Konsep Waktu: Dari Putaran Kosmik Bumi ke Qolbi

Keingintahuan manusia tentang perjalanan waktu telah ada sejak ribuan tahun lalu. foto: shutterstock

UINSGD.AC.ID (Humas) — Waktu sering kita pahami sebagai angka di kalender atau jam di pergelangan tangan. Namun sesungguhnya, waktu adalah irama kosmik gerak yang tak pernah berhenti, dari yang paling dekat dengan kita hingga yang paling jauh dari jangkauan imajinasi Qolbi

 

1. Waktu Harian: Bumi Berputar

Satu hari terjadi karena Bumi berotasi pada porosnya. Sekitar 24 jam, siang dan malam silih berganti. Ini adalah skala waktu paling intim: waktu bekerja dan beristirahat, waktu salat dan doa, waktu menepati janji atau menunda. Di tingkat ini, manusia sering merasa mengendalikan waktu, padahal kita hanya menumpang pada putaran Bumi.

 

2. Waktu Bulanan: Bulan Mengelilingi Bumi

Sekitar 29,5 hari, Bulan menyempurnakan satu siklus mengelilingi Bumi. Dari sini lahir konsep bulan, hilal, purnama, dan kalender hijriah. Ia mengingatkan bahwa:

waktu memiliki fase, ada awal yang kecil (hilal), ada puncak, lalu kembali meredup. Seperti hidup manusia, tidak selalu terang, tidak selalu gelap.

 

3. Waktu Tahunan: Bumi Mengelilingi Matahari

Satu tahun adalah hasil dari revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Musim berganti, usia bertambah, catatan hidup terakumulasi. Pergantian tahun sering membuat kita bertanya Apa yang tumbuh dalam diriku tahun ini? Apa yang gugur dan perlu ditinggalkan? Namun secara kosmik, satu tahun manusia hanyalah satu langkah kecil.

 

4. Waktu Galaktik: Tata Surya Mengelilingi Galaksi

Matahari bersama Bumi dan seluruh tata surya mengorbit pusat galaksi Bima Sakti. Satu putaran penuh memerlukan waktu sekitar 250 juta tahun. Artinya sejak dinosaurus hidup hingga manusia modern, belum satu kali pun tata surya menyelesaikan satu putaran galaksi. Di sini, ego manusia mulai runtuh. Sejarah peradaban hanyalah kedipan singkat dalam waktu galaksi.

 

5. Waktu Antar-Galaksi: Gugus dan Jaring Kosmik

Galaksi tidak diam. Ia bergerak dalam gugus galaksi, lalu dalam jaring kosmik raksasa yang membentang miliaran tahun cahaya. Skala ini mengajarkan waktu bukan hanya cepat atau lambat, tetapi kedalaman keberadaan. Semakin luas cakrawala, semakin kecil kita namun justru semakin bermakna jika sadar posisi.

Ketika kalender berganti angka, bumi tidak berhenti berputar, Matahari tidak menunggu kita berubah, Galaksi tidak peduli resolusi tahunan kita. Namun manusia diberi anugerah unik kesadaran waktu. Awal tahun bukan tentang kosmos yang berubah, melainkan hati yang diajak berhenti sejenak di tengah putaran yang tak pernah berhenti. Jika semesta saja tunduk pada hukum gerak, maka manusia seharusnya tunduk pada hukum makna. Bukan seberapa jauh Bumi bergerak di galaksi, tetapi seberapa jauh jiwa kita bergerak menuju kebaikan.

 

S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *