikan diarahkan pada kesadaran tersebut, sekolah berubah menjadi ruang pemaknaan. Guru berubah menjadi pembimbing eksistensial. Proses belajar berubah menjadi perjalanan batin.
Pendidikan yang sejati tidak hanya melahirkan orang pandai. Pendidikan melahirkan manusia yang tahu arah pulang.
H. Herman, S.Sos.I., M.Ag., Sekretaris Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.