UINSGD.AC.ID (Humas) — Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan (1650–1730) dikenal sebagai tokoh sentral dalam pengembangan pesantren di Tatar Sunda pada abad ke-17. Lahir di Kuta Raja Mataram Islam dari keluarga priyayi yang religius, ia memiliki garis keturunan bangsawan Sunda dari sang ayah, Lebe Wartakusumah, dan bangsawan Mataram dari sang ibu, Raden Ajeng Tangenjiah.
Sejak muda, ia menempuh perjalanan intelektual yang panjang, mulai dari berguru di Aceh kepada Syeikh Abdul Rauf al-Sinkili hingga melanjutkan studi ke Haramayn (Mekkah dan Madinah). Di Tanah Suci, ia memperdalam ilmu tasawuf dan tarekat Syathariyah di bawah bimbingan ulama besar seperti Syeikh Ibrahim al-Kurani, yang kemudian memberinya legitimasi sebagai seorang mursyid.

Sekembalinya ke Nusantara sekitar tahun 1679, Syeikh Abdul Muhyi tidak langsung menetap, melainkan singgah di beberapa wilayah seperti Darma (Kuningan) dan Pameungpeuk (Garut) sebelum akhirnya memilih Sukapura (Tasikmalaya) sebagai basis dakwahnya. Pemilihan Sukapura didasari oleh faktor keamanan dari konflik politik serta hubungan kekerabatan dengan istrinya yang merupakan bangsawan setempat. Di wilayah yang dikenal sebagai “Karang” inilah ia mendirikan pesantren. Nama “Pamijahan” yang melekat pada daerah tersebut memiliki makna simbolis sebagai tempat penyemaian kader-kader santri, yang kelak menjadi penerus dakwah Islam di wilayah tersebut.
Dalam berdakwah, Syeikh Abdul Muhyi memilih jalur pendidikan (kultural) dibandingkan konfrontasi politik atau peperangan. Pendekatan ini membuatnya diterima dengan baik oleh berbagai kalangan, termasuk penguasa lokal. Sebagai menantu Dalem Sukapura, ia mendapatkan posisi terhormat sebagai mufti dan wilayahnya dijadikan daerah perdikan (bebas pajak). Selama kurang lebih 50 tahun pengabdiannya hingga wafat pada 1730, ia berhasil mencetak banyak ulama yang kemudian menyebarkan jaringan pesantren ke berbagai pelosok, menjadikan Pamijahan sebagai salah satu pusat spiritual dan keilmuan Islam yang paling berpengaruh di Jawa Barat.
Dadan Rusmana Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung