Pahala Amal di Waktu Sakit

Muslimah Berdoa di Masjid (Foto: Shutterstock.com)
Muslimah Berdoa di Masjid (Foto: Shutterstock.com)

 

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ صَحِيحًا مُقِيمًا

(رواه البخاري)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang hamba sakit atau sedang bepergian, maka dicatat baginya pahala seperti apa yang biasa ia kerjakan ketika sehat dan sedang menetap.” (HR. Shahih al-Bukhari)

Syarah (Penjelasan Hadis)

1. Makna Lafaz Hadis

Ungkapan Nabi ﷺ:

كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ

bermakna: dituliskan pahala secara sempurna, bukan sekadar sebagian. Artinya:

Sama jumlahnya. Sama nilainya. Selama amal tersebut biasa dilakukan ketika sehat dan terhalang karena udzur syar‘i (sakit atau safar), bukan karena malas atau sengaja meninggalkan.

2. Penjelasan Ulama

Menurut keterangan Imam an-Nawawi, hadis ini menunjukkan bahwa: “Barang siapa terbiasa melakukan amal ketaatan, lalu ia terhalang karena uzur, maka Allah tetap mencatat baginya pahala amal itu secara sempurna.”

Ini menegaskan bahwa nilai amal dalam Islam tidak hanya terletak pada gerak fisik, tetapi juga pada: Niat yang istiqamah. Kebiasaan amal saleh yang berkelanjutan.

3. Kaidah Fikih yang Dikandung

Hadis ini melahirkan prinsip penting:

الأَمْرُ المُسْتَمِرُّ يُعْتَبَرُ حُكْمُهُ حَالَ العُذْرِ

Maknanya, amal yang telah menjadi kebiasaan terus dihukumi berjalan pahalanya, meskipun pelakunya terhalang oleh kondisi darurat. Amal rutin di waktu sehat menjadi “aset pahala aktif” di waktu sakit.

4. Dimensi Ruhiyah dan Psikologis

Hadis ini memberi kekuatan batin bagi orang sakit: Tidak merasa terputus dari Allah; Tidak kehilangan nilai diri secara spiritual. Menumbuhkan harapan (raja’) dan ketenangan jiwa. Hadis ini Menguatkan resiliensi spiritual

Mencegah putus asa, Menjadikan sakit sebagai fase pemeliharaan pahala, bukan kehancuran ibadah.

5. Pendidikan Amal Jangka Panjang

Rasulullah ﷺ mendidik umat agar:

Tidak menjadikan ibadah sebagai aktivitas musiman, Membiasakan amal kecil tapi konsisten, Menjadikan ketaatan sebagai identitas hidup.

Amal yang tidak dibiasakan di waktu sehat, tidak akan “dihidupkan” pahalanya di waktu sakit.

 

Kesimpulan Tadabbur

Istiqamah di waktu sehat adalah investasi pahala di waktu lemah. Allah menilai kesetiaan amal, bukan sekadar kekuatan fisik.

 

S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *