Resolusi Awal Tahun
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
UINSGD.AC.ID (Humas) — Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Takwa adalah bekal terbaik, bukan hanya untuk akhirat, tetapi juga dalam menata kehidupan dunia. Allah ﷻ berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”(QS. Ali ‘Imran [3]: 102).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pergantian tahun kerap dimaknai sebagai momentum percepatan: resolusi baru, target baru, dan optimisme baru. Namun, menyambut Tahun Baru 2026 dari pinggiran dari desa-desa yang jauh dari pusat kuasa kita justru diajak untuk melambat sejenak. Sebab, di sanalah talenta tumbuh dalam diam, bekerja tanpa sorotan, dan sering kali luput dari perhitungan pembangunan.
Memasuki awal tahun baru, biasanya selalu ada harapan baru untuk ditulis dan kesempatan dari hal-hal yang sudah kita rencanakan dalam memulai hal positif untuk tahun selanjutnya. Cara yang biasanya dilakukan untuk menemukan semangat dan perkembangan baru setiap tahunnya adalah dengan membuat resolusi realistis dan bermakna.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Resolusi merupakan putusan atau bulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat. Biasanya resolusi ditemukan dalam berita, namun resolusi yang dibahas sekarang adalah resolusi untuk diri sendiri saat pergantian tahun baru. Resolusi adalah putusan dan janji pada diri sendiri untuk melakukan sesuatu.
Islam memandang resolusi, atau dalam bahasa Arab disebut sebagai ‘azm (tekad kuat), sebagai sesuatu yang penting dan dianjurkan dalam Al-Qur’an dan ajaran agama]. Konsep ini didasarkan pada beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya:
Surah Ali ‘Imran (3:159): Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk bermusyawarah dalam urusan tertentu, dan apabila telah bertekad bulat, maka bertakwalah kepada Allah SWT. Ini menunjukkan pentingnya tekad yang kuat (‘azm) setelah melakukan pertimbangan matang .”…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Surah Yusuf (12:87): Dalam kisah Nabi Ya’qub AS, beliau berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah, yang secara implisit mendorong untuk terus berusaha dan memiliki tekad. “…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir” (QS. Yusuf: 87).
Disinilah Islam, mengajarkan resolusi harus dilandasi oleh niat yang tulus karena Allah SWT, disertai dengan usaha maksimal (ikhtiar), dan diakhiri dengan berserah diri kepada-Nya (tawakkal). Hal ini berbeda dengan sekadar janji kosong, karena resolusi dalam Islam memerlukan implementasi nyata dalam tindakan dan kehidupan sehari-hari, serta kesungguhan untuk memperbaiki diri.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Memasuki awal tahun 2026, banyak orang berbicara tentang resolusi rencana dan target hidup ke depan. Namun Islam telah mengajarkan jauh sebelum istilah resolusi dikenal: niat yang benar, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan istiqamah dalam kebaikan. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Resolusi tanpa niat yang lurus dan usaha yang konsisten hanyalah angan-angan. Maka awal tahun seharusnya menjadi momentum muhasabah, bukan sekadar pergantian angka. Tahun boleh berganti, tetapi yang terpenting adalah apakah kita ikut berubah menjadi lebih baik. Resolusi bukan untuk disimpan, tetapi diperjuangkan dengan doa dan ikhtiar.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberikan bantuan kepada kerabat. Dia (juga) melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pelajaran kepadamu agar kamu selalu ingat. (QS. An-Nahl [16]: 90).
Ayat sebelumnya menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah penjelasan, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri kepada Allah. Ayat ini kemudian mengiringinya dengan petunjuk-petunjuk dalam Al-Qur’an bagi mereka.
Petunjuk pertama adalah perintah untuk berlaku adil dan berbuat kebajikan. Allah menyatakan, “Sesungguhnya Allah selalu menyuruh semua hamba-Nya untuk berlaku adil dalam ucapan, sikap, tindakan, dan perbuatan mereka, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, dan Dia juga memerintahkan mereka berbuat kebajikan, yakni perbuatan yang melebihi perbuatan adil; memberi bantuan apa pun yang mampu diberikan, baik materi maupun non materi secara tulus dan ikhlas, kepada kerabat, yakni keluarga dekat, keluarga jauh, bahkan siapa pun.
Dan selain itu, Dia melarang semua hamba-Nya melakukan perbuatan keji yang tercela dalam pandangan agama, seperti berzina dan membunuh; melakukan kemungkaran yaitu hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai dalam adat kebiasaan dan agama; dan melakukan permusuhan dengan sesama yang diakibatkan penzaliman dan penganiayaan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Melalui perintah dan larangan ini Dia memberi pengajaran dan tuntunan kepadamu tentang hal-hal yang terkait dengan kebajikan dan kemungkaran agar kamu dapat mengambil pelajaran yang berharga.”
Pembelajaran Pertama, Meningkatkan Ketakwaan. Takwa adalah resolusi paling mendasar bagi seorang Muslim. Takwa bukan hanya di masjid, tetapi juga di tempat kerja, di rumah, di dunia digital, dan dalam setiap keputusan hidup. Allah ﷻ berfirman:
وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ
“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.”(QS. Al-A‘raf [7]: 26)
Takwa bisa bertambah dan berkurang. Ia tumbuh dengan ibadah, zikir, dan amal saleh, serta melemah karena maksiat. Karena itu, takwa harus dilatih setiap hari, sedikit demi sedikit, namun konsisten.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pembelajaran Kedua, Resolusi Akhlak. Rasulullah ﷺ diutus bukan sekadar membawa ritual, tetapi menyempurnakan akhlak manusia. Beliau bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).
Tahun baru seharusnya menjadi resolusi memperbaiki akhlak: jujur dalam amanah, santun dalam berbicara, bersih dari korupsi, narkoba, kekerasan, dan kezaliman. Krisis moral yang kita saksikan hari ini adalah tanda bahwa akhlak belum menjadi prioritas dalam hidup umat.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Pembelajaran Ketiga, Menjadi Pembelajar Abadi. Islam mendorong umatnya menjadi pembelajar sepanjang hayat. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُونُوا عُلَمَاءَ أَوْ مُتَعَلِّمِينَ أَوْ مُسْتَمِعِينَ أَوْ مُحِبِّينَ وَلَا تَكُونُوا خَامِسًا فَتَهْلِكُوا
“Jadilah orang berilmu, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu, atau pencinta ilmu, dan jangan menjadi yang kelima (tidak peduli ilmu), maka kamu akan celaka.” (HR. Al-Baihaqi).
Belajar bukan hanya untuk ijazah, tetapi untuk memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat. Umat yang berhenti belajar akan tertinggal dan mudah dikalahkan. Menjadi Manusia yang Bermanfaat; Puncak dari seluruh resolusi adalah menjadi manusia yang memberi manfaat. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Ath-Thabrani).
Apapun profesi dan peran kita, niatkan tahun ini untuk lebih bermanfaat, bukan sekadar lebih sukses secara pribadi.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sebagai penutup. Tahun baru seharusnya menjadi resolusi memperbaiki akhlak: jujur dalam amanah, santun dalam berbicara, bersih dari korupsi, narkoba, kekerasan, dan kezaliman. Krisis moral yang kita saksikan hari ini adalah tanda bahwa akhlak belum menjadi prioritas dalam hidup umat. Tahun boleh berganti, tetapi yang terpenting adalah apakah kita ikut berubah menjadi lebih baik. Resolusi bukan untuk disimpan, tetapi diperjuangkan dengan doa dan ikhtiar.
أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung